Akuakultur

Naskah Akademik Permohonan Rilis Ikan Mas Mantap

Naskah akademik permohonan rilis atau pelepasan ikan mas Mantap ini saya persembahkan kepada Anda sebagai gambaran perjalanan pemuliaan pada ikan mas ini. Memang tidak sesederhana bagaimana kami menyusun konsep dan kemudian melaksanakannya. Semoga semua itu bermanfaat bagi kemajuan akuakultur Indonesia.

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan spesies ikan air tawar yang sudah lama dibudidayakan dan terdomestikasi dengan baik di dunia. Di Indonesia, dikenal beberapa strain ikan mas yang dibudidayakan, yakni Majalaya, Punten, Sinyonya, Domas, Merah/Cangkringan, Kumpai dan sebagainya (Hardjamulia, 1995).

Pembudidayaan ikan mas di Indonesia sempat mengalami penurunan akibat serangan penyakit, khususnya koi herpesvirus (KHV). Serangan penyakit tersebut makin menambah rendahnya ketersediaan induk ikan mas yang ada di masyarakat, baik kualitas maupun kuantitas. Upaya pemulihan kondisi ini terus dilakukan terutama oleh lembaga pemerintah. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi pun turut terlibat aktif melalui upaya meningkatkan ketahanan tubuh induk dan benih ikan mas melalui pemberian antibiotik (tahun 2002), imunostimulan: vitamin C, ragi, serbuk bawang putih dan meniran (tahun 2003 – 2007), Chromium-Yeast (tahun 2006 – 2009), vaksinasi (2009 – 2014), dan seleksi dengan bantuan marka molekuler Cyca-DABI*05 yang merupakan kelompok gen major histocompatibility complex (MHC) II (selanjutnya dikode sebagai MHC+) untuk ketahanan terhadap penyakit bakterial dan virus. Kajian dan penerapan bioteknologi molekuler ini telah diinisiasi tahun 2009 dan secara berkesinambungan dilanjutkan hingga tahun 2014 ini, khususnya pada strain Majalaya.

ikan mas mantap dalam naskah akademik permohonan rilis

Kajian awal terhadap induk-induk ikan mas yang membawa marka Cyca-DAB1*05 dilakukan tahun 2009 terhadap 60 ekor induk betina dan 60 ekor induk jantan dari enam strain ikan mas yang ada di BBPBAT, yakni Majalaya, Sinyonya, Punten, Rajadanu, Cangkringan dan Wildan (masing-masing 10 betina dan 10 jantan). Berdasarkan kajian tersebut diperoleh induk ikan mas MHC+ dari semua strain sebanyak 23 ekor jantan dan 18 ekor betina. Populasi ikan mas Majalaya MHC+ diperoleh sebanyak 50% dari 20 ekor sampel. Untuk selanjutnya populasi ini disebut sebagai ikan mas Majalaya MHC+ F0, yakni 8 ekor jantan dan 2 ekor betina.

Populasi ikan mas Majalaya MHC+ F1 dihasilkan tahun 2011 melalui verifikasi keberadaan marka Cyca-DAB1*05 terhadap benih hasil pemijahan 2 ekor induk ikan mas betina Majalaya MHC+ F0 dengan 8 ekor induk ikan mas jantan Majalaya MHC+ F0. Dengan jumlah sampel sebanyak 20 ekor, menunjukkan bahwa 70% benih tersebut positif membawa marka Cyca-DAB1*05. Populasi ikan mas Majalaya MHC⁺ F1 dipelihara lebih lanjut hingga menjadi induk. Jumlah total ikan mas Majalaya MHC⁺ F1 yang dihasilkan pada tahun 2011 sebanyak 100 ekor jantan ukuran 0,5 kg dan 100 ekor betina ukuran 1,5 – 2,0 kg.

Ikan mas Majalaya MHC⁺ F2 diperoleh melalui verifikasi keberadaan marka Cyca-DAB1*05 terhadap sampel benih hasil pemijahan 30 ekor induk betina Majalaya MHC⁺ F1 dengan 97 ekor induk jantan Majalaya MHC⁺ F1. Kegiatan ini dilakukan tahun 2012 – 2013. Berdasarkan hasil verifikasi terhadap ikan sampel, diperoleh ikan mas Majalaya MHC⁺ F2 sebanyak 83,33% (25 /30 ekor). Kegiatan verifikasi dilakukan di sepanjang tahun 2012 dan benih yang telah diverifikasi tersebut dipelihara lebih lanjut hingga mencapai ukuran calon induk. Hingga akhir tahun 2012, diperoleh ikan mas mas Majalaya MHC⁺ F2 sebanyak 1.230 ekor dengan bobot rataan 384,32 gram/ekor.

Kegiatan uji tantang menggunakan bakteri Aeromonas hydrophila dan KHV dilakukan untuk menguji daya tahan ikan mas F2 MHC⁺. Hasil uji tantang di laboratorium menggunakan bakteri Aeromonas hydrophila menunjukkan bahwa ikan Majalaya MHC⁺ F2 (74,44%) memiliki kelangsungan hidup sekitar 3,5 kali lebih tinggi daripada ikan kontrol (21,11%). Sementara itu uji tantang terhadap KHV menunjukkan bahwa ikan Majalaya MHC⁺ F2 hidup 100%, sedangkan ikan kontrol hanya 8,33%. Ikan kontrol berasal dari masyarakat di daerah Cisaat, Sukabumi.

Uji lapang di KJA Cirata Cianjur juga dilakukan untuk mengevaluasi performa kelangsungan hidup, konversi pakan (KP) dan pertumbuhan ikan mas Majalaya MHC F3 dan ikan kontrol. Ikan mas Majalaya MHC F3 yang digunakan sebagai ikan uji merupakan turunan ikan mas Majalaya MHC+ F2 yang belum diverifikasi keberadaan markanya. Ikan kontrol berasal dari pembudidaya di Subang, Jawab Barat. Dalam pemeliharaan di KJA selama 75 hari dengan bobot tebar 50 kg/jaring, kelangsungan hidup ikan mas Majalaya F3 (99,27%) tidak berbeda dibandingkan kontrol (98%). KP didasarkan pada total pakan yang digunakan (dalam kg) yang digunakan selama pemeliharaan. KP ikan mas Majalaya MHC F3 (1,23) sekitar 74% lebih rendah daripada ikan kontrol (2,12). Pertumbuhan ikan mas Majalaya MHC F3 lebih baik dibandingkan dengan kontrol, demikian juga dengan bobot biomassa yang dihasilkan di akhir pemeliharaan. Laju pertumbuhan spesifik ikan mas Majalaya MHC F3 (2,40%) sekitar 45% lebih cepat dibandingkan dengan ikan kontrol (1,66%). Pertumbuhan bobot mutlak ikan mas Majalaya MHC F3 (2,19 gram/hari) lebih cepat sekitar 2,13 kali dibandingkan dengan ikan kontrol (1,03 gram/hari).

Panjang dan bobot ikan mas Majalaya MHC F3 yang digunakan adalah 10,43 cm dan 33,21 gram per ekor; sedangkan untuk kontrol 10,27 cm dan 37,33 gram per ekor. Panjang dan bobot rerata ikan mas Majalaya MHC F3 di akhir pemeliharaan adalah 21,13 cm dan 197,33 gram, sedangkan panjang dan bobot rerata ikan kontrol adalah 18,2 cm dan 128,00 gram. Biomassa ikan mas Majalaya MHC F3 pada akhir pemeliharaan adalah 293,82 kg, sedangkan kontrol adalah 168,06 kg.

Manfaat yang dapat diperoleh dapat ditinjau berdasarkan aspek teknokogi, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Berdasarkan aspek teknologi, ikan mas tahan penyakit ini memberikan peluang kepada para pembudidaya untuk mendapatkan pilihan jenis ikan untuk dibudidayakan yang dikembangkan melalui teknologi seleksi berbasis marka. Teknologi seleksi pada ikan mas ini dapat pula menjadi acuan untuk diaplikasikan pada spesies lainnya.

Ditinjau dari aspek ekonomi; bahwa tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik, produksi ikan mas akan makin baik pula. Di samping itu, kerugian yang diakibatkan oleh serangan penyakit akan lebih kecil jika menggunakan produk ikan mas tahan penyakit.

Secara aspek sosial, pemuliaan dan produk pemuliaan yang dihasilkan berupa ikan mas tahan penyakit merupakan bentuk tanggung jawab kepada masyarakat pembudidaya dalam penyediaan ikan mas unggul. Tingkat kepastian produksi akan meningkat walaupun ada serangan penyakit, khusususnya yang disebabkan oleh KHV dan Aeromonas hydrophila.  Berdasarkan aspek lingkungan, penggunaan ikan mas Majalaya tahan penyakit ini akan mengurangi penggunaan obat-obatan.

Berdasarkan hasil pengujian terhadap ikan mas turunan Majalaya MHC+ F2, khususnya terhadap KHV dan Aeromonas hydrophila, kami mengajukan permohonan pelepasan strain ini untuk dapat didistribusikan ke masyarakat guna mendorong peningkatan produksi ikan mas nasional. Strain ikan mas ini untuk selanjutnya diberi nama ikan mas Majalaya tahan penyakit atau disingkat ikan mas Mantap.

[embeddoc url=”https://www.adisucipto.com/wp-content/uploads/2017/01/Naskah-akademis-permohonan-rilis-ikan-mas-Mantap.pdf” download=”none”]

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button