Sharing is caring!

Area belajar budidaya ikan lele dengan sistem bioflok ini sebagai pengingat bahwa saya pernah di sini, sebagai pelajar. Hal yang kurindukan setiap saat sebagai pembelajar.

Sore itu sekitar pukul 3, alhamdulillah cukup cerah. Desiran angin membelaiku. Dan suara adzan itu terdengar cukup jelas pertanda bahwa hari sebentar lagi senja. Pertanda bahwa durasi video ini tidaklah lama. Rupanya seperti itu juga hidup dan kehidupan. Video sederhana lainnya tertera pada artikel ini.

Lele memang merupakan salah satu ikan banyak dibudidayakan di Indonesia. Tak perlu jauh-jauh berpikirnya, cek aja bagaimana pertumbuhan warung makan yang menyediakan ikan lele sebagai menu utamanya. Menurut data, produksinya tahun 2014 sekitar 12,75% lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Kalau kita simak, perkembangan teknologi budidaya ikan di Indonesia tergolong pesat. Berbagai upaya untuk masuk ke rana budidaya super intensif juga dilakukan. Namun demikian, perkembangan tersebut juga seringkali memiliki dampak negatif bagi kualitas lingkungan yang kemudian dapat mempengaruhi kesehatan ikan. Sampah organik dari sisa pakan, kotoran serta sisa metabolisme ikan merupakan beberapa penyebab menurunnya kualitas lingkungan.

Beberapa penelitian telah banyak memberikan informasi bahwa teknologi bioflok (dikenal sebai BFT) dapat dijadikan alternatif yang menjanjikan untuk mengatasi masalah dalam budidaya ikan. Teknologi ini telah diintroduksi ke Indonesia sekitar tahun 2003 (sudah cukup lama ya). Pada beberapa penelitian, penerapan BFT berperan untuk meningkatkan kualitas air, biosecurity, produktivitas, meningkatkan efisiensi pakan dan mengurangi biaya produksi melalui biaya pakan diturunkan (Burford et al 2004; Wasielesky et al 2006; Avnimelech et al 1994; Hari et al 2004).

Teknologi bioflok ini dapat diterapkan menggunakan penambahan karbohidrat organik ke dalam media budidaya ikan untuk meningkatkan rasio C/N sampai pada nilai yang ditentukan, dan dapat digunakan untuk merangsang pertumbuhan bakteri heterotrofik (Crab et al., 2007). Bakteri heterotrofik dapat dimanfaatkan untuk menyerap Total Ammonia Nitrogen (TAN) dalam air dan kemudian mengubahnya menjadi protein pada kondisi optimum rasio C/N untuk pertumbuhan bakteri (Avnimelech, 1999) yang kemudian membentuk bioflok tersebut. Menurut De Schryver et al. (2008) bioflok terdiri dari fitoplankton, bakteri, agregat makhluk hidup, bahan organik, kation dan sel-sel mati. Sampai di sini saya teringat juga bahwa ada juga yang berpendapat bahwa seharusnya dalam sistem bioflok itu tidak memungkinkan untuk tumbuh fitoplankton. Saya sebenarnya tidak sependapat, karena bagaimanapun fitoplankton sangat mungkin untuk ada dan berkembang; apalagi jika sistem budidaya ikannya di luar ruangan dan terbuka. Saya lebih tertarik pada filosofinya saja kenapa suatu sistem disebut dengan bioflok, sedangkan sistem lain tidak disebut demikian.

Mengingat bahwa judul artikel ini hanya ingin menayangkan area belajar budidaya ikan lele dengan sistem bioflok, maka saya merasa tidak perlu memperpanjang ceritanya. Bak bundar yang saya sebut sebagai bakbun dalam video ini lumayan banyak ya. He he he. Dalam bentuk gambar, kira-kira seperti di bawah ini.

Area belajar budidaya ikan lele dengan sistem bioflok

Sedangkan area belajar budidaya ikan dengan BFT kira-kira seperti gambar ini. Saya sangat bersyukur karena banyak guru yang membimbingku dalam pembelajaran ini. Terima kasih untuk para guru.

Area belajar budidaya ikan nila dengan sistem bioflok

Sharing is caring!

Area belajar budidaya ikan lele dengan sistem bioflok
Tagged on:     

Tinggalkan komentar

Beri komentar pertama!

Beritahukan
avatar
500
wpDiscuz