Islam

Pemijahan ikan nila di dalam akuarium

Pemijahan ikan nila di dalam akurium pertama kali saya lakukan tahun 1994, pada saat penelitian tetraploidisasi pada ikan nila. Tujuan utama kegiatan ini adalah mendapatkan telur yang baru dibuahi karena akan digunakan dalam penelitian. Namun alhamdulillah, dalam perkembangan salanjutnya dapat pula memijahkna ikan nila secara buatan yang telur dan spermanya diperoleh melalui pengalinan (stripping).

Pemijahan ikan nila di akuarium

Pemijahan ikan nila secara alami sebenarnya relatif mudah. Bahkan ada kesan, dibawa sambil tidur saja mijah. Tidak salah sih, karena memang yang memijah ya ikan nilanya bukan? Beberapa penjelasan sederhana tentang pemijahan ikan nila akan saya coba jelaskan pada paragraf berikutnya.

Ikan nila memijah pada siang hari. Ini kaidah umum yang saya temukan selama mengamati pemijahan mereka. Namun demikian, mereka dapat pula diarahkan agar memijah pada malam hari (sampai isya yang saya ketahui dalam pengamatan selama setahun). Syaratnya, memainkan pencahayaan. Jadi, kondisi gelap-terang dapat mempengaruhi pola pemijahan mereka. Tidak aneh jika kemudian banyak penelitian yang berkaitan dengan menggunakan perlakuan gelap-terang ini.

Ikan nila jantan lebih cepat siap untuk memijah dibandingkan dengan betinanya. Bahkan rematurasi jantan juga lebih cepat dibandingkan nila betina pada ukuran dan umur yang sama. Sebagai contoh, ikan nila jantan ukuran sekitar 200 gram akan siap memijah kembali pada hari ke empat. Sedangkan ikan nila betina pada ukuran tersebut baru siap memijah kembali pada hari ke sebelas. Artinya recovery gonad jantan perlu waktu 3 hari, sedangkan betina 10 hari.

Ikan nila betina selama pemijahan dapat mengeluarkan telurnya sekitar 5-9 kali. Ini hitungan umum saja dari sekitar belasan kali saya amati. Lama pemijahan mereka sebenarnya tidak lama, yakni 9 – 15 menit hingga. Namun yang lama adalah masa penyesuaian dan kecocokan, alias masa percumbuan keduanya. Ini akan perlu waktu sekitar 4-5 jam. Selama percumbuan tersebut, baik nila jantan maupun betina akan secara bergantian membersihkan area tempat mereka memijah. Ini adalah spawning behavior mereka. Oleh karenanya, maka tak asing bagi kita bahwa di kolam tanah akan kita jumpai kubangan bekas mereka membuat sarang. Bahkan tingkah laku membersihkan dasar wadah pemijahnnya pun tetap terjadi walaupun wadahnya terbuat dari akuarium, bak ataupun hapa.

Jika akan memijahkan nila di dalam akuarium, perlu diketahui bahwa tidak setiap induk jantan yang kita pasangkan akan cocok dengan betinanya. Ketidakcocokan dapat disebabkan oleh level TKG yang berbeda. Jika jantan telah siap, maka dalam hitungan menit akan mengejar dan mencumbui betina. Jika betinanya belum siap, maka yang akan terjadi adalah pertengkaran. Jika hal seperti itu terjadi, maka pisahkan segera agar tidak menyebabkan luka pada keduanya. Pada pemijahan alami di kolam pun kejadian induk mati juga sangat mungkin untuk terjadi. Salah satunya karena ketidakcocokan selama pemijahan dan pertengkaran.

Sebenarnya, masih banyak hal yang dapat disampaikan berkenaan dengan pemijahan ikan nila. Namun demikian, saya cukupkan sekian ya. Untuk pembenihan ikan nila sudah sempat saya muat di artikel sebelumnya.  Terima kasih dan jangan lupa disimak videonya.

Kebebasan Finansial Rasulullah yang Patut Diteladani

Ada yang bilang bahwa Nabi Shallallahu`alaihi Wa Sallam itu miskin, tapi ada yang bilang ia kaya. Manakah yang benar? Saya pribadi memiliki banyak pertanyaan seputar kebebasan finansial Beliau yang mulia, Muhammad SAW. Dan jawabannya adalah, sejak usia 37 tahun. Semoga narasi selanjutnya akan menjadi ibroh atau pelajaran bagi kita sekalian atau generasi penerus kita. Aaamiiin yra.

Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam pernah mengalami masa kaya raya, biasa-biasa saja, sampai masa sulit sekalipun. Sehingga kita selalu bisa mengambil contoh. Yang dicontoh bukan kaya atau miskinnya, tapi kita teladani sikapnya ketika berkelimpahan, maupun saat kekurangan. Saat miskin, ia tetap sabar dan menjaga kehormatan, tak pernah meminta-minta. Bahkan perutnya pernah diganjal batu agar tetap tegak dengan perut kosong. Saat kaya raya, Rasulullah sedekah luar biasa sampai ada yang bilang “Ia memberi seperti orang yang tidak takut miskin”. Dalam kondisi biasa, ia hidup bersahaja walau sebagai kepala negara. Tidurnya pun di atas pelepah kurma yang berbekas di punggungnya.

Darimana Nabi Shallallahu`alaihi Wa Sallam mendapatkan penghasilannya? Dan dikemanakan saja hartanya?
Di usia 9 tahun pun ia sudah mulai menggembalakan kambing orang lain. Ia termasuk yang dipercaya oleh penduduk Mekkah kala itu. Di usia 12 tahun, Nabi Shallallahu`alaihi Wa Sallam sudah mulai berdagang dengan magang pada pamannya yang memeliharanya sejak orang tua dan kakeknya tiada. Di usia 17 tahun, beliau memutuskan untuk memulai bisnis sendiri karena pamannya mempunyai banyak anak dan kebutuhan. Jadi ia berdagang sendiri sejak itu.

Julukan al-Amin (yang dipercaya) diperolehnya dari mitra bisnis dan penduduk Mekah karena perilakunya yang terpercaya, tidak pernah bohong. Beliau sebagai mudharib (pengelola aset) dari para pemodal yaitu orang-orang kaya di Mekah dan mengelola harta anak yatim yang dikembangkan. Bukan cuma berdagang di Mekah, perdagangan internasional ke hampir seluruh semenanjung Arab juga dilakoninya pada usia masih sangat muda. Bisnisnya ini memegang peranan besar dalam dakwahnya nanti. Sifat jujurnya sebagai pengusaha menjadi modal besar dalam dakwah awal di Mekah. Wawasannya yang luas karena pengalaman bisnisnya pun memudahkannya dalam berinteraksi dengan objek dakwah dari negeri lain. Pernah pula seorang pendeta ahli kitab melihat tanda kenabian padanya saat perjalanan dagang dengan pamannya di usia remaja.

Saat mengelola bisnis Khadijah, beliau mendapatkan keuntungan sampai dua kali lipat dari pedagang lainnya, sampai diberikan bonus dan mendapatkan perhatian khusus. Khadijah mengutus orang lain untuk mengamati Muhammad, kenapa ia bisa untung besar dibanding pedagang lainnya. Muhammad adalah pedagang yang jujur dan amanah. Ia memeegang erat janjinya. Tak ikut-ikutan dan terpengaruh dengan pegadang lain yang berpesta untuk merayakan kesuksesan mereka. Hal itu menguatkan Khadijah untuk “bersinergi” secara bisnis maupun pribadi. Maka disampaikan maksudnya dan berjodohlah mereka. Bisnisnya, menguatkan perjodohannya, bukan sebaliknya, menikahi orang kaya buat melancarkan bisnis.

Di usia 25 tahun, beliau menikah dengan Khadijah dan memberikan 20 ekor unta dan 12 ons emas sebagai mahar (kalau dikonversi, nilainya sekarang ratusan juta). Menikahi orang kaya bukan berarti duduk santai. Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam justru makin giat usahanya sebagai laki-laki yang bertanggung jawab.

Bagaimana kehidupan finansialnya setelah itu?

Rasulullah sudah menggembala kambing dan berdagang sejak muda, serta mandiri di usia 17 tahun. Karena interaksinya sebagai pengusaha yang jujur dan tidak pernah bohong, ia dijuluki al-Amin oleh penduduk Mekkah. Ini sangat membantu dakwah beliau.

Usahanya yg membuahkan hasil besar dan akhlaknya yang mulia, menjadi modal awal “merger” secara bisnis dan pribadi dengan Khadijah, sebagai pemodalnya. Bisnisnya menguatkan dakwahnya, bukannya dakwah buat kepentingan bisnis. Bisnisnya menguatkan perjodohannya, bukannya berjodoh demi bisnis. Di usia 12 tahun, Rasulullah jadi employee, bekerja pada pamannya. Usia 17 tahun menjadi self-employed, menjadi manager bisnis dari pemodal. Di usia 25 tahun, beliau menjadi businessman. Berbisnis sampai usia 37 tahun. Usia 37 tahun, Nabi mulai mengurangi kegiatan bisnis dan banyak memikirkan masalah sosial kemasyarakatan serta menyendiri ke gua Hira. Sampai kemudian di usia 40 tahun beliau meneriwa wahyu pertama dan mendapatkan perintah untuk menyampaikan wahyu Ilahi. Pada usia 40 tahun ini, beliau diangkat menjadi Rasul. Beliau memulai dakwahnya secara tertutup. Setelah dakwah terbuka, pengikutnya bertambah, tapi yang menentang juga banyak. Sampai kemudian mendapatkan perintah untuk berhijrah. Hijrah dilakukan secara bertahap dan sembunyi-sembunyi, meninggalkan kehidupan dan harta di Mekkah demi menjalankan perintah-Nya.

Setelah hijrah, para muhajirin harus memulai kehidupan finansialnya dari nol kembali karena tak banyak harta yang dibawa. Langkah pertama yang dilakukan Nabi adalah mempersaudarakan muhajirin (pendatang) dan anshar (lokal) agar terbantu secara finansial. Setelah bangun masjid, pasar pun dibangun di Madinah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi juga harus diperhatikan. Sebelum pasar dibuka, para sahabat bukan sibuk promosi dan launching. Tapi sibuk bertaubat, karena taubat adalah salah satu pintu rezeki. Meskipun start dari nol setelah hijrah, banyak sahabat yang kaya dari berdagang dan juga perkebunan (properti). Incomenya sebagai kepala negara adalah dari hasil perang, zakat, pajak, dll yang sangat besar. Meskipun begitu, beliau memiilih untuk tetap hidup sederhana. Beliau shalat dengan khusyu’ walau setumpuk rampasan perang dikumpulkan di belakangnya. Setelah shalat, beliau berbalik sambil tetap duduk, membagikan semua harta tersebut dan tidak bangun berdiri sebelum semua hartanya habis. Sampai-sampai ada kepala suku yang berkata “Ia memberi seperti tak takut miskin” sambil mengajak sukunya untuk masuk Islam.

Di periode Madinah ini banyak aturan muamalat yang turun, yaitu larangan riba dan pola bisnis yang haram. Bahkan Rasulullah mengecek langsung di pasar. Tidak boleh mencampur barang kualitas baik dengan yang buruk. Penghapusan riba hutang, dll. Sebelum wafat, beliau menghibahkan harta untuk keluarga dan sedekah untuk dhuafa. Tidak meninggalkan harta waris.

Harta bukan tujuan hidupnya, ia menolak sogokan emas dari Quraisy. Meskipun begitu, kekuatan finansial tetap harus dimiliki agar bisa hidup mandiri. Tulisan ini saya adaptasikan dari satumedia.info

Kejujuran Imam Hanafi

Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Kejujuran Imam Hanafi

Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

“Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,” tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.

“Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.

“Berapa harganya?”tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.”Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

“Sayang sekali.”perempuan itu tampak kecewa.

“Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”

“Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja.”

“Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,”katanya.

“Tidak apa-apa, terima kasih,”sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya.

“Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal.”

“Memang, saya pun sangat menyukainya. ” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. “Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,”katanya lagi.

Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, saya akan menghadiahkannya untuk ibu,”kata Imam Hanafi.

“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”

“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.”Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.

“Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.

“Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.

Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

“Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,”kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.

“Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh.”sahabatnya sangat menyesal.

Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

“Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya, “ucap Imam Hanafi.

Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

“Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,”ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu di sudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.

“Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya? ” tanyanya.

“Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.

Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan di sudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.

Sebutir Kurma Penjegal Doa

Doa telah dipanjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun terkadang kita bertanya-tanya, mengapa doa tersebut seperti ada penghalang untuk dikabulkan? Artikel ini semoga menjadi ibroh untuk berhati-hati dalam hal makan.

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke Masjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak di dekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

Sebutir Kurma Penjegal Do’a

4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan di bawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.

Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doànya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doànya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doànya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara- gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astaghfirullahal adzhim” ibrahim beristighfar.

Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua, kemana ia sekarang?” tanya Ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma”, jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan?”

Lantas Ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.

“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas namakan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Dimana alamat saudara-saudaramu? Biar saya temui mereka satu persatu.”

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai
juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

4 bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada di bawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah Ibrahim bin Adham yang doànya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

“O, tidak.., sekarang doànya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? Lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu.

Pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum wafat

اللهم انا نسألك سلامة في الدين و عافية في الجسد و زيادة في العمل و بركة في الرزق, وتوبة قبل الموت و رحمة عند الموت و مغفرة بعد الموت و العفو عند الحساب و السلامة من كل اثم و الغنيمة من كل بر و الفوز بالجنة و النجاة من النار, اللهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها و أجرنا من خزي الدنيا و عذاب الآخرة

Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berpesan kepada malaikat Jibril. “Hai Jibril, jika kekasih-Ku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pesan Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam Sebelum Wafat

Di rumah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian Fatimah kembali menemani Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah wahai anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut pun datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata malaikat Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” tanya malaikat Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar bahwa Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata malaikat Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah SAW mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.

“Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)”. Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)”. Dan, berakhirlah hidup manusia yang paling mulia yang memberi sinaran itu.

Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa’alaihi wasahbihi wasallim. Ya Allah, Berikanlah untuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam derajat dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan.

Betapa mendalam cinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada kita ummatnya, bahkan di akhir kehidupannya hanya kita yang ada dalam fikirannya. Sakitnya sakaratul maut itu, tetapi sedikit sekali kita mengingatnya bahkan untuk sekedar menyebut namanya.