Akuakultur

CN ratio dalam budidaya ikan sistem bioflok

Bismillah wahamdulillah. Allahumma sholli ala sayyidina muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain.

Saya mengenal istilah CN ratio itu kira-kira tahun 2003, dimana pada saat itu saya masih meriset budiddaya ikan nila. Dan dibenak saya itu sebenarnya masih banyak materi yang ingin saya sampaikan kepada kawan-kawan sekalian. Cuman terkait waktu, jadi mohon bersabar.

APA ITU CN RATIO ATAU RASIO CN

Jadi CN rasio itu atau rasio C dan N adalah rasio karbon dan nitrogen yang sebenarnya adalah proses bagaimana kita mengendalikan jumlah nitrogen dalam air. Dan rasio CN yang paling popular, yang biasa dipakai oleh beberapa peneliti itu 10 banding 1. Jadi C 10 dan N 1 begitu maksudnya. Kemudian 15 banding 1, bahkan ada yang sampai 20 banding 1. Artinya kalau rasio itu 10 banding 1, kita perlu menambahkan 10 sumber karbon ke dalam air di setiap satu N, 1 nitrogen. Nah pada kenyataannya dalam kegiatan budidaya, ini saya bahas agak detil memang di GoNila. GoNila itu kawan-kawan bisa akses di bit.ly/GoNila, itu saya coba cantumkan juga link-nya. Karena memang ini adalah core dari bagaimana kita memaintenance, kita mengelola sistem yang sedang kita kembangkan itu. Pada kenyataannya tadi, CN rasio itu dihitung berdasarkan persentase pakan. Artinya karena di pakan sudah ada N yang sering diperhitungkan itu, tapi pakan kan ada unsur karbon juga.

Seiring dengan mempertimbangkan kadar karbon di dalam pakan, kita juga bisa menganalisa lebih dalam, lebih detil tentang berapa sumber c yang harus kita masukkan kedalam media. Dan dalam hitungan saya itu GoNila itu, saya pun sudah memperhitungkan tentang penggunaan karbon itu menjadi sebentuk biaya operasional kan. Artinya, pertimbangan CN rasio yang pas itu, saya menggunakan berapa Pak Adi? Saya menggunakan CN rasio 8,2 pada kadar protein pakan sekian,kan begitu. Jadi pertimbangan CN rasio juga harus memperhitungkan berapa kadar protein dalam pakan.

DARIMANA CN RATIO ATAU RASIO CN ITU

Darimana sebenarnya cerita CN rasio ini? Itu juga sangat penting, jadi saya ingin bawakan, kawan-kawan sekalian. Awal cerita, ini ceritanya Doktor atau Pak Boyd. Barangkali temen-temen peneliti atau kawan-kawan yang sempat menginjakkan kuliah di kampus-kampus yang notabene berkaitan dengan kualitas air, saya yakin mengenal Pak Boyd. Pada tahun 2018, Beliau juga sempat menulis tentang rasio karbon nitrogen dalam pemupukan kolam dan sistem bioflok. Awal cerita penggunaan CN rasio sebenarnya, sudah dikenal luas dalam pemupukan tanah. Hal-hal yang dulu sering sekali dipakai dalam pemupukan kan kawan kenal mungkin menggunakan pupuk kandang ya. Berupa kotoran ternak gitu ya.

Seiring waktu kotoran ternak dipersyaratkan juga mempertimbangkan agar dia bebas misalnya Salmonella, bebas misalnya bakteri E. coli dan sumber-sumber bahan organik lain. Sehingga apa, penambahan pupuk tadi diharapkan mencukupi kebutuhan C di dalam tanah. Sehingga kalau di dalam sistem bioflok ini, kita mengenal rasio C dan N yang sesuai seperti apa? Nah kawan kawan sekalian. Bahwa rasio C dan N di tanah tadi, kisarannya berapa sebenarnya? Kalau di akuakultur kan, pemupukan tambak itu sekitar 6 banding 1 sampai 12 banding 1. Bahkan kalau pupuk organik, pupuk organik itu sebenarnya di pupuknya sendiri itu 10 banding 1 sampai 20 banding 1. Bahkan sampai 100 banding 1, seperti itu. Kalau CN rasio di pupuk itu 100 banding 1, kebayang bahwa kandungan karbon kan tinggi, sehingga penggunaan pupuknya menjadi menjadi lebih sedikit. Itu terkait apa? Efisiensinya juga. Efisiensi penggunaan material atau bahan. Diharapkan kesesuaian itulah yang kemudian bekerja juga di sistem bioflok ini.

Secara umum memang kalau dibandingkan CN rasio bobot kering, jadi unsur karbonnya bobot kering, itu kalau untuk bakteri 5 banding 1 sebenarnya. Jadi kalau kawan-kawan dulu mengenal menggunakan molase, 10 banding 1 atau 15 banding 1, itukan bobot basah ya; dengan kadar air sekian. Rata-rata itu lebih mungkin sekitar 50% itu air. Kemudian, 2018 saya memperkenalkan penggunaan gula pasir yang kadar airnya saya anggap itu sekitar 10 persen saja. Di situ kan ada delta. Jadi kalau gula pasir sekian, karena saya anggap bobot kering karena kadar kadar airnya kan relatif lebih sedikit daripada molase. Secara umum dan sederhana, bahwa penggunaan molase semisalnya 100 mililiter, saya menggunakan, memperkenalkan gula pasir itu kan hanya 50 gram, kan. Jadi hanya setengahnya. Dan rupanya perhitungan-perhitungan seperti itu juga dipakai meluas, saya bersyukur juga dipakai meluas sampai ke India segala macem. Bahkan di India itu sudah lengkaplah dengan kegiatan misalnya pelatihan dan sebagainya, itu dipakai. Nah itu kan baru hanya 2 bahan. Bahan lainnya kan banyak, bahan lainnya banyak. Dan di pertanyaan saya yang berikutnya itu, ada memang sumber karbon apa saja yang bisa dipakai. Kalau untuk bakteri tadi berat keringnya adalah 5 banding 1, ada juga yang menggunakan CN rasio itu jamur. Jamur itu sekitar 10 banding 1. Karena baik bakteri maupun jamur biasa dipakai untuk kegiatan pembusukan; terjadinya pembusukan itu perlu karbon.

CN RATIO DAN PRODUKTIVITAS IKAN

Dari pertanyaan keempat ini bagaimana efek CN rasio terhadap produktivitas, bahwa diawal cerita beberapa peneliti luar cenderung memberikan rasionya itu sampai 15 banding 1. Kemudian seiring waktu, kalau sudah terbentuk titik optimal. Titik otimal itu secara sederhana bisa diketahui dari berapa volume flok atau kemarin saya istilahkan settling solid ya. Saya perkenalkan istilah itu atau SS. Jadi jangan sampai salah tafsir. SS itu bisa settling solid, bisa juga suspended solid, begitu ya. Jadi itu mohon di perhatikan juga. C di dalam boflok itu untuk apa sebenarnya? Jadi baik C maupun N dalam CN rasio, kedua-duanya sebenarnya sangat penting dalam hal apa? Menstimulus, (menstimulus itu kalau bahasa kita merangsang ya) merangsang adanya produksi bakteri pengurai limbah di dalam sistem kita.

Jadi keberadaan C dan N disitu memang berkorelasi. Nah karbon atau c yang digunakan dalam sistem kita, sistem bioflok itu adalah sumber energi sebenarnya. Jadi menambahkan C itu adalah berarti menambahkan sumber energi ke dalam sistem. Dalam bahasa lain saya memperkenalkan istilah gaji. Jadi sumber C itulah gaji buat pekerja, buat karyawan, kalau bakteri bioflok itu kita anggap sebagai karyawan kita. Jadi wajar dia kita gaji secara berkala. Jadi bakteri bakteri heterotrof yang digunakan dalam sistem bioflok itu memerlukan karbon.

Prosesi pembentukan bioflok nya sendiri kalau di beberapa peneliti itu biasanya dijelaskan dalam dua fase. Jadi fase sampai mencapai mature, kalau saya memperkenalkan dengan optimal. Kemudian fase kedua adalah fase bagaimana memaintenance, merawat sistem. Jadi kalau singkat ceritanya ada fase dimana floknya terbentuk kemudian ideal. Ideal untuk spesies tertentu. Jadi ideal untuk nila, ideal untuk lele, ideal untuk udang, itu berbeda. Begitu kawan-kawan sekalian. Jadi karena masih ada yang bertanya, metode di GoNila bisa enggak secara serta-merta dipakai untuk lele? Itu relative berbeda. Saya ulangi lagi relatif berbeda. Begitu kawan-kawan sekalian.

CN RATIO DALAM TEKNOLOGI BIOFLOK

Saking pentingnya rasio antara C dan N itu, sehingga saya mungkin memandang perlu juga untuk menjelaskan juga, seperti apa sebenarnya cerita dari kenapa kok ada N masuk ke sistem kemudian perlu C tambahan, perlu gaji tadi ya. Jadi saya jelaskan mengacu kepada tulisannya Dr. Roselian Crab ya. Itu beliau di thesis atau disertasinya tahun 2010 sempat juga kawan-kawan bisa ikuti itu diskusinya. Itu saya coba cantumkan linknya. Jadi pada saat awal cerita kita menambahkan pakan ya, anggap misalnya N-nya 100% P-nya 100%. P itu fosfor ya. Kemudian diberikan ke ikan.

Yang pertama harus kita kenali sebenarnya N yang teretensi di ikan itu berapa persen, pada saat panen. Itu rata-rata sekitar 27 persen menurut Beliau. Artinya 73 persen N itu kemana? 73 persennya berarti dia masuk air. Artinya lebih banyak N yang masuk ke air daripada N yang dimanfaatkan oleh ikan. Kemudian ada di dalam tubuh ikan. Termasuk P-nya sendiri. P yang masuk perairan itu sekitar 76%. Kemudian, P-nya 24 persen. Pada gambar berikutnya, ini cerita ulangan karena dari situ kita akan tahu posisi N itu dimana. Makanya sering ada kita kenali istilah TAN. TAN itu adalah total ammonia nitrogen. Dan bentuk N lain yang ada di air juga kan bukan hanya itu saja. Ada kita kenal nitrit. Bukan hanya sekedar ammonia kan. Kemudian ada juga nitrat, kemudian N2 bebas.

Jadi saya jelaskan misalnya, pakan yang diberikan ke ikan itu tidak semuanya dimakan. Jadi kalau tadi cerita dimanfaatkan, sekarang cerita dimakan. Ada sebagian juga pakan yang masuk ke air langsung. Pakan yang dimakan oleh ikan juga ada sebagiannya berupa feses. Itu juga mengandung N. Baik pakan yang tidak sempat dimakan oleh ikan, feses, kemudian si ikan juga menghasilkan urine. Segala macam itulah total ammonia nitrogen. Singkat ceritanya begitu. Nah di gambar ini juga dijelaskan bahwa bentuk lain dari N, total ammonia nitrogen. Jadi bukan hanya sekedar amonik-N. N lainnya adalah berupa NO2 min, nitrit. Jadi kalau amoniak di urai, hasilnya apa? Nitrit. Itulah yang disebut dengan nitrifikasi. Dari nitrit menjadi apa? Nitrat, NO3 min. Dari nitrat bisa menjadi N2 atau N2 bebas yang bisa ke udara. Nah sekarang yang sering ditanyakan oleh kawan-kawan juga, diawal cerita dulu; Pak kalau pakai atap bagaimana? Kalau pakai atap bertati kan cahaya mataharinya berkurang. Tidak seperti kalau yang biasa, video-video terdahulu yang saya bawakan, itu kan tanpa atap. Jadi kalau tanpa atap, memang berpotensi cahaya matahari, intensitas daya matahari itu ya jatuh, masuk ke air. Artinya apa? Pasti ada kehidupan organisme perintis. Organisme perintis yang dimaksud apa? Tanaman. Berupa apa kalau dia mikro? Berupa fitoplankton. Itu adalah tanaman perintis sebenarnya. Jadi kehidupan pertama yang muncul di air akibat adanya cahaya matahari tadi, fitoplankton muncul. Nah fitoplankton biasanya itu memanfaatkan nitrat. Korelasinya apa kalau disini terjadi?

Korelasinya kalau nitrat tinggi, kemungkinan besar kehidupan fitoplankton di situ jadi semakin banyak sampai blooming, blooming fitoplankton. Jadi hijau. Nah sementara, harapan kita di bioflok itu, itu tidak terjadi kan. Jangan sampai ada nitrat. Boro-boro nitrat, nitrit pun jangan sampai ada. Kalaupun ada, dia masih dalam batas konsentrasinya itu, atau kandungan itu masih aman buat ikan. Artinya kalau semua pekerjaan, limbah tadi yang ada di sistem kita itu berupa amonia sudah dikerjakan oleh petugas, karyawan; maka potensi untuk menjadi nitrit kan menjadi sangat kecil. Begitu kawan-kawan sekalian. Prinsip sederhananya seperti itu.

Nah bagaimana sebenarnya aspek CN rasio ini dalam kegiatan sehari-hari. Jadi kawan-kawan peneliti di luar negeri itu intens sekali, termasuk misalnya kalau menggunakan sumber karbonnya A, CN rasio yang ideal itu berapa sih? Kalau menggunakan karbon B, CN rasio yang ideal seperti apa? Sementara saya juga tidak menampik misalnya realita kawan-kawan di YouTube itu pinginnya kan yang simple. Padahal sumber karbon kan bisa beragam-ragam, gitu ya. Bisa bermacam-macam, hehehe. Memang, disinilah tidak terlalu mudahnya menentukan specific data, nilai dari CN rasio. Jadi sebagian besar yang saya tangkap adalah berupa asumsi. Jadi asumsi yang dibangun untuk menyederhanakan masalah. Meskipun menurut saya, versi saya; asumsi itu muncul karena apa, ketidakmampuan kita menarasikan apa yang sebenarnya terjadi. Itu versi saya.

Kembali lagi ke pertanyaan saya tentang bagaimana efek CN rasio terhadap produktivitas. Bahwa CN rasio bagaimanapun berkorelasi terhadap produktivitas apa? Satu, produktivitas si mikroorganisme atau biofloknya. Itu satu. Yang kedua, kalau itu terjadi maka korelasi berikutnya adalah terhadap produktivitas ikan yang dipelihara. Dari mana itu? Itu perlu penjelasan lagi. Kenapa kok misalnya di bioflok itu cenderung FCR nya satu atau kurang dari 1. Karena memang ini penjelasannya panjang, agak detil juga bisa saya bawakan. Karena terkait apa? Terkait pelepasan kalor, sehingga suhu air menjadi relatif lebih stabil, maka ikan lebih nyaman. Sehingga energi yang dipakai oleh ikan untuk menyesuaikan terhadap perubahan suhu saja, satu item, itu menjadi lebih kecil kalor yang dikeluarkan. Itu juga sudah mengurangi penggunaan kalor dari tubuhnya, dari tubuh ikan terhadap perubahan suhu. Itu saja sudah sangat penting berkontribusi terhadap penurunan dari FCR tadi.

Kenapa saya anggap, saya sebutkan bukan satu-satunya penentu? Karena memang ada hal lain selain CN rasio tadi; bahwa pakan itu tidak sepenuhnya, sekian persen itu harga mutlak. Enggak. Karena pakan, kalau pakannya sesuai, maka potensi dia untuk teretensi ke ikan, menjadi lebih tinggi juga. Artinya makin efisien. Jadi tidak semua misalnya, pakannya 30% merek a, merek b;  boleh jadikan antara mereka A, merek B, merek C, walaupun sama-sama pakan 30% proteinnya, belum tentu kecernaannya sama. Mudah-mudahan maklum kawan-kawan.

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button