Analisa usaha pembenihan ikan mas

Analisa usaha pembenihan ikan mas ini hanya sebagai keisengan saya tentang pembuatan analisa usaha pembenihan ikan mas. Anda yang berniat membuka usaha pada segmen ini, semoga tulisan ini ada manfaatnya; walaupun saya anggap bahwa dalam beberapa hal kita dapat melakukan pendekatan berdasarkan postingan yang hampir serupa di dalam situs ini.

Adik-adik yang sedang melakukan praktek pembenihan ikan air tawar, setahu saya sering memerlukan analisa ini. Yang harus diingat adalah bahwa analisa ini adalah contoh saja. Jadi, adik-adik perlu menyesuaikannya dengan kondisi di lokasi praktek atau sebenarnya berapa kapasitas lahan yang akan digunakan.

Bagaimana kalau menerapkannya pada ikan jenis lain? Termasuk kategori itu, maka sesuaikan pula dengan jenis ikan yang akan dianalisa kelayakan usahanya. Harga induk biasanya berbeda-beda, tergantung jenis ikannya, di mana membelinya, dan lain sebagainya.

Kaidah umum dalam penulisan ini adalah bahwa harga-harga yang tercantum di dalamnya tidaklah bersifat mutlak. Namun gambaran yang saya berikan semoga dapat dijadikan patokan. Saya tidak melanjutkan analisisnya hingga biaya manfaat dan lain-lain. Beberapa tulisan terkait di situs ini semoga dapat membantu Anda melakukannya. Akhirnya saya berharap semoga tulisan ini bermanfaat.

Biaya invertasi
Biaya invertasi
Biaya variable
Biaya variable
Biaya tetap
Biaya tetap
Total biaya dan penjualan
Total biaya dan penjualan

Analisa usaha pembenihan ikan mas | Ilustrasi induk ikan mas matang gonad

Molting pada udang

Molting adalah proses pergantian cangkang pada udang (crustacea) dan terjadi ketika ukuran daging udang bertambah besar sementara eksoskeleton tidak bertambah besar karena eksoskeleton bersifat kaku, sehingga untuk menyesuaikan keadaan ini udang akan melepaskan eksoskeleton lama dan membentuk kembali dengan bantuan kalsium. Semakin baik pertumbuhannya semakin sering udang berganti cangkang. Inilah yang kemudian dikenal sebagai pertumbuhan.

Molting pada udang

Pertumbuhan adalah perubahan bentuk dan ukuran, baik panjang, bobot atau volume, yang secara fisik diekspresikan dengan perubahan jumlah atau ukuran sel penyusun jaringan tubuh dalam jangka waktu tertentu. Secara morfologi, pertumbuhan diwujudkan dalam perubahan bentuk (metamorfosis). Sedangkan secara energetik, pertumbuhan dapat diekspresikan dengan perubahan kandungan total energi (kalori) tubuh pada periode tertentu. Pertumbuhan larva dan pascalarva udang merupakan perpaduan antara proses perubahan struktur melalui metamorfosis dan ganti kulit (molting), serta peningkatan biomassa sebagai proses transformasi materi dari energi pakan menjadi massa tubuh udang. Pertumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal meliputi sifat genetik dan kondisi fisiologis dan faktor eksternal yakni berkaitan dengan lingkungan yang menjadi media pemeliharaan. Faktor-faktor eksternal tersebut diantaranya yaitu, komposisi kimia air, substrat dasar, temperatur air dan ketersediaan pakan.

Lama periode perkembangan stadia pascalarva udang ditentukan oleh waktu antar ganti kulit yang disebut juga periode intermolt. Semakin singkat periode intermolt maka perkembangan pascalarva cenderung semakin cepat. Pada setiap ganti kulit, intergumen membuka, pertumbuhan terjadi cepat pada periode waktu yang pendek, sebelum intergumen yang baru menjadi keras. Penjelasan secara sederhana mengenai ganti kulit pada udang mengikuti alur proses sebagai berikut:

  1. Mobilisasi dan akumulasi cadangan material metabolik, seperti Ca, P dan bahan organik ke dalam hepatopankreas selama akhir periode antar ganti kulit (intermolt akhir).
  2. Pembentukan kulit baru diiringi dengan resorpsi material organik dan anorganik dari kulit lama selama periode persiapan (awal) ganti kulit (premolt).
  3. Pelepasan kulit lama pada saat ganti kulit dan diikuti dengan absorpsi air dari media eksternal dalam jumlah besar (molt).
  4. Pembentukan dan pengerasan kulit baru dari cadangan material organik dan anorganik yang berasal dari hemolimfee (darah) dan hepatopankreas (sebagian kecil berasal dari media eksternal), yang terjadi pada periode setelah ganti kulit (postmolt).
  5. Pertumbuhan jaringan somatik selama periode setelah ganti kulit dan awal antar ganti kulit, fase dimana udang akan mengalami homeostasis kalsium yakni proses yang bertujuan untuk menyeimbangkan kandungan ion kalsium tubuh dengan ion kalsium diperairan (intermolt awal).

Secara umum, frekuensi pergantian cangkang akan selalu beriringan dengan pertambahan umur, pada juvenile terjadi setiap 10 hari, sedangkan setelah dewasa terjadi 4-5 kali setahun, ketika sudah menjadi induk dan pernah memijah biasanya melakukan molting 1-2 kali setahun.

Ada 2 faktor yang mempengaruhi molting pada krustasea yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal diantaranya; adanya stressor, nutrisi, photoperiod dan temperatur sedangkan faktor internal terkait dengan produksi hormon ekdisteroid dan Molt Inhibiting Hormon (MIH). Pelepasan hormone ekdisteroid oleh organ-Y yang bervariasi berdasarkan stadium yang dilaluinya dalam siklus ganti kulit dan juga tergantung pada kadar hormon ekdisteroid yang terdapat dalam hemolim.

Pengaturan kadar hormon ekdisteroid hemolim dapat dipengaruhi melalui beberapa lintasan. Penelitian terhadap organ-Y dengan cara in vitro memperlihatkan bahwa ekstrak tangkai mata dapat memperlambat atau menghentikan pelepasan hormone ekdisteroid. Berdasarkan sistem pengaturan kadar hormon ekdisteroid hemolim tersebut diatas dan hubungannya dengan MIH. Model sistem pengaturan neuroendokrin yang pernah diketahui adalah interaksi antara organ-X – kelenjar sinus dan organ-Y. Faktor lingkungan termasuk di dalamnya stres akan mengaktifkan neuron serotonergik tangkai mata yang merangsang kompleks sel-sel neurosekretori organ-X (XO) – kelenjar sinus (SG) untuk melepaskan MIH. MIH dalam hemolim berikatan dengan permukaan reseptor sel organ-Y yang menyebabkan adenilat siklase (AC) aktif dan mengubah ATP menjadi cAMP (siklik AMP). Produksi hormon ekdison dari kolestrol akan ditekan oleh cAMP. Pengaruh yang berlawanan ditimbulkan oleh kalsium (Ca) yang berikatan dengan kamodulin akan mengaktifkan enzim cAMP-fosfodiesterase membentuk 5 AMP, sehingga produksi ekdison dapat ditingkatkan kembali. Kenaikan kadar kalsium hemolim pada awal ganti kulit dan akan turun kembali pada saat ganti kulit, keadaan ini berhubungan dengan perubahan ekdisteroid hemolim.

Pustaka:

  1. Azis. 2008. Perangsangan Molting Pascalarva Lobster Air Tawar Jenis Capit Merah (Cherax Quadricarinatus, Von Martens) Dengan Perlakuan Suhu. Tesis. Program Studi Ilmu Perairan, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
  2. Beberapa sumber yang terkait dengan molting pada udang (crustacea)

Bioteknologi genetik dalam akuakultur

Fokus bioteknologi genetic dalam akuakultur adalah meningkatkan laju pertumbuhan, tanpa mengabaikan peningkatan ketahanan terhadap penyakit dan toleransi terhadap kondisi lingkungan. Saat ini, telah banyak sumbangsih perkembangan bioteknologi dalam akuakultur yang dapat diaplikasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat pembudidaya.

Bioteknologi genetik dalam akuakultur

Penangkaran selektif atau yang dikenal dengan selective breeding, merupakan contoh bioteknologi yang telah sangat lama diterapkan. Karenanya, teknik ini dikenal pula dengan istilah a traditional animal breeding. Namun demikian, apakah se-tradisional itu? Kalau istilah tradional ini dimaknai sebagai sesuatu yang sederhana, maka saya sendiri tidaklah menanggapinya demikian. Hal ini karena, justru teknik inilah yang hingga kini masih tetap diterapkan; baik sebagai awal pelaksanaan sebuah breeding program, maupun sebagai tahap lanjutan dari bioteknologi-bioteknologi lain yang muncul belakangan. Mas, merupakan contoh ikan yang paling awal dikembangkan dengan teknik ini –ribuan tahun yang lalu— dan kemudian menyusul ikan dari golongan catfish, trout dan tilapia. Sebagai hasilnya, program-program penangkaran selektif telah mampu meningkatkan pertumbuhan ikan sebesar 5-20% per generasi pada Atlantic salmon, catfish dan tilapia. Bagaimana dengan di Indonesia? Banyak jenis ikan potensial yang dapat dikembangkan dengan teknik ini; mas, nila, lele, adalah contoh yang saat ini sedang menerapkan konsep ini. Agar hasilnya sesuai dengan harapan, maka penentuan genetic gain, trait, kelengkapan sarana-prasarana, tenaga pelaksana, dana dan jejaring kerja (termasuk penyusunan breeding program); saya pikir adalah suatu hal yang tidaklah nisbi. Dan pelaksanaanya pun seyogyanya dimulai saat ini dan terus konsisten. Sebab kalau tidak, maka ketergantungan terhadap produk luar pasti tidak terelakkan.

Manipulasi set kromosom atau chromosome-set manipulation merupakan teknik yang dapat digunakan untuk memproduksi ikan triploid. Ikan hasil modifikasi set kromosom ini memiliki banyak manfaat untuk tujuan produksi. Walaupun tidak berlaku untuk semua spesies ikan, namun ikan triploid telah diyakini mampu melakukan efisiensi energi pada beberapa ikan budidaya. Dari tinjauan perkembangan gonosom, beberapa produk perikanan yang triploid bahkan mengalami steril hingga mendekati 100%.

Dalam akuakultur, suatu jenis kelamin seringkali lebih dikehendaki dibandingkan dengan jenis kelamin yang lain. Sebagai contoh, betina sturgeon dapat dimanfaatkan untuk memproduksi caviar, nila jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan betina dan betina trout dan salmon secara umum tumbuh lebih cepat dibandingkan jantan. Adanya realita sexual dimorphism ini tentu saja karunia Allah yang dapat ditindak lanjuti dengan kegiatan manipulasi pada tahap perkembangan gamet dan embrio. Manipulasi yang saya maksudkan adalah dengan teknik denaturasi DNA dalam gamet melalui manipulasi set kromosom atau dengan teknik sex reversal yang kemudian diikuti dengan penangkaran/breeding. Penerapan teknik hormonal ini mampu mengubah phenotype kelamin (fisik) pada beberapa spesies akuatik. Sebagai contoh, jantan nila dapat diarahkan menjadi betina secara fisik melalui penggunaan estrogen. Maka ”lahirlah” ikan nila yang secara genetik jantan, namun secara fisik adalah betina. Dan ikan ini dapat dipijahkan dengan betina normal untuk menghasilkan populasi all-male yang tumbuh lebih cepat dan sangat memungkinkan untuk terhindar dari pemijahan ’liar’ (seperti yang sering terjadi pada populasi campuran. Bahkan jika telah memiliki populasi jantan yang memiliki dua kromosom jantan (misalnya YY), maka populasi ini dapat dimanfaatkan untuk memproduksi generasi all-male tanpa menggunakan hormon lagi. Dan saya pikir, populasi inilah yang sangat dibutuhkan oleh para pembudidaya di tanah air (walaupun tentu saja masih sangat perlu kajian lebih lanjut; terutama karena seringkali, para pembudidaya di negeri ini masih kurang taat azas dan suka bikin aturan main sendiri). Lebih detail tentang masalah ini pada ikan nila, telah saya bahas dalam tulisan tentang breeding program produksi nila jantan.

Hibridisasi adalah contoh teknologi genetic yang sederhana. Meningkatnya pemahaman bahwa sinyal lingkungan seperti panjang siang (bagi negara dengan empat musim), suhu atau arus air dapat memainkan peran dalam reproduksi ikan, maka semakin terasa penting untuk melakukan breeding program. Anda pasti masih ingat bahwa Bangkok adalah sebuah kota di Thailand. Namun bagaimana dengan jambu, nila, pepaya atau patin bangkok? Ini masalah opini… Boleh jadi, bahwa tidak semua dari empat komoditas yang saya sebutkan ini dihasilkan di Bangkok. Boleh jadi komoditas itu dihasilkan di kota lainnya kan? Lalu bagaimana dengan produk perikanan Indonesia? Tidak ada ke-khasan di tanah ini. Negeri yang sebenarnya memiliki 13 jenis patin local; jauh lebih banyak dibandingkan Thailand yang hanya punya 3 jenis atau Malaysia yang punya 10 jenis. Negeri ini kaya, namun seperti belum siap untuk mengelola semua potensi yang dimilikinya. Maka jadilah kita sebuah negeri yang penuh potensi, sehingga tak ayal bahwa yang memanfaatkannya adalah negara lain. Anda pasti sepaham, bahwa air yang tenang pasti mengandung energi potensial; maka energi potensial itu dapat menjelma menjadi energi mekanik kalau ia dimanfaatkan… Ia bergerak…, dan negeri ini pun harus bergerak!

Seiring dengan perjalanan sang waktu, maka rekayasa genetic pun berkembang. Kita kemudian mengenal istilah GMO (genetically modified organism), istilah yang lebih dekat dengan sinonim gene transfer (misalnya, produksi ikan transgenik). Teknologi ini berkembang dengan cepat, banyak negara telah ambil bagian untuk melakukan dan mengembangkan teknologi ini. Bagi Indonesia? Indonesia pun tidak luput dari andil ini. Beberapa peneliti telah dengan tekun mendalaminya. Namun demikian, perkembangan ilmu ini patut pula jika diimbangi dengan aturan main atau bagaimana bentuk regulasinya. Saya cuma ingin menuliskan beberapa kata, sebagai penutup “GMO: how to regulate it wisely?”

Ikan transgenik
Ikan transgenik