Akuakultur

Pembenihan ikan mas (Cyprinus carpio, Linn.)

I. PENDAHULUAN
Ikan mas (Cyprinus carpio, Linn.) merupakan spesies ikan air tawar yang sudah lama dibudidayakan dan terdomestikasi dengan baik di dunia. Di China, para petani telah membudidayakan sekitar 4000 tahun yang lalu sedangkan di Eropa beberapa ratus tahun yang lalu. Sejumlah varietas dan subvarietas ikan mas telah banyak dibudidayakan Asia Tenggara sebagai ikan konsumsi dan ikan hias.

Berdasarkan keanekaragaman genetik, ikan mas memiliki keistimewaan karena banyaknya strain/ras. Hal ini disebabkan karena: 1) penyebaran daerah yang luas dengan keadaan lingkungan yang bervariasi dan juga berbeda secara geografis, 2) daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan, 3) akumulasi mutasi dan 4) seleksi secara alami maupun kerena kegiatan manusia. Daya adaptasi yang tinggi juga menyebabkan ikan mas dapat hidup dalam ekosistem dataran rendah sampai dataran tinggi (sampai ketinggian 1800 m apl.). Strain tersebut tampak dari keragaman bentuk sisik, bentuk tubuh dan warna. Beberapa strain yang sudah dikenal di tanah air antara lain Majalaya, Rajadanu, Punten, Sinyonya, Wildan, Domas, Kaca (mirror), Merah/Cangkringan, Kumpai dan sebagainya.

Usaha pemeliharaan ikan mas makin berkembang, dengan ditemukannya teknologi pembesaran intensif, yakni KJA (karamba jaring apung) dan KAD (kolam air deras). Dengan demikian, produksi benih menjadi sangat penting dengan tetap menjaga kualitas, kuantitas dan kontiyuitasnya.

II. SISTEMATIKA
Fillum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Cyprinidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesias : Cyprinus carpio, Linn.

Secara morfologi, ikan ini memiliki gurat sisi tunggal, lengkap tidak terputus, pola sisik penuh teratur dan sirip ekor bercagak. Perbandingan antara panjang standar terhadap tinggi badan 2,30 : 1,00. Jumlah sisik pada gurat sisik adalah 26 – 33, dengan rumus jari-jari sirip punggung D.3.15-17, sirip dada P.1.12-17, sirip perut V.1.6-8, sirip dubur A.3.4-6 dan sirip ekor C.12-16.

III. PEMBENIHAN
A. Pemeliharan Induk
Induk diperlihara di kolam air tenang dengan kepadatan 1-2 kg/m2, sedang untuk KAD dan KJA 5 kg/m3. Pakan yang diberikan berupa pellet dengan kandungan protein 30%, dosis 2-3% bobot biomas per hari, dan dengan frekuensi 3 kali/hari. Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah.

Persyaratan kualitas air untuk induk ikan mas
Suhu : 25°-30°C
pH : 6,5-8,5
Oksigen : > 5 mg/l
Amonia : < 0,02 mg/l
Kecerahan : >30 cm

B. Pemilihan Induk
Induk betina sebaiknya berumur 2 tahun dengan bobot >2 kg, sedangkan jantan minimal berumur 8 bulan dengan bobot 0,50 kg. Induk betina yang siap pijah memilliki pergerakan lamban, lubang kelamin agak membengkak dan berwarna kemerahan, perut membesar (gendut) kearah belakang dan apabila diraba terasa lembek, dan sering meloncat-loncat terutama malam hari. Induk jantan matang gonad dapat dikenali dengan cara mengurut kearah kelamin secara lembut dan perlahan. Urutan tersebut berguna untuk mengecek ada tidaknya cairan sperma yang keluar dari kelamin. Sperma yang baik berwarna putih seperti susu dan kental.

Pembenihan ikan mas perlu memilih induk matang gonad
Induk ikan mas matang gonad

C. Pemijahan Alami
Pemijahan alami dapat dilakukan dengan mengkondisikan lingkungan pemijahan menyerupai kondisi lingkungan alam. Wadah yang digunakan dalam pemijahan berupa hapa yang ditempatkan di kolam/bak. Kepadatan induk selama pemijahan adalah 2 kg induk betina/4 m2, rasio bobot induk betina dan jantan adalah 1:1. Air disiapkan pada ketinggian 70 cm dan dengan debit air diatur pada 0,5 liter/detik. Sebagai tempat penempelan telur, menggunakan kakaban atau tanaman air. Kakaban adalah ijuk yang sudah disisir rapi dan dijepit dengan bambu/kayu. Panjang kakaban disesuaikan dengan kebutuhan (umumnya 1,5 m), sedangkan lebarnya sekitar 0,4 m.

Jumlah atau total bobot induk yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan larva di kolam pendederan pertama. Setelah memijah, induk betina maupun induk jantan dipindahkan dari hapa pemijahan ke wadah pemeliharaan induk. Sedangkan hapa yang telah ditempeli oleh telur disusun kembali agar posisinya rapi dan telur tidak saling menumpuk. Pada suhu 28-30 oC telur akan menetas dalam waktu 48 – 60 jam setelah pembuahan.

D. Perawatan Larva
Sehari setelah menetas, larva masih menempel di kakaban. Oleh karena itu, kakaban sebaiknya diangkat pada hari ke 2 – 3 hari setelah telur menetas. Larva umur 2-3 hari dapat dipindahkan ke kolam pendederan pertama. Jika kolam pendederan belum siap, larva tetap dirawat di dalam hapa. Pakan awal untuk larva tersebut dapat berupa suspensi kuning telur yang diberikan 5 kali perhari (1 butir untuk sekitar 100.000 larva). Lama pemeliharaan larva dalam hapa ini sebaiknya tidak lebih dari 5 hari.

E. Pendederan I, II, III,
Pendederan I sampai III dilakukan di kolam yang dilengkapi dengan saringan pada pintu pemasukan dan pengeluaran air (pembuangan). Kolam pendederan disiapkan melalui pengolahan tanah dasar kolam, pengeringan, pengapuran, pemupukan, pengisian air dan pengkondisian air kolam. Pengolahan tanah dasar kolam dapat dilakukan dengan pembajakan, peneplokan dan perbaikan pematang kolam. Pengeringan dilakukan selama 2 s.d 5 hari (tergantung cuaca).

Standar pendederan dalam pemebenihan ikan mas
Standar pendederan ikan mas

 

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button