Akuakultur

Backcross pada ikan mas Majalaya F2 dan F5

I.     Pendahuluan

1.1.   Latar Belakang

Berdasarkan data permintaan induk dan calon induk tahun 2011 (Laporan Tinjauan Hasil 2011) nampak bahwa kegiatan pembudidayaan ikan mas di masyarakat menunjukkan adanya peningkatan. Namun demikian, di beberapa sentra produksi masih juga ditemukan kendala berupa serangan penyakit KHV. Di satu sisi, kondisi positif ini perlu mendapat perhatian serius melalui penyediaan induk dan calon induk berkualitas dengan sentuhan inovasi teknologi di dalamnya. Inovasi tersebut sangat memungkinkan sehubungan dengan telah disepakatinya Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi sebagai koordinator pemuliaan ikan mas nasional. Dan di sisi lain, daya beli masyarakat terhadap induk dan calon induk berkualitas masih relatif rendah.

Kegiatan inovasi dalam produksi calon ikan mas dalam tahun 2012 ini diharapkan menjadi sumbangan besar BBPBAT Sukabumi dalam menyediakan, mendistribusikan dan mendiseminasikan produk ikan mas yang dihasilkan untuk menunjang peningkatan produksi ikan mas di masyarakat. Dalam kegiatan ini kegiatan inovasi yang dilakukan adalah melalui penerapan backcross antara F2 dan F5 (resiprokal)

Backcross merupakan salah satu bioteknologi adaptif yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas genetik ikan mas. Dengan pendekatan ini, maka sangat terbuka peluang bahwa BBPBAT Sukabumi dapat menghasilkan ikan mas unggul dalam waktu relatif cepat. Strategi ini juga dipilih sebagai langkah penyelamatan plasma nutfah ikan mas Majalaya F2.

Backcross pada ikan mas Majalaya F2 dan F5

1.2.   Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi backcross ikan mas Majalaya F2 dan F5.

II.    Prosedur Kerja

Pelaksanaan kegiatan ini mengacu pada protokol pemuliaan ikan mas nomor 07 tentang persilangan antar strain dengan modifikasi pada jenis ikan mas yang digunakan. Matrik pemijahan antara Majalaya F2 dan F5 adalah sebagai berikut:

Matrix kegiatan backcross ikan mas Majalaya F2 dan F5 secara resiprokal

Diagram kegiatan backcross ikan mas Majalaya F2 dan F5 secara resiprokalGambar 1. Diagram kegiatan

2.1. Pemeliharaan Induk dan Pematangan Gonad

  1. Memilih 10 ekor induk jantan dan 10 ekor induk betina dari setiap strain terpilih, dan dipelihara dalam kolam/bak secara terpisah.
  2. Menebarkan dan memelihara induk selama 60-90 hari. Padat tebar untuk pemeliharaan di kolam air tenang, sebesar 1-2 kg/m2, sedangkan untuk pemeliharaan di kolam air deras sebesar 6-10 kg/m3.
  3. Menghitung kebutuhan pakan induk berdasarkan bobot biomassa.
  4. Memberikan pakan pada induk dengan dosis 3% dari biomassa/hari.
  5. Frekuensi pemberian pakan 3 kali/hari (pagi, siang dan sore).
  6. Melakukan pengontrolan kolam dan ikan setiap hari.

2.2. Pemilihan Induk Matang Gonad

  1. Pemilihan induk jantan yang matang gonad melalui pengamatan visual  terhadap tampilan bentuk perut dan warna pada bagian urogenital.
  2. Pemilihan induk betina yang matang gonad dapat dilihat dari bentuk perut membesar dan jika dipegang bagian perut akan terasa lembek. Induk betina matang gonad, juga ditandai dengan urogenital berwarna merah jambu.
  3. Induk betina dan jantan yang memijah, minimal 1 ekor betina dan 1 ekor jantan.

2.3. Perangsangan Ovulasi

  1. Memberok  induk  betina dan jantan matang gonad pada wadah terpisah selama 12-24 jam.
  2. Menyuntik induk betina dengan hormon perangsang ovulasi, dosis sesuai dengan jenis hormon yang digunakan pada bagian ujung bawah sirip punggung. Lama inkubasi setelah penyuntikan sekitar 10-12 jam.
  3. Melaksanakan pengontrolan air, oksigen dan kondisi lingkungan  lain.

2.4. Pengalinan, Pembuahan dan Penetasan Telur

  1. Setelah ovulasi, setiap strain induk betina dialin untuk mendapatkan telur. Telur yang diperoleh dari strain yang berbeda, ditempatkan dalam wadah yang berbeda.
  2. Mengambil sperma dari setiap strain jantan dan menempatkannya dalam wadah yang berbeda. Semua sperma diaduk secara perlahan dan hati-hati agar tercampur merata. Sperma dapat diencerkan terlebih dahulu sebanyak 50 kali, dengan cara mencampurkannya dengan larutan fisiologis 0,9%.
  3. Mencampurkan telur dan sperma sesuai dengan kombinasi yang tertera pada matrik pemijahan, yakni F22, F25, F52 dan F55. Setiap telur dari setiap kombinasi yang berbeda ditetaskan dalam wadah yang berbeda.

2.5. Pendederan

  1. Wadah pendederan pertama berupa hapa mesh size 1 mm berukuran 2x2x1 m. Jumlah larva yang didederkan di setiap hapa sebanyak 2.000 ekor. Lama pendederan selama 30 hari.
  2. Wadah pendederan kedua berupa hapa mesh size 5 mm berukuran 2x2x1 m. Jumlah benih yang didederkan di setiap hapa sebanyak 1.000 ekor. Lama pendederan 30 hari.
  3. Wadah pendederan kedua berupa hapa mesh size 5 mm berukuran 2x2x1 m. Jumlah benih yang didederkan di setiap hapa sebanyak 500 ekor. Lama pendederan 30 hari.
  4. Dosis pemberian pakan pada pendederan pertama, kedua dan ketiga secara berturut-turut adalah 20%, 10% dan 5%.

2.6. Pembesaran Tahap I

  1. Pembesaran hingga ukuran konsumsi dilakukan di hapa hitam ukuran 2x2x1 meter yang ditempatkan di kolam air tenang dengan padat tebar 200 ekor/hapa. Lama pemeliharaan 1 bulan.
  2. Dosis pemberian pakan adalah 5% bobot biomass per hari.

2.7. Uji performa

  1. Uji performa dilakukan dalam hapa 2x2x1 meter dengan padat tebar masing-masing perlakuan sebanyak 35 ekor per hapa. Jumlah ulangan adalah 3 kali.
  2. Pemberian pakan dilakukan secara satiasi.
  3. Selama kegiatan dilakukan sampling dan penghitungan pertumbuhan bobot, panjang, dan kelangsungan hidup.

III. Hasil dan pembahasan

Uji performa ikan backcross telah dilakukan sejak 8 September hingga 4 Desember 2012. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi persilangan terbaik antara ikan mas strain Majalaya F2 dan F5 (resiprokal). Pengkodean untuk pemijahan adalah A (F2xF2), B (F2xF5), C (F5xF2) dan D (F5xF5). Data hasil pengujian tertera pada Gambar 2 hingga 4.

Pertumbuhan panjang ikan mas Majalaya backcross dan kontrolGambar 2.    Pertumbuhan panjang ikan mas Majalaya backcross dan kontrol

Berdasarkan Gambar 2, nampak bahwa kombinasi perkawinan F5xF5 menghasilkan pertumbuhan yang terbaik dibandingkan dengan kombinasi perkawinan lainnya. Dan apabila mempertimbangkan nilai koefisien variasi dalam nilai pertumbuhannya, maka kombinasi C adalah yang terbaik (Tabel 1). Hal ini karena kombinasi C menghasilkan variasi terkecil dibandingkan dengan yang lain.

Tabel 1.   Koefisien variasi pertumbuhan panjang ikan mas Majalaya backcross dan kontrol

Koefisien variasi pertumbuhan panjang ikan mas Majalaya backcross dan kontrolPertumbuhan bobot ikan mas Majalaya backcross dan kontrol

Gambar 3. Pertumbuhan bobot ikan mas Majalaya backcross dan kontrol

Berdasarkan Gambar 3, bobot awal benih ikan yang digunakan relative seragam. Dari data pertumbuhan bobot, nampak bahwa kombinasi perkawinan D (F5xF5) menghasilkan pertumbuhan yang terbaik dibandingkan dengan kombinasi perkawinan lainnya, walaupun secara statistic tidak berbeda nyata diantara semua perlakuan. Kesimpulan ini pun didukung dengan nilai bobot rataan di akhir pemeliharaan dan kelangsungan hidup selama pemeliharaan, bahwa biomas terbesar pada saat panen dihasilkan oleh kombinasi D.

Kelangsungan hidup ikan mas Majalaya backcross dan kontrolGambar 4. Kelangsungan hidup ikan mas Majalaya backcross dan kontrol

Backcross antara Majalaya F2 dan F5 secara resiprokal, dimaksudkan untuk mengetahui kombinasi terbaik dari perkawinan tersebut. Jika F2 dikawinkan dengan F5 atau sebaliknya, maka ada sekitar 50% keragaman yang diturunkan kepada turunan berikutnya. Namun demikian; dengan perkawinan secara resiprokal, kita dapat membandingkan sekaligus mendapatkan gambaran secara tidak langsung kualitas genetik present stock induk terkini (F5). Kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai antisipasi terhadap makin menusutnya jumlah induk F2.

Berdasarkan data dari semua parameter pengukuran, dapat disimpulkan bahwa kombinasi pemijahan terbaik dihasilkan oleh perkawinan F5xF5. Hal ini menunjukkan adanya peran seleksi (selective breeding) terhadap performa benih yang dihasilkan.

Berdasarkan histori kegiatan pemuliaan, induk ikan mas Majalaya F5 dihasilkan dari pemijahan secara blending terarah (spread method dalam versi Adi Sucipto (2008) atau full factorial dalam beberapa buku rujukan). Dengan blending terarah ini, nilai Ne, effective breeding number dapat ditingkatkan hingga 400% atau empat kali lipat dibandingkan pemijahan blending biasa. Dan dengan demikian, nilai laju silang dalam (F) dapat pula ditekan hingga empat kali lipat lebih rendah.

KESIMPULAN

Secara deskripsi, performa ikan mas Majalaya F5xF5 adalah yang terbaik untuk performa pertumbuhan panjang dan bobot.  Hal ini juga menjawab adanya dugaan bahwa F5 akan mengalami kemunduran kualitas genetic dibandingkan dengan F2.

PUSTAKA

Bakos, J. And Gorda, S.  1995.  Genetic Improvement of Common Carp Strains using intraspecific hybridization in Aquaculture.  Volume 129.  p 183-186.

Beaumont, A.R., and K. Hoare. 2003. Artificial Selection in the Hatchery. In Biotechnology and Genetics in Fisheries and Aquaculture. Blackwell Science Ltd.

Bentsen, H.B., and Olesen, I.  2002.  Designing Aquaculture Mass Selection Programs to Avoid High Inbreeding Rates.  Aquaculture 204 (349-359).

Gjerde, B. 2005. Design of breeding programs. In: Selection and breeding program in aquaculture, 173 – 195. Gjedrem, T (Ed.). Springer.

Moav, R. 1976. Two-way selection for growth rate in the Common carp (Cyprinus carpio, L.). Genetics 82: 83-101.

Tave, D. 1995. Selection Breeding Programmes for Medium-Sized Fish Farms. FAO Fisheries Technical Paper. No. 352. Rome. 122 p.

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button