AkuakulturKehidupanOpini

Akuakultur, pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan global

Pada 2015, negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyepakati 17 target yang dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (the Sustainable Development Goals, SDG). Tujuan-tujuan tersebut dirancang untuk memandu penduduk bumi ini ke arah yang akan mendukung generasi mendatang baik manusia dan hewan untuk hidup dan memenuhi kebutuhan mereka masing-masing dalam menghadapi perubahan iklim. PBB menggambarkan SDG sebagai ‚Äúseruan mendesak untuk bertindak oleh semua negara – maju dan berkembang – dalam kemitraan global”. Mereka menyadari bahwa mengakhiri kemiskinan harus berjalan seiring dengan strategi lain yakni meningkatkan kesehatan dan pendidikan, mengurangi ketimpangan dan memacu pertumbuhan ekonomi – sambil mengatasi perubahan iklim dan bekerja untuk melestarikan laut dan hutan kita.

Apa maksudnya, dan mengapa hal ini penting?

Hal yang ingin disampaikan dari semua target SDG tersebut adalah SDG pertama dan kedelapan. Seyogyanya keduanya dapat berjalan secara bersamaan – tidak ada kemiskinan dan pekerjaan yang layak serta pertumbuhan ekonomi. Untuk mencapai tujuan tidak adanya kemiskinan, maka perlu merangsang pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan pekerjaan yang layak, terutama di daerah pedesaan.

SDG pertama adalah untuk mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuknya. Orang-orang yang hidup dalam kemiskinan menghadapi kekurangan pada kebutuhan yang mendasar, dan seringkali diperburuk oleh konflik kekerasan dan kerentanan terhadap bencana. Ini membuatnya sangat sulit untuk keluar dari kemiskinan.

SDG No. 8 adalah untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan, penuh dengan pekerjaan yang produktif dan pekerjaan yang layak untuk semua. Semakin banyak peluang ekonomi, maka kemiskinan akan semakin rendah.

Kemiskinan global yang ekstrem telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, tetapi laju penurunannya melambat. Sistem perlindungan sosial yang kuat dan peran pemerintah adalah cara untuk membantu orang miskin tersebut untuk kembali mandiri. Untuk mengatasi sasaran-sasaran tersebut tentu saja diperlukan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan, juga untuk mencapai 17 sasaran SDG tersebut.

Bagaimana akuakultur dapat mengambil peran?

Akuakultur adalah salah satu solusi yang tepat dalam memerangi kemiskinan karena berbagai alasan. Hasil dari kegiatan akuakultur umumnya selaras dan bersinggungan dengan SDG No. 1 dan 8. Pertama, ketika orang tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan, makanan bergizi bisa sulit didapat. Akuakultur tidak hanya menghasilkan makanan bergizi secara lokal, tetapi juga mempekerjakan orang berekonomi lemah dalam prosesnya produksinya. Bisnis akuakultur terutama di pedesaan, dapat berkontribusi untuk tujuan-tujuan ini dengan menghasilkan pekerjaan dan makanan sehat.

Akuakultur diyakini dapat berkontribusi pada tataran sosial maupun ekonomi secara signifikan di masyarakat pesisir dan pedesaan yang biasanya peluang ekonominya cenderung terbatas, dan peran tersebut seringkali dapat mengangkat orang untuk keluar dari kemiskinan. Di distrik Mwenezi, Zimbabwe misalnya; ketersediaan lapangan kerja menurun karena perubahan iklim. LSM di sana bergerak untuk memperkenalkan dan menerapkan budidaya ikan di masyarakat dan apa yang terjadi kemudian? Meningkatnya ketahanan pangan, jumlah tenaga kerja lokal yang diserap juga meningkat serta pendapatan rumah tangga juga mengalami peningkatan.

Bagaimana memerankan akuakultur di Indonesia?

Seringkali saya menyampaikan bahwa pada dasarnya seorang pembudidaya ikan hakekatnya adalah sama dengan petani. Mengapa? Karena mereka adalah PEmegang Tonggak Agung Negara Indonesia. Kebutuhan dasar manusia secara jasmani adalah makan. Dan akuakultur dapat diperankan untuk sama pentingnya dengan sektor pertanian.

Dalam situasi sama-sama mengalami pandemi Covid19 sekian lama ini, banyak hal telah mengalami perubahan dan pergeseran. Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan berpola hidup sehat juga mengalami peningkatan. Namun di sisi lain, pandemi Covid19 juga telah merubah tatanan ekonomi beberapa kelompok masyarakat. Beberapa saudara kita mungkin juga mengalami pemutusan kerja karena kehidupan ekonomi di perusahaan di mana mereka awalnya bekerja sudah tidak mampu lagi untuk beroperasi atau mengurangi kegiatan produksinya.

Mungkin saja, data fix dampak pandemi belum dapat ditabulasi secara lengkap. Namun sebagai pemerhati kehidupan pembudidaya ikan melalui beberapa group di Facebook, dampak tersebut dapat pula saya rasakan. Respon masyarakat untuk berbudidaya ikan meski mungkin sekedar hobi atau iseng atau sekedar mengamankan kebutuhan pangan keluarga, semakin marak. Bahkan tidak sedikit yang telah secara serius menekuni bisnis akuakultur dan telah mengungkapkan keberhasilannya. Untuk tujuan lebih jauh dan jangka panjang, pendataan masyarakat terdampak Covid19 ini seyogyanya dilakukan secara serius agar peran akuakultur dapat diperankan secara tepat dan cepat. Karena bagaimana pun, kita mesti ingat juga bahwa pertanian-perikanan-peternakan adalah tiga serangkai solusi untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan pangan dan boleh jadi tidak akan lekang oleh waktu.

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button