Akuakultur

Padat tebar ikan dan udang dalam akuakultur indonesia

Bismillah wahamdulillah. Allahumma sholli ala sayyidina muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain

Materi kali ini adalah padat tebar ikan yang optimal. Ada beberapa kata kunci dalam judul ini, satu berkaitan dengan padat tebar, yang kedua berkaitan dengan optimal, suatu kondisi dimana berbagai pertimbangan itu diperhatikan. Jadi, dua hal itu penting. Satu berkenaan dengan padat tebar. Padat tebar itu dapat didekati dengan beberapa pertanyaan.

LIMA PERTANYAAN BERKENAAN DENGAN PADAT TEBAR

Pada kesempatan kali ini saya coba ketengahkan lima pertanyaan berkenaan dengan padat tebar. Pertama soal definisi; apa itu padat tebar. Yang kedua, mengapa pada tebar penting? Yang ketiga, apa yang menjadi dasar dari penentuan pada tebar? Yang keempat, mengapa padat tebar ikan itu berbeda dan apa yang menyebabkan perbedaan padat tebar ikan itu? Dan yang kelima, bagaimana cara mengukur pada tebar? Jadi, itu poin-poin dari bahasan kita kali ini.

1. DEFINISI PADAT TEBAR IKAN

Karena yang kita pelihara adalah organisme atau makhluk hidup, berarti sekian jumlah tertentu atau biomassa tertentu dari organisme ikan yang kita pelihara di dalam wadah budidaya persatuan volume atau persatuan luas. Berdasarkan definisi ini teman-teman di bioflok misalnya, kenapa saya angkat dulu persatuan meter kubik? Karena kubik berarti satuannya volume kalau meter persegi berarti persatuan luas area. Sekarang mari kita lanjut dengan, mengapa m pembahasan tentang padat tebar itu penting?

2. MENGAPA INFORMASI PADAT TEBAR IKAN PENTING

Ada dua poin kunci yang ingin saya sampaikan bahwa padat tebar dalam sistem apapun, menggunakan teknologi apapun, pada ikan apapun, pada fase apapun; dua hal ini penting. Kenapa? Karena kita memelihara makhluk hidup, pertama aspek kesejahteraannya. Yang kedua, bagaimana produktivitas dari ikan yang kita pelihara persatuan luas tadi atau persatuan volume tadi dan keduanya itu erat hubungannya. Karena kesejahteraan ikan yang kita pelihara berkorelasi nanti terhadap produktivitasnya, itu adalah point kedua.

3. DASAR PENENTUAN PADAT TEBAR IKAN

Sebenarnya apa yang menjadi dasar dari penentuan padat tebar? Yang menjadi dasar dari penentuan padat tebar, baik itu menggunakan teknologi yang tradisional, semi intensif, intensif atau supra intensif atau super intensif; mau pakai wadah air tergenang, sistem atau wadah tertutup, kolam air deras, keramba jaring apung, karamba, drum atau bahkan di bioflok yang sedang kita bahas; yang menjadi dasar penentuannya adalah daya dukung dari lingkungan. Apa yang ingin saya sampaikan? Teknologi apapun, pasti ada batasannya. Inilah makna dari daya dukung atau carrying capacity. Sekarang mari kita jelaskan, karena disinilah kita sebenarnya bermain. Pertama tentu saja jenis ikannya.

4. MENGAPA PADAT TEBAR IKAN BERBEDA

Misalnya, nila padat tebarnya berbeda dengan lele, berbeda juga dengan mas, berbeda dengan patin, berbeda dengan gurame dan seterusnya, termasuk yang terakhir kemarin kita bahas adalah mengenai udang vaname. Jadi jenis ikannya berbeda. Nanti dengan jenis ikan berbeda ini, persyaratan kondisi kualitas air yang ideal buat ikan ini, berbeda dengan ikan kedua, berbeda dengan ikan yang lain. Jadi itu dasarnya. Jenis ikan, baru dari jenis ikan. Sekarang mari kita persempit lagi jenis ikannya sama-sama nila. Yang kedua adalah karakter ikannya. Coba kalau temen-temen sempat mengamati tingkah laku antara nila hitam dan nila merah. Ini kan saya sudah perkenalkan di YouTube itu dari 2018, sekarang sudah tahun ketiga; 2021. Seyogyanya saya sangat berharap teman-teman jeli manakala memelihara atau membudidayakan ikan nila. Entah itu nila merah atau nilai hitam, nila merah dan atau nilai hitam. Nila hitam itu salah satu karakter yang unik tatkala kita perhatikan adalah pada saat dia berada di satu komunitas populasi. Entah itu di bak diameter 4 misalnya. Kenapa dulu saya perkenalkan padat tebar di bioflok pembesaran itu 100 ekor per meter kubik? Karena saya pakai nilai hitam, pertama.

Jadi saya ingin memastikan di kepadatan 100 nila hitam pun aman di situ; karena terbukti FCR nya rendah, yang kedua kelangsungan hidupnya 100% di 3 ulangan. Yang juga menarik pada nila hitam tadi adalah manakala kita beri makan nila hitam. Pola menangkap dari pakan yang kita berikan itu seperti apa? Dia akan saling bersinggungan dalam posisi yang agak tegak dengan temannya. Artinya kalau padat tebar nanti dilebihkan dari 100 maka singgungan itu akan makin rapat dengan temannya sehingga potensi kena mata dan seterusnya itu menjadi lebih tinggi.

Lalu bagaimana dengan nila yang lain, nila merah. Karakter nila merah itu berbeda dari nilai hitam. Jadi kalau nila hitam tatkala kita kasih makan, dia mainnya kan di bawah tidak di permukaan. Jarang yang main di permukaan. Paling dia kemudian begitu kita dekati turun lagi atau ke dalam air. Sedangkan kalau nila merah seakan-akan dia jinak. Dia jinak dengan kita, bahkan bisa dipegang-pegang bukan? Pernah mengalami? Saya yakin itu. Nah ikan nila merah manakala dia diberi makan dengan kepadatan yang 100 itu, posisi dia sampai miring-miring begini, dia masih aman.

Berbeda dengan nilai hitam. Itu yang unik. Jadi berkaitan dengan pertanyaan, mengapa pada tebar ikan berbeda, meskipun sama-sama tadi jenis ikan nila, misalnya; nila hitam nila merah, karakternya berbeda. Termasuk kalau misalnya ada keluarga karnivora. Walaupun beda spesies, karena karnivora itu kan banyak. Karakter dari setiap spesies karnivora itu bisa berbeda. Karakter terhadap sesamanya, karakter merespon manusia seperti kita pengelolanya, itu berbeda. Patin misalnya, kagetan dia; sementara lele tidak. Yang ketiga berkenaan dengan mengapa pada tempat berbeda adalah berkaitan dengan ukuran ikannya atau fase pemeliharaannya.

Jadi kalau misalnya vaname, padat tebarnya bisa 700 ekor per meter kubik. Bahkan kalau ada yang nekat, bisa lebih dari itu. Tapi setelah 60 hari pada saat misalnya panen hari ke-60; panennya parsial. Sehingga setelah 60 hari, padat tebarnya menjadi berkurang. Itu adalah strategi.

Jadi kalau dulu tatkala 2015 teman-teman yang berkecimpung dalam lele bioflok, seakan-akan berlomba-lomba dengan padat tebar tinggi; saya bisa 2000; saya bisa 2.500 kadang-kadang begitu informasinya. 2000-2500 itu dipelihara sampai akhir tidak? Kalau tidak, alias dipanen parsial, ya jangan cerita padat tebar 2000 bos di pembesaran, kan begitu. Padat tebarnya dari saat tebar sampai berapa lama? Sementara sampai berapa lama itu, sampai menuju panen kan masih ada waktu lagi! Jadi bukan sesuatu yang wah, padat tebar seperti itu. Karena pada akhirnya, berkenan daya dukung lingkungannya, tetap ada batasannya. Yang kedua, karena daya dukung lingkungan ada batasannya, maka pasti akan ada cerita akhir dari kapan kesejahteraan ikan tersebut mulai menurun akibat dari daya dukung yang sudah tidak sesuai. Jadi sama-sama nila, terkait dengan ukuran.

Kenapa kok padat tebar pendederan satu sekian; misalnya 2000? Padat tebar pedederan dua misalnya 1000, pendederan tiga misalnya 500, pembesaran misalnya 100. Kalau nila merah bisa lebih dari itu, 125 misalnya. Dengan standar yang sama; standar apa? Standar tekanan aerasi dan seterusnya gitu yang disebut standar Adi Sucipto kemarin. Masih ingat barangkali?

Itu berkenaan dengan ikannya sama, tapi ukuran yang berbeda. Teknologinya sekarang menjadi poin ke-4 dari, mengapa padat tebar ikan itu berbeda? Jadi tehnologi pemeliharaannya berbeda. Di beberapa video terdahulu; jadi kalau kawan-kawan pertama kali menyimak video ini, saya sangat menyarankan menyimak pula video-video terdahulu. Jangan bosan untuk terus menyimak karena antar video itu bisa saling berkaitan. Teknologi pemeliharaan yang berbeda, akan berkorelasi dengan daya dukung yang berbeda juga. Misalnya sama-sama bulat; pakai teknologi tradisional, pakai teknologi semi intensif, pakai teknologi bioflok misalnya. Sama-sama bak bulat, teknologi berbeda; tentu saja daya dukung lingkungannya akan berbeda. Begitu cerita korelasi atau hubungan antara teknologi pemeliharaan dengan daya dukung. Dan tentu saja, karena daya dukung dari lingkungan, karena perbedaan teknologi tadi berbeda, maka produktivitas per satuan volume atau luas, pasti berbeda.

5. MENGUKUR PADAT TEBAR

Di video terdahulu, saya sudah jelaskan pada saat membahas tentang pembesaran ikan nila dengan menggunakan wadah dan teknologi yang berbeda. Nah tolong kawan-kawan disimak lebih lanjut video tersebut. Karena saya sudah memperkenalkan juga beberapa bentuk teknologi; ada yang tradisional semi intensif, intensif, super intensif atau yang dikenal juga supra intensif. Yang berkaitan dengan apa misalnya? Entah itu dengan resirkulasi, entah itu yang sedang kita bahas ini adalah tentang bioflok. Karena satuan dari luas dan volume itu dua hal yang berbeda, maka tentu saja kalau menggunakan satuan volume, maka jumlah ekor yang kita tebar persatuan volume air berapa? Misalnya meter kubik. Jadi sekian ekor per meter kubik, itulah ukuran dari padat tebar ikan kita. Misalnya ikan nila 100 ekor per meter kubik. Nila merah misalnya 125 ekor per meter kubik. Berdasarkan jumlah dan volume. Nah bisa juga teman-teman menggunakan satuan bobot, berat, dibanding dengan volume.

Padat tebar ikan nila 2 kg per meter kubik, harapannya nanti menjadi 25 sampai 30 kilo per meter kubik. Sementara karena posisi tinggi air itu seringkali berada lebih dari satu meter, sehingga logikanya satuan padat tebar yang dipakai adalah per volume. Jadi penggunaan satuan padat tebar per meter persegi itu, sebenarnya lebih cocok untuk; satu, jika tinggi air yang dipakai untuk memelihara ikan itu kurang dari satu meter. Bener nggak? Biar mudah maksudnya. Atau memang peruntukan dari atau si ikan tersebut memang menghendaki luasan, bukan menghendaki volume. Misalnya pada saat memijahkan ikan nila.

Satuan padat tebar yang dipakai, contoh 5 ekor per meter persegi. Tepat itu, bukan 5 ekor per meter kubik. Karena dia pemijahan. Loh kenapa kok itu tepat kata pak Adi? Begini kawan-kawan. Nila memijah pasti di dasar wadah. Apakah wadahnya pakai tanah, apakah pakai terpal, apakah pakai tembok, dia memijah di dasar. Jadi tingkah laku memijah itu kan di dasar. Bersih-bersih, bersih-bersih wadah di dasar wadah. Betul. Kalau sempat menyimak atau pernah baca GoNila, pasti tahu itu. Kemudian di satu space, itu biasanya dihuni oleh sepasang. Oke. Jadi pada saat satu space, berapa cm2 itu, misalnya 80 kali 80, area pada saat mijah. Di bawah, di dasar wadahnya itu tempat dia memijah. Makanya penentuan padat tebarnya adalah per meter persegi. Jadi tinggi air pada saat pemijahan tadi bisa 50, bisa 60, bisa 70 cm. Gitu Bos.

Loh kenapa kalau di bioflok tetap pake satuan meter kubik Pak Adi? Karena di bioflok, memperhitungkan volume air yang kita pakai. Jadi meskipun bak kawan-kawan hanya 80 cm tingginya, karena nila pada saat pembesaran itu mengisi volume atau kolom air di semua bagiannya, makanya ketentuan padat tebarnya adalah berdasarkan volume, bukan lagi persatuan meter persegi. Jadi sekian volume air, dihargai manusia karena mampu diisi sekian banyak ikan, kedua meningkatkan produksi sekian banyak atau menghasilkan produksi sekian banyak dari sekian volume air itu. Jadi ini adalah pendekatan manusia untuk menghargai air. Sementara kalau per meter persegi, menghargai luas area. Jadi berkaitan dengan cara mengukur padat tebar tadi; kalau menggunakan volume, maka pembandingnya adalah per satuan volume.

Apakah itu mau jumlah, apakah itu bobot atau berat ikannya. Sementara kalau persatuan luasan; jumlah ekor dibagi luas area atau bobot dari ikan yang kita pelihara persatuan luas area. Kalau bermanfaat dan ingin bermanfaat juga untuk orang lain, kawan-kawan di sekitarnya, silahkan dibagikan.

Saya akhiri, subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button