Jujur dalam memilih presiden dan wakil presiden dalam Pemilu adalan tulisan sederhana tentang luapan pemikiran saya berkenaan dengan pemilu dan memberikan penilaian terhadap kandidat capres-cawapres. Saya telah berusaha untuk meniadakan beberapa issue yang dimuat di beberapa media, yang boleh jadi masih jadi pemikiran sebagian dari Anda. Saya hanya akan mengambil contoh issue HAM dan issue korupsi. Dan saya sengaja mengabaikan issue pencitraan, karena; siapa sih kandidat yang sebenarnya tidak membutuhkan pencitraan? Yang salah itu, kalau pencitraan dilakukan dengan tujuan yang salah. Kalau tujuannya salah, maka metodenya akan salah. Kalau tujuannya salah, maka cara untuk mencapau tujuannya akan salah. Maka, tak ayal akan kita jumpai beberapa tindakan membenarkan segala cara hanya agar tujuannya tercapai; walau kadang dengan membodohi rakyatnya sendiri.

Jujur dalam memilih Presiden dan Wakil Presiden

Issue HAM adalah makanan yang enak untuk menjatuhkan seorang kandidat. Padahal kita tahu, bahwa ada proses hukum yang telah berjalan untuk menyelesaikannya. Namun, harus saya katakan; Bangsa Indonesia itu ibarat sedang bermain bola. Saking asiknya mengutak-atik bola, jadi lupa bahwa bolanya belum memasuki goal. Sering kita dapat beberapa masalah yang terkesan diambangkan; seakan-akan masyarakatnya tidak turut memperhatikannya.

Issue korupsi juga merupakan makanan enak untuk menjatuhkan seorang kandidat. Saking enaknya, maka kita dapat mengamati bahwa banyak kasus korupsi di Indonesia yang proses hukumnya sangat lambat atau terkesan lambat. Kalau pertanyaan sederhana saja diajukan, sejauh mana sih kemampuan telusur para aparat penegak hukum?

Beberapa kali debat capres-cawapres telah kita simak. Sebagian dari Anda pasti sudah dapat memberikan penilaian mengenai gaya debat (gesture, kenyamanan dalam berdebat, kelugasan bahasa yang digunakan, gaya penyampaian visi-misi, gaya bertanya, gaya mendebat, dan hal-hal lain yang menurut Anda tergolong kedalam gaya berdebat) dan kualitas materi yang disampaikan.

Setiap orang pasti berbeda dalam gaya berdebat. Banyak hal yang dapat mempengaruhi seseorang untuk sampai pada gaya berdebat yang efektif dan efisien. Dalam waktu yang relatif singkat, setiap kandidat tetap saja punya waktu yang sama dalam menyampaikan pesannya. Oleh karena itu, maka kunci utama dalam debat sebenarnya adalah bagaimana pesan yang disampaikan oleh kandidat tersebut sampai dan mempengaruhi pola pikir orang-orang yang menontonnya. Pada tahap ini, Anda bisa saja langsung mengajukan pertanyaan kepada anak Anda yang masih bersekolah SMP atau bahkan masih SD untuk membandingkan kedua kandidat.

Gaya debat dan kualitas materi yang disampaikan, adalah dua hal yang saling menguatkan. Gaya debat yang baik pastinya, juga dipengaruhi oleh seberapa dalam penguasaan kandidat terhadap materi yang diperdebatkan. Penguasaan materi ini memang perlu waktu; dan karenanya, maka para kandidat seharusnya sudah menyusun strategi bersama teamnya bagaimana mempersiapkan materi dan mempersiapkan kandidatnya. Sehingga, tidak ada alasan bahwa salah satu kandidat tidak siap atau tidak menguasai materi dan penguasaan materi debatnya. Saya katakan, Anda itu calon Presiden dan calon Wakil Presiden sebuah negera besar; bagaimana mungkin tidak mempersiapkan dengan baik?

Kualitas materi debat dapat diketahui dengan melihat seberapa penting suatu visi disampaikan dan bagaimana kandidat menyampaikan misinya. Penting atau tidak penting ini tentu saja harus berkaitan dan menyangkut negara yang akan dipimpinnya. Pada tahap ini, masyarakat pun dapat memberikan penilaian; bagaimana materi yang disampaikan kandidat benar-benar menyentuh dan menembus objek yang benar-benar menjadi kebutuhannya.

Mari bertanya kepada setiap kita masing-masing, kandidat dari pasangan nomor urut berapa yang sebenarnya Anda butuhkan dan Indonesia butuhkan. Penggunaan kata butuh, tentu saja bermakna bahwa apa yang disampaikan oleh para kandidat tidak hanya sekedar apa yang menjadi keinginan Anda; tapi lebih kepada kebutuhan orang-orang yang sama dengan Anda dan orang-orang selain Anda.

Kalau Anda jujur, maka sebenarnya Anda turut serta dalam perjuangan menjadikan negera Anda sendiri menjadi lebih baik. Siapa diantara pasangan kandidat yang akan menuntaskan persoalan HAM yang berlarut ini? Siapa diantara pasangan kandidat yang akan menuntaskan persoalan korupsi di Indonesia ini? Siapa diantara pasangan kandidat yang akan membawa kebangkitan ekonomi, kesejahteraan, kedaulatan bangsa, perbaikan pendidikan, kedamaian, kenyamanan dalam menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama masing-masing? Siapa diantara pasangan kandidat yang akan membawa Indonesia pada kejayaannya?

Pertanyaan demi pertanyaan di paragraf terakhir, sungguh adalah upaya kita bersama untuk tetap menempatkan kejujuran nurani setiap pribadi kita melebihi upaya demi upaya yang hanya akan menyeret kita pada ikut-ikutan atau taqlid buta.

Jujur dalam memilih Presiden dan Wakil Presiden
Tagged on: