Akuakultur

Ikan Mas Hibrida Tahan Bakteri Aeromonas hydrophila

Sucipto, Adi., Ayi Santika, Nurly Farida dan Dwi Haniyanti. 2017. Produksi Ikan Mas (Cyprinus carpio) Hibrida Tahan Bakteri Aeromonas hydrophila. www.adisucipto.com/2017/01/produksi-ikan-mas-cyprinus-carpio-hibrida-tahan-bakteri-aeromonas-hydrophila

Abstrak

Dua jenis penyakit yang seringkali menyerang ikan mas berasal dari golongan virus dan baktrial. Dari golongan bakterial, adalah Aeromonas hydrophila. Bakteri Aeromonas banyak menyerang ikan mas (Cyprinus carpio) yang dibudidayakan dengan kepadatan tinggi.  Jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini adalah hemorrhage septicemia.  Kegiatan ini adalah untuk mengetahui tingkat ketahanan ikan mas hibrida yang positif membawa alel Cyca DAB I*05 terhadap kedua penyakit bakteri, khususnya Aeromonas hydrophila. Berdasarkan hasil uji tantang diperoleh hasil bahwa daya tahan benih hibrida MHC+ efektif untuk menanggulangi serangan akibat bakteri Aeromonas hydrophyla.  Berdasarkan hasil uji tantang ini direkomendasikan bahwa penggunaan benih hibrida yang membawa alel Cyca DAB I*05 dapat dilakuakn secara luas untuk kegiatan budidaya ikan mas tahan terhadap bakteri Aeromonas hydrophyla.

Kata Kunci: Ikan mas, MHC (Major Histocompatibility Complex), Aeromonas hydrophila, uji tantang, kohabitasi

I. LATAR BELAKANG

Dua jenis penyakit yang seringkali menyerang ikan mas berasal dari golongan virus dan baktrial. Koi Herpes virus (KHV) adalah viral disease yang menyebabkan kematian yang besar dan bersifat sporadis pada ikan mas dan koi. Virus herpes menyerang di semua umur, tetapi studi kohabitasi menunjukkan bahwa benih ikan lebih rentan terserang daripada ikan dewasa (Perelberg etal., 2003).

Sedangkan dari golongan bakterial, adalah Aeromonas hydrophila. Bakteri Aeromonas banyak menyerang ikan mas (Cyprinus carpio) yang dibudidayakan dengan kepadatan tinggi.  Jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini adalah hemorrhage septicemia.  Akibat dari penyakit ini pada ikan mas adalah warna tubuh ikan berubah menjadi agak gelap, terjadi luka dan berdarah, perut membesar (busung) dalam waktu yang tidak lama ikan yang terserang menjadi lemah dan sering nampak pada permukaan kolam dan ahirnya ikan tersebut mati.

Kegiatan ini adalah untuk mengetahui tingkat ketahanan ikan mas hibrida yang positif membawa alel Cyca DAB I*05 terhadap kedua penyakit bakteri, khususnya Aeromonas hydrophila . Oleh karena itu, maka uji tantang dalam perekayasaan ini sangat penting untuk dilakukan.

II. TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan hibrida yang tahan terhadap Aeromonas hydrophila dibandingkan dengan strain lokal.

III. METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat

Kegiatan ini dilakukan selama satu tahun anggaran dari Januari hingga Desember 2011 di areal perkolaman Pusat Induk Ikan Mas Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Sedangkan uji tantang Aeromonas hydrophila dilakukan di Karantina ikan Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan, diantaranya induk ikan mas strain Majalaya, Rajadanu, Punten, Cangkringan, Wildan, Sinyonya dan Szarvas, pakan induk, ragi, dedak, hormon perangsang pemijahan,  vitamin C, obat-obatan, dan pakan benih. Alat dan wadah yang digunakan berupa peralatan perikanan, timbangan digital, mistar, hapa pengujian berukuran (2x2x1)m3 mesh size 2 mm, akuarium, bakteri Aeromonas hydrophyla, alat suntik dan kolam beton seluas 300 m2.

3.3. Produksi Benih Hibrida

Produksi benih hibrida induk didasarkan pada prosedur operasional standar (POS) nomor 7 tentang persilangan antar strain ikan mas sebagaimana tertera pada Gambar 1.

Diagram persilangan ikan mas

Gambar 1. Diagram persilangan ikan mas

Secara garis besar, kegiatan yang dilakukan dalam memproduksi induk ikan mas populasi dasar sintetik yang tahan Aeromonas hydrophila antara lain 1) melakukan pemijahan secara outbread diantara semua strain lokal dengan strain Szarvas (6 kombinasi pemijahan unresiprocal), 2)  memelihara benih yang dihasilkan secara terpisah diantara masing-masing kombinasi pemijahan, 3) melakukan rancangan dan pelaksanaan uji tantang, 4) melakukan pendataan selama kegiatan uji tantang.

3.4. Langkah Kerja Uji Tantang dengan Bakteri hydrophila

Prosedur peningkatan virulensi bakteri

  1. Mengisolasi bakteri hydrophila dari ikan mas yang sakit (akibat infeksi bakteri A. hydrophila ).
  2. Menginokulasikan pada media agar dan inkubasi pada suhu 25-28oC selama 1 hari.
  3. Membiakkan dalam kultur murni.
  4. Reidentifikasi (sesuai dengan karakter awal).
  5. Membiakkan dalam kultur murni (bakteri yang sudah dikonfirmasi).
  6. Menyuntik ikan dengan suspensi bakteri (dari poin e) hingga timbul gejala klinis.
  7. Mengisolasi dan menumbuhkan bakteri dari poin f, selanjutnya disuntikkan kembali ke ikan mas (diulang sebanyak 3 kali).
  8. Membuat suspensi bakteri hydrophila dengan berbagai konsentrasi dari poin g.
  9. Melakukan uji penentuan dosis hydrophila dengan LD50
  10. Mendapatkan konsentrasi dosis hydrophila yang tepat dengan LD50.

Prosedur uji tantang

  1. Menyediakan ikan mas ukuran 5-8 cm yang akan diuji tantang dengan jumlah 30-50 ekor per populasi.
  2. Memeriksa status kesehatan ikan (butir a) dari infeksi parasit, virus maupun bakteri.
  3. Memastikan ikan yang akan diuji tantang tidak terinfeksi oleh parasit, virus maupun bakteri.
  4. Jika ikan terinfeksi parasit, maka ikan diobati dengan bahan kimia, sedangkan jika terinfeksi virus atau bakteri maka ikan tidak digunakan untuk uji tantang.
  5. Menyiapkan suspensi bakteri hydrophila LD50 yang telah melalui proses isolasi, peningkatan virulensi dan penentuan LD50.
  6. Menyuntik ikan mas dengan suspensi bakteri hydrophila dengan dosis 0,1 ml/ekor secara intramuskular.
  7. Mencatat gejala klinis dan kematian harian ikan mas selama 14 hari (sampai berhenti kematian ikan).
  8. Untuk memastikan kematian ikan disebabkan oleh infeksi bakteri hydrophila, ikan yang sekarat diambil dan dilakukan pemeriksaan bakteri.
  9. Mengkondisikan parameter kualitas air selama uji tantang optimum untuk pemeliharaan ikan.
  10. Memberi pakan komersial (kandungan protein 28%) secara adlibitum selama uji tantang.
  11. Ikan yang masih hidup diobati dengan antibiotik yang direkomendasikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB). Diagram uji tantang tertera pada Gambar 2.

Diagram Prosedur Uji tantang dengan Aeromonas hydrophylaGambar 2. Diagram Prosedur Uji tantang dengan Aeromonas hydrophila

Prosedur penentuan LD50

Prosedur penentuan LD50 untuk uji tantang dengan bakteri A. hydrophila adalah sebagai berikut:

  1. Aklimatisasi ikan uji yang akan digunakan selama 7 hari.
  2. Memasukkan ikan uji yang akan digunakan ke dalam wadah (minimal 10 ekor).
  3. Menyuntik ikan dengan suspensi bakteri secara intramuskular dengan dosis 0,1 ml/ekor menggunakan berbagai konsentrasi bakteri (102-109).
  4. Mencatat jumlah kematian ikan selama 14 hari (sampai berhenti kematian ikan).
  5. Melakukan analisis data.

Prosedur analisis data

Penentuan nilai LD50 menggunakan analisa probit dengan rincian sebagai berikut:

  1. Hubungan antara nilai logaritma konsentrasi bahan toksik dan nilai persentase mortalitas ikan uji adalah liniar, dengan fungsi Y= a + bx.
  2. Nilai LD50 diperoleh dari anti log m; m merupakan logaritma konsentrasi bahan bakteri hydrophila pada Y=5, yaitu nilai probit 50% ikan uji.
  3. Nilai a dan b diperoleh dengan persamaan berikut:

Rumus:

b    =    (Σ X*Y – 1/n (ΣX*ΣY))/ ΣX2 – 1/n (ΣX)2

a    =    1/n (ΣY – b*ΣX)

LD50 = anti log m;

m = (5 – a)/b

Keterangan:

Y   =    nilai probit mortalitas

X   =    logaritma konsentrasi bahan uji

n    =    jumlah perlakuan

a    =    konstanta

b    =    slope/kemiringan

m   =    nilai X, pada Y=5

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hingga hari 20 dalam pengamatan, tidak ada kematian pada ikan mas yang di uji tantang dengan bakteri A. hydrophila (Gambar 3).  Berdasarkan gambaran darah menunjukkan adanya perlawanan terhadap infeksi A. hydrophila yang ditandai adanya peningkatan jumlah leukosit (Gambar 4), dan kemudian terjadi penurunan yang menunjukkan tubuhnya sudah mampu melampaui infeksi A. hydrophila  tersebut yang ditunjukkan dengan derajat kelangsungan hidup (SR)100 % pada keenam perlakuan hibrida tersebut.

Grafik kelulushidupan ikan mas hibrida pada uji tantang A. hydrophyla

Gambar 3. Grafik kelulushidupan ikan mas hibrida pada uji tantang A. hydrophila

Total leukosit ikan mas hibrida yang terinfeksi A. hydrophyla dengan metode kohabitasi selama uji tantang

Gambar 4. Total leukosit ikan mas hibrida yang terinfeksi A. hydrophila dengan metode kohabitasi selama uji tantang

Hasil pengamatan kadar hematokrit (Gambar 5), terjadi adanya pola penurunan pada hari ke-0 hingga hari ke-7 masa infeksi Aeromonas ini menunjukkan bahwa imun pada seluruh perlakuan relatif tidak dapat mengatasi infeksi KHV pada tubuh. Terjadinya penurunan nilai hematokrit juga dapat mengindikasikan ikan dalam keadaan anemia. Atau diduga bahwa indikasi anemia terlihat dari menurunya nilai hematokrit pada ikan mas yang terinfeksi disebabkan oleh adanya pendarahan yang terjadi akibat infeksi sehingga imun pada tubuh ikan tidak mampu mengatasinya.

Kadar hematokrit ikan mas hibrida yang diinfeksi A. hydrophyla dengan metode kohabitasi selama uji tantang

Gambar 5. Kadar hematokrit ikan mas hibrida yang diinfeksi A. hydrophila dengan metode kohabitasi selama uji tantang

Setelah hari ke-7 masa infeksi, hampir seluruh perlakuan mengalami peningkatan nilai hematokrit yang juga dapat diindikasikan bahwa sudah terjadi pemulihan pada sistem imun ikan terhadap adanya infeksi KHV. Sedangkan pada perlakuan ZP pada hari ke-7 masih mengalami penurunan nilai hematokrit. Penurunan nilai hematokrit pada perlakuan ZP di hari ke-7 ini mengindikasikan bahwa sistem imun pada perlakuan tersebut belum juga mampu untuk mengatasi infeksi Aeromonas hydrophila.

V. KESIMPULAN & REKOMENDASI

Dari hasil uji tantang ini disimpulkan bahwa daya tahan benih hibrida MHC+ efektif untuk menanggulangi serangan akibat bakteri Aeromonas hydrophila.  Berdasarkan hasil ini, dapat direkomendasikan bahwa penggunaan benih hibrida yang membawa alel Cyca DAB I*05 dapat dilakuakn secara luas untuk kegiatan budidaya ikan mas tahan terhadap bakteri Aeromonas hydrophila.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson DP 1992. Immunostimulants, Ajduvants and Vaccine Carrier in Fish: Application to Aquaculture. Ann. Rev. Fish Dis 2: 281-307

Gray, W.L., Mullis, L., LaPata, S.E., Groff, J.M., Goodwin, A. 2002. Detection of Koi Herpes Virus DNA in Tissues of Infected Fish. Journal of fish Diseases. Vol. 25, no. 3

Yosha, S. 2003. Update On Koi Herpes Virus (KHV) For Thee Koi Hobbyist. Lakeland, Florida. www.AKCA.org

Haenen O , 2003. Global Occurance of KHV. Modified Abstract of Lecture at The Institut fur Zoologie,Fischereibiologie und Fischkrankheiten, University of Munich, Germany. 5 ps

Hendrick RP, Gilad O, Yun S, Spangenberg JV,2000. A Herpes Virus Associated with Mass Mortality of Juvenile and Adult Koi, a Strain of Common Carp.  Aquatic Animal Health 12 : 44-57

Hubert, J.J. 1980. Bioassay. Kendall/Hunt Publishing Co. Toronto, p.164

Ornamental Aquatic Trade association (OATA) , 2001. KOi Herpes Virus (KHV). United Kingdom. 33 hal

Perelberg A, Smimov M, Hutoran M, Diamant A, Bejerano Y, Kotler M, 2003. Epideiological Description of New Viral Disease Affecting Cultured Cyprinus carpio in Israel

Rastogi , S.C 1977. Essential of Animal Physiology. Willley Easterm Limited, New Delhi, Bangalore, Bombay, Calcuta p : 204-223

Symposium on Diseases in Asian Aquaculture, 24-28 November 2002, Gold Cost, Australia

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button