AkuakulturTech

Masalah dan solusi dalam budidaya ikan lele bioflok

Kini saatnya, saya coba untuk sampaikan beberapa hal terkait dengan budidaya ikan lele atau pembudidayaan ikan lele, khususnya yang terkait dengan teknologi bioflok pada ikan lele. Apa yang sebenarnya menyebabkan masalah demi masalah hari-hari bertahun-tahun ini?

Masalah dan solusi pertama: Sumber daya manusia

Sumber daya manusiaPermasalahan pertama kalau versi saya, Adi Sucipto ini adalah sumber daya manusia. Sumberdaya manusia maksud saya apa? Satu, pemahaman mendasar terhadap teknologinya yang belum pas. Yang kedua, sudahlah teknologinya mungkin belum dipahami dengan tepat, kemudian dia praktek. Mungkin bisa saja melihat tetangganya yang sudah berbudaya, mungkin saja berhasil, kemudian dicoba menerapkan. Sementara tetangganya mungkin menginformasikan teknologinya mungkin sepotong-sepotong atau bahkan sama sekali tidak tidak disharing. Sehingga kemajuan teknologi itu menjadi terhambat di satu atau beberapa orang, itu yang pertama.

Jadi SDM atau sumberdaya manusia sehingga sorry to say (mohon maaf) kalau ini harus saya sampaikan. Bahwa kompetensi sumber daya manusia yang belum memadai itu dapat menyebabkan beberapa hal juga. Satu misalnya kurang cermat untuk melihat perubahan kualitas air saja misalnya, itu satu. Yang kedua kurang cermat dalam memahami bagaimana perubahan kondisi ikan yang kita budidayakan.

Nah itu semua dapat menyebabkan terpengaruhinya tingkat keberhasilan dari kegiatan budaya kita, itu pertama. Sehingga melalui video ini saya berharap bahwa, ya inilah upaya saya melalui channel atau akuakultur Indonesia ini untuk barangkali bukan sosialisasi karena memang sudah lama ini tersosialisasi. Barangkali sharing ulanglah ya. Sehingga gairah kawan-kawan untuk berbudidaya ikan itu meningkat lagi.  Kemudian yang kedua, terkait dengan pemahaman biologi ikan.

Jadi tatkala saya perkenalkan dulu bioflok 651 pada ikan nila, jadi pahami dulu seperti apa sih ikan nila itu. Nah kalau pada ikan lele seperti apa ikan lele itu. Nah saya memasukkan satu video di Youtube mengenal hal ini, silahkan disimak. Dan di video tersebut, saya ingin menjelaskan bagaimana memperlakukan lele itu di awal sebelum tebar. Itu memang harus dikondisikan, harus sehat. Jadi tatkala temen-temen nanti mendapatkan benih ikan lele dari pembenih lain yang tidak dihasilkan sendiri, membeli dari luar yang mungkin saja jauh. kadang-kadang kan beda suhunya. Jadi beberapa hal itu memang harus dikondisikan dulu. Jadi kondisikan lelenya sebelum masuk ke media bioflok.

Masalah dan solusi kedua: Lele menggantung

Kemudian permasalahan yang kedua, adalah kondisi dimana lele menggantung. Lele menggantung itu dipicu awalnya oleh kualitas air yang kurang baik atau memang benihnya sudah membawa penyakit; sedangkan benih tersebut belum menunjukkan bahwa dia terserang penyakit. Bakteri apa yang umum kalau lele menggantung? Itu dari jenis Flexibacter columnaris. Kalau di media sudah ada bakteri merugikan tadi, makanannya pun ada, dia akan mendominasi. Sering saya sampaikan bahwa berbicara bioflok, berarti berbicara dominansi bacteria. Karena kita secara sengaja memasukkan bakteri ke dalam media, media pemeliharaan.

Nah apa yang kemudian bisa kita lakukan kalau begitu? Jadi, satu pastikan bahwa kondisi benihnya sehat. Jangan lupa yang kedua, lele di air bening itu, pasti stress. Di air bening saja lele itu stress, karena benih sebelumnya kan tidak di air bening, tapi di air yang mungkin sudah kehijauan; pekat kadang-kadang.

Masalah lele menggantung

Masalah dan solusi ketiga: Probiotik tidak sesuai

Permasalahan ke tiga, probiotikya tidak sesuai. Betapa sejak 2015, 2016, 2017, kita diperkenalkan dengan bakteri-bakteri Lactobacillus misalnya, yang secara fungsi dia main di intestine pencernaan kita. Itu terkait probiotik yang tidak sesuai. Nah di luar negeri memang (di salah satu jurnal yang saya baca) sudah ada 125 bakteri yang sudah mereka isolasi. Isolasi itu maksudnya dipilih, bukan isolasi mandiri ya. Dipilih memang, kemudian diperbanyak, entah itu pakai media agar. Kemudian sembilan diantaranya itu memang diambil dari media bioflok, begitu. Dan jenis-jenisnya ini saya cantumkan di gambar ini.

Maslah probiotik tidak sesuaiDan khusus pada lele lele itu produksi, maksudnya potensi untuk terjadinya nitrit termasuk nitrat, tinggi; itu sangat luar biasa. Khususnya pada jam-jam sekitar 02.00 – 04.00 sore. Kenapa? Karena produksi air kencing (menurut penelusuran saya) lele pada saat 02.00 sampai jam 04.00 sore itu tinggi luar biasa. Jadi kalau pada saat itu ngasih makan, apa yang terjadi? Penumpukan amonia termasuk masuk nitritnya.

 

Masalah dan solusi keempat: Aerasi kurang dan atau tidak merata

Masalah aerasi kutrang pada leleAerasi kurang dan atau tidak merata. Ini kejadian mungkin kejadian pada tahun-tahun terdahulu. Sekarang, saya yakin teman-teman sudah memperhatikan aerasi ini. Pokoknya kata pak Adi aerasinya harus bagus, ok mantap. Nah aerasi yang kurang itu maksudnya perlu diperhatikan begini nyambung ke gambar sebelumnya. Kalau potensi nitrit tinggi, artinya selama pekerjaan itu ada di fase amonia, berarti bakterinya kurang mungkin. Satu bakteri kurang, bakteri kurang berarti bisa diketahui dari apa? Volume floknya kurang. Atau yang kedua, floknya cukup pak tapi bakterinya tidak sesuai. Jadi bakteri untuk bioflok nila itu, tidak sekonyong-konyong bisa dipakai untuk lele. Kenapa? Nyambung lagi lah ke ilmu biologi tadi di awal. Lele itu karnivora, nila itu omnivore.

Nah kalau aerasi misalnya kurang atau tidak merata, beberapa hal yang terjadi mungkin saja ada pengendapan di bagian bawah atau dasar dari wadah kita; entah itu berupa kolam, entah itu bak bulat. Jadi bak bulat itu bukan kolam, bak bulat saja. Kenapa sih susah bilang itu bak ya. Kemudian oksigen tentu saja akan terkoreksi, akan menurun; termasuk kelarutannya. Kalau aerasinya kurang, kecilkan? Dia sementara mengagitasi fungsinya, menambah oksigen karena ada oksigen dari udara masuk ke situ. Makanya terjadi apa? DO menjadi kurang. Kalau nitrit tinggi, DO juga tinggi; maka nitrit itu akan mengganggu sistem insang ikan untuk menyerap oksigen terlarut. Kenapa juga tetap akan teler juga si lelenya. Jadi meskipun DO tinggi, tapi nitrit tinggi; maka yang terjadi adalah penyerapan oksigen oleh Hb akan terganggu. Nah kalau Hb-nya sendiri terhalangi penyerapan oksigennya oleh nitrir, maka dia akan megap-megap juga meskipun air setinggi. Oke begitu ya.

Masalah dan solusi kelima: air media bau

Kemudian air media bau. Air media bau ini saya kira beberapa tahun lalu juga. Meskipun mungkin saja sekarang teman-teman masih mengalami hal seperti ini. Air bau itu awalnya apa? Pasti DO-nya rendah. DO rendah bisa disebabkan oleh apa? Mikroorganisme yang memanfaatkan oksigen itu sangat tinggi. Ini yang saya sebut sebagai BOD, biochemical oxygen demand. Jadi permintaan oksigen untuk reaksi microorganisme tadi bertambah, termasuk COD, jadi permintaan untuk reaksi-reaksi kimia juga terjadi sangat tinggi di media kita. Kalau DO-nya, anggaplah mendekati satu atau dibawah satu, cenderung akan bau; karena apa cenderung akan terjadi proses anaerob.

Masalah air media bau pada lele bioflok

Masalah dan solusi keenam: Berkembang bakteri merugikan

Masalah bakteri merugikan pada lele bioflokKemudian berkembang bakteri merugikan. Ini nyambung dengan kondisi di slide atau slide kedua sebelumnya. Nah bakteri merugikan juga bisa juga dipacu oleh (kalau menggunakan molase, teman-teman molase misalnya) bakteri methanobacter. Jadi itu menyebabkan, bisa menyebabkan bau juga. Kemudian penyebabnya, dari molase yang memang sudah kualitasnya jelek itu. Itu juga bisa memacu methanobacter ini sehingga untuk molase-molese yang kurang bagus, saya sarankan untuk di direbus terlebih dahulu, gitu ya.

Masalah dan solusi ketujuh: Nafsu makan menurun

Masalah menurunnya nafsu makan pada lele bioflokKemudian nafsu makan menurun. Nafsu makan menurun biasanya, awalnya amoniak tinggi, kemudian oksigen pasti sudah menurun. Begitu sudah lewat fase itu, maka nitrit di selama beberapa hari berkembang, nitrit juga akan meningkat. Loh air sudah tidak bau, betul karena nitrir tidak bau, amoniak bau. Tapi yang terjadi adalah kita bisa mengenali sebenarnya, tatkala kondisi amoniak tinggi itu, nafsu makan ikan pasti menurun. Sehingga jangan dipaksa, jangan dipaksa, begitu ya.

Beberapa alternatif bisa ditambahkan garam, betul. Harapannya apa? Menenangkan si ikan, bener nggak? Yang kedua, memperbaiki kualitas air juga. Kalau hal seperti ini, jarang saya lakukan. Jadi saya lebih baik mengikuti tanda-tanda atau kode atau ayat. Jadi sebenarnya, lele menampakkan respon nafsu makannya menurun itu sebuah tanda sebenarnya. Tanda itu maknanya apa? Ayat, gitu Bos; ayat untuk kita pelajari, gitu ya. Itu nafsu makan menurun.

Masalah dan solusi kedelapan: Volume bioflok tidak optimal

Volume bioflok lele tidak optimalKemudian volume bioflok tidak optimal. Volume bioflok tidak optimal kalua untuk lele, berarti posisinya itu di bawah 30 mL/liter atau bahkan melebihi 150 mL/liter. Kalau di lele, di mana loading N-nya juga mungkin sangat tinggi, karena nafsu makan tinggi, protein biasanya yang dipakai juga tinggi, kemudian seiring dengan itu produksi kencingnya juga tinggi; karena terkait dengan sifat dia yang karnivora tadi. Itu terkait volume bioflok tidak optimal. Jadi tidak optimal itu bisa kurang, bisa berlebih itu maksudnya.

Nah saya juga memasukkan satu video lagi. Silahkan dikunjungi. Ada temen yang tadinya menggunakan NWS, kemudian kita diskusi, sering diskusi dengan beliau untuk menggunakan bioflok ini. Jadi ini adalah bak diameter satu. Kalau saya hitung-hitung ini padat tebar kurang lebih 800 ekor per meter kubik. Kemudian kalau biofloknya berlebih, maka ada satu pipa itu, yang naik ke atas itu, dipakai untuk mengurangi biofloknya. Jadi di kurangi volume biofloknya, sehingga tetap stabil. Bisa tanpa buang air, asal panen biofloknya, gitu ya.

Kemudian menurut cerita beliau ini sempat dipanen orang dua kali, artinya diserok orang dua kali. Tapi kemudian saya dapat produktivitasnya, per meter kubik itu dapat 80 kg/m3 produksinya. Ini tentu saja melebihi ekspektasi saya, kalau sebelumnya ekspektasi saya itu 75 kg/m3 itu produktivitas untuk ikan lele. Ternyata bisa dapat 80 kg/m3 plus ditambah sudah di sempat dicuri orang dua kali, gitu ya. Luar biasa, saya bersyukur untuk data yang beliau sampaikan. Dan yang kedua, posisinya dimana? Di Malang, di Malang sebenarnya. Kondisi dingin juga. Alhamdulillah.

Ok, demikian saya kira beberapa hal yang terkait dengan permasalahan lele, khususnya di bioflok ini. Mudah-mudahan ini menjadi semacam pengingat juga buat kawan-kawan yang selama ini sudah membudidayakan lele; tapi permasalahan-permasalahan dalam kegiatan budayanya masih dijumpai sehingga saya berharap ini bisa memperbaiki kondisi tersebut. Jangan lupa beberapa hal yang terkait dengan Covid19 ini, mudah-mudahan segera berakhir. Dan tidak perlulah menunggu tahun 2024 ya berakhirnya Covid19 ini. Ya secepat mungkin lah Covid19 ini berakhir, begitu ya. Saya akhiri

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button