Akuakultur

Kematangan oosit dan maturation promoting factor

Perkembangan dan kematangan oosit dalam siklus sel miotik

Oosit dihasilkan di dalam ovari mulai dari perkembangan oogonia secara mitosis menjadi miosis. Pada hewan bertulang belakang, termasuk ikan-ikan; oosit berhenti berkembang saat profase I. Saat itu perkembangan oosit ditandai dengan adanya akumulasi beberapa unsure pokok seperti kuning telur dan mRNA yang sangat penting selama tahap awal perkembangan embrio. Pada profase I ini, kondisi oosit belumlah matang dan belum dapat dibuahi, hatta kalaupun mereka sudah berkembangan secara penuh. Adanya rangsangan hormonal, memungkinkan oosit untuk memulai lagi miosis hingga metaphase II dimana miosis kemudian berhenti lagi. Saat metafase II ini, kondisi oosit sudah dapat dikatakan matang (dikenal sebagai ova atau telur) dan dapat berkembang lebih lanjut menjadi embrio jika dibuahi. Proses dari profase I hingga metaphase II dikenal dengan kematangan oosit dalam ilmu biologi atau kematangan akhir oosit dalam ilmu perikanan (Gambar).

Selama perkembangan menuju kematangan, oosit mengalami perubahan morfologi yang pesat sejalan dengan perkembangan miosis. Hal ini meliputi terjadinya kondensasi kromosom, germinal vesicle breakdown (GVBD), dan “loncatan” polar body I. Germinal vesicle (GV) dan inti telur umumnya berada di tengah oosit. Sebagai respon adanya rangsangan hormonal, ia kemudian berpindah menuju animal pole, dimana GVBD berlangsung. GVBD inilah yang seringkali dianggap sebagai tanda kematangan oosit.

Aktifitas hormon dalam vitelogenesis pada kematangan oosit dan maturation-promoting factor

 Perkembangan Oosit, kematangan oosit, dan miosis. Singkatan: GV – germinal vesicle; GVBD – germinal vesicle breakdown.

 

GTH-MIH-MPF

Kematangan oosit dapat dirangsang dengan beberapa cara; gonadotropic hormone (GTH) yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari, maturation inducing hormone (MIH) yang disintesis di dan disekresikan dari sel folikel oosit, dan maturation-promoting factor (MPF) yang diproduksi dan diaktifkan di dalam sitoplasma oosit. Sebagaimana pada mamalia, yang memiliki dua GTH (LH dan FSH); GTH memiliki dua tipe pada ikan (GTH I dan GTH II). GTH I bertanggung jawab atas perkembangan oosit, dan GTH II bertanggung jawab atas kematangan oosit, menstimulir folikel sel untuk mensintesis dan mensekresikan MIH.

MIH adalah steroid yang berinteraksi dengan membran reseptor pada permukaan oosit. Sejak identifikasi pertama terhadap 17α,20β-dihydroxy-4-pregnen-3-one (17,20βP) sebagai sebuah MIH pada amago salmon Oncorhynchus rhodurus, steroid ini dilaporkan sebagai MIH alami pada ikan lain : Indian catfish, killifish, medaka, yellowtail dan chub mackerel. Turunan dari 17, 20βP (17α,20β,21-trihydroxy-4-pregnen-3-one (20β-S) ) juga diketahui sebagai MIH alami pada beberapa ikan: Atlantic croaker, spotted seatrout, striped bass dan puffer fish. Baik 17,20βP maupun 20β-S beraksi sebagai MIH pada kyusen wrasse dan red seabream.

Sinyal MIH diterima oleh permukaan oosit kemudian diteruskan ke sitoplasma, yang akhirnya mengaktivasi MPF. MPF pertama kali dimurnikan dari oosit African clawed frog Xenopus laevis dengan panjang 200 kDa yang mengandung protein berukuran 32 dan 45 kDa. Protein 32 kDa protein merupakan homolog Xenopus Cdc2, protein serine/threonine kinase yang dikodekan oleh fission yeast Schizo saccharomyces pombe cdc2+ gene, dan protein 45 kDa merupakan konterpart dari Xenopus Cyclin B, yang pertama kali ditemukan pada embrio invertebrate air laut. MPF juga dimurnikan dari oosit ikan bintang dan ikan mas, Cyprinus carpio dan telah ditetapkan bahwa MPF merupakan struktur molekul  universal sebagai senyawa dari Cdc2 dan Cyclin B pada beberapa spesies (Cdc2 juga ditetapkan sebagai Cyclin-dependent kinase1, Cdk1).

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button