Kualitas telur ikan yang umum kita kenal didefinisikan sebagai kemampuan telur untuk menghasilkan benih yang baik. Potensi telur untuk menghasilkan benih yang baik ditentukan oleh beberapa faktor, yakni faktor fisik, genetik dan kimia selama terjadi proses perkembangan telur. Jika satu dari faktor esensial ini tidak ada maka telur tidak berkembang dalam beberapa stadia. Beberapa indikator kualitas telur adalah pembuahan, morfologi, ukuran dan kandungan kimia.

Pembuahan

Pembuahan atau fertilisasi merupakan asosiasi gamet, dimana asosiasi ini merupakan mata rantai awal dan sangat penting pada proses fertilisasi. Rasio pembuahan sering digunakan sebagai parameter untuk mendeteksi kualitas telur. Penggabungan gamet biasanya disertai dengan pengaktifan telur. Selama fertilisasi dan pengaktifan, telur-telur ikan teleostei mengalami reaksi kortikal. Kortikal alveoli melebur, melepaskan cairan koloid, dan selanjutnya memulai pembentukan ruang periviteline (Kjorsvik et al., 1990 dalam Utiah, 2006). Kortikal alveoli muncul setelah terjadinya fertilisasi dan reaksi kortikal yang tidak lengkap menunjukkan kualitas telur yang jelek. Beberapa hal yang mempengaruhi pembuahan adalah berat telur ketika terjadi pembengkakan oleh air, pH cairan ovari, dan konsentrasi protein (Lahnsteiner et al., 2001).

Penentuan kualitas telur pada ikan - Adi Sucipto

Morfologi

Telur yang belum dibuahi bagian luarnya dilapisi oleh selaput yang dinamakan selaput kapsul atau khorion. Di bawah khorion terdapat selaput yang kedua dinamakan selaput vitelin. Selaput yang mengelilingi plasma telur dinamakan selaput plasma. Ketiga selaput ini semuanya menempel satu sama lain dan tidak terdapat ruang diantaranya. Lapisan vitelin pada ikan mas mempunyai ukuran ketebalan 10.0-10.2 μm dan mempunyai struktur yang komplek dan terdiri dari 4 lapisan yang penamaannya berbeda berdasarkan penemu (Linhart et al., 1995 dalam Utiah, 2006). Lapisan bagian luar terdiri 2 bagian berdasarkan perbedaan sitokimia. Selanjutnya dikatakan bahwa kedua lapisan ini kaya akan protein.

Selama oogenesis kuning telur mengakumulasi sejumlah besar yolk granules dan lipid yang terisi pada bagian tengah. Diameter granula berkisar antara 6-24μm. Jumlah dan distribusi dari lemak (butir lemak) sangat bervariasi dengan diameter 1-1.5μm (Linhart et al., 1995 dalam Utiah, 2006). Distribusi dari butir-butir lemak ini juga menjadi parameter kualitas telur.

Selama oogenesis, salah satu yang paling mencolok adalah pembentukan sebuah zona tebal yang sangat berdiferensiasi yang terdiri dari membran telur, membran vitelin, zona radiata, zona pelusida dan terletak diantara lapisan-lapisan granulosa dan oosit.  Bergantung pada spesies dan tahap pertumbuhan oosit, membran telur bervariasi dalam hal ketebalan. Tebalnya 7-8μm pada oosit ikan mas koki dan sekitar 30 μm pada rainbow trout (Kjorsvik et al., 1990 dalam Utiah 2006) .

Perubahan morfologi yang dialami membran mencerminkan adaptasi terhadap berbagai kondisi ekologi. Membran telur ini banyak mengandung protein dan karbohidrat. Belum dapat dipisahkan apakah asal membran ini dari oosit atau dari sel folikel atau dari kedua-duanya. Pada oosit kuda laut, Hippocampus erectus dan ikan pipa Syngnathus fuscus, membran dibentuk oleh oosit, sehingga diklasifikasikan sebagai selubung primer (Nagahama, 1983 dalam Utiah, 2006).

Menurut Kjorsvik et al. (1990) dalam Utiah (2006), morfologi sel juga sering digunakan untuk meneliti kualitas telur dan parameter morfologi ini lebih sensitif dibandingkan dengan kelangsungan hidup. Pada pembelahan awal (blastomer) embrio tidak berdifferensiasi, dan ini menjadi dasar untuk perkembangan embrio selanjutnya. Kerusakan pada sel ini akan mempengaruhi perkembangan akhir dari embrio, dan akhirnya akan terjadi kerusakan pada salah satu sel dalam perkembangannya. Pengamatan juga termasuk melihat simetri pembelahan awal serta banyaknya embrio dan larva yang cacat.

Ukuran telur

Ukuran telur dapat dinyatakan dalam banyak cara. Diameter tunggal yang biasa digunakan, tetapi diameter terpanjang juga kadang-kadang digunakan. Selain itu panjang telur dan lebar telur juga digunakan. Ukuran-ukuran telur yang lain mencakup volume telur, bobot basah dan bobot kering. Dari segi energetika istilah terbaik untuk ukuran telur adalah kandungan energi per telur atau joule per telur. Kalori telur menunjukkan jumlah energi yang tersedia bagi embrio untuk berkembangan.

Ukuran telur berkorelasi dengan ukuran larva. Larva yang besar lebih tahan tanpa pakan dibandingkan dengan larva berukuran kecil yang dipijahkan dari telur kecil. Hubungan positif antara ukuran larva dan ukuran telur telah dilaporkan untuk Salmo salar, Onchorhynchus mykiss, Onchorhynchus keta, dan Clupea harengus (Kamler, 1992). Keuntungan ukuran awal yang dimiliki larva yang menetas dari telur besar dapat kurang berarti selama perkembangan selanjutnya, atau bahkan hilang. Pada Salmo salar keuntungan ini hilang setelah 5 minggu pertama pertumbuhan; pada Oncorhynchus mykiss keuntungan ini hilang setelah 16 minggu (Kamler, 1992 dalam Utiah, 2006).

Kemampuan larva yang kecil untuk bertumbuh sehingga mempunyai kecepatan yang sama dengan larva yang lebih besar sangat penting untuk tujuan komersial. Potensi yang sangat penting adalah menemukan kelangsungan hidup telur dan larva tidak dipengaruhi oleh ukuran telur (Kjorsvik et al., 1990 dalam Utiah, 2006).

Kandungan kimia

Komposisi biokimia telur yang sehat menggambarkan kebutuhan embrio terhadap nutrisi dan pertumbuhan. Komponen tertentu diketahui “essensial” untuk organisme yang tidak dapat mensintesis nutrien tersebut. Komponen ini harus ada dalam jumlah tertentu untuk kebutuhan fisiologi. Oleh karena itu parameter biokimia kualitas telur dapat digunakan. Hasil evaluasi biokimia kualitas telur sebelum fertilisasi mungkin dapat digunakan.

Material yang diperlukan selama perkembangan secara umum dapat dibagi menjadi 1) diperlukan secara langsung untuk sintesis jaringan embrionik, dan 2) digunakan untuk energi metabolisme (Tang dan Affandi, 2000). Lebih lanjut dikatakan bahwa jumlah total dan relatif berbagai nutrien yang diperlukan jelas bervariasi bergantung kepada faktor seperti waktu pengeraman, ukuran ikan pada waktu menetas dan lamanya anak-anak ikan memerlukan persediaan bahan endogen sebelum menemukan semua keperluan dari sumber lain.

Kadar protein, lipid dan karbohidrat berkorelasi positif terhadap kelangsungan hidup larva. Protein merupakan komponen dominan kuning telur, sedangkan jumlah dan komposisinya menentukan besar kecilnya ukuran telur (Kamler, 1992 dalam Utiah, 2006). Hasil penelitian dari pemijahkan induk belanak garis (striped mullet) dalam beberapa fasilitas yang berbeda (air laut dan air payau atau ditempatkan di dalam gedung serta di kolam air payau), menunjukkan kadar asam oleat, eikosanoat dan arakidonat yang berbeda kadarnya pada telur induk matang (Tamaru et al., 1991 dalam Utiah, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pematangan induk akan mempengaruhi kandungan kimia telur.

Konsumsi oksigen?

Penelitian yang dilakukan oleh Holcomb et al., (2004) menunjukkan korelasi negatif antara konsumsi oksigen dengan pembuahan telur pada telur ikan steelhead dan Chinook salmon.  Pada penelitian tersebut terungkap bahwa hubungannya terjadi karena pertumbuhan bakteri, sehingga telur sample yang sudah dieliminasikan dengan pertumbuhan bakteri menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara laju konsumsi oksigen dengan pembuahan. Laju konsumsi oksigen pada telur steelhead sebesar 3.4 nmol O2 per telur per jam, dan 4.3 nmol O2 per telur per jam untuk telur chinook salmon.

Perbandingan antara lemak jaringan-tubuh dan profil lemak dan komposisi asam lemak dalam telur

Komposisi jenis lemak dan asam lemak dalam telur pada ikan common featherback, Pholui (Notopterus notopterus Pallas) telah diteliti Mukhopadhyay et al., (2004).  Dalam penelitiannya, kualitas telur dikaitkan dengan cara membandingkannya dengan lemak jaringan tubuh. Nilai tengah bobot basah telur matang adalah 16.3% dari total bobot tubuh; yang mana 11,5% (bobot kering) adalah lemak.  Telur mengandung lemak 6,8 kali lebih tinggi dibandingkan dengan jaringan tubuh.  Bagian utama lemak telur adalah senyawa triacylglycerol (TAG) sekitar 53.8% dan phospholipid (PL, 37.0%). Diantara PL, phosphatidylcholine (PC) adalah yang paling banyak (sekitar 57.1%), phosphatidylethanolamine (PE, 25.7%) dan phosphatidylinositol (PI, 17.4%). Lemak di jaringan tubuh, sebagian besar adalah phospholipid (72.5%) yang secara nyata lebih besar dari lemak telur (37.0%). PL yang banyak terdapat di jaringan tubuh adalah PC (51.6%), diikuti dengan PE (28.1%) dan PI (20.2%). Di jaringan tubuh, TAG sekitar 18.0% atau lebih rendah dibandingkan dengan TAG pada telur (53.8%). Kandungan Cholesterol (CHL) dalam telur dan jaringan tubuh masing-masing sekitar 4.4% dan 0.7%. Total asam lemak tak jenuh atau Polyunsaturated fatty acids (PUFAs) sebesar 37.9% dan 36.0%, masing-masing untuk PL telur dan jaringan tubuh.  Asam arakidonat atau arachidonic acid (20:4 n-6, AA) dan eicosapentaenoic acid (20:5 n-3, EPA) dalam PL tubuh sekitar 16.5% dan 10.6% dalam PL telur, AA dan EPA masing-masing sekitar 10.7% dan 10.6%.  Penemuan dan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jaringan tubuh dan telur Notopterus notopterus kaya akan PUFA.

DAFTAR RUJUKAN DAN BAHAN BACAAN LAINNYA

de Graaf, G and Janssen, H.  1996. Artificial Reproduction and Pond Rearing of the African Catfish Clarias Gariepinus in Sub-Saharan Africa – A Handbook.  Fisheries technical paper. FAO.  Food and Agriculture Organization of the United Nations.  Rome.

Ding, J.L.  2005.  Vitellogenesis and vitellogenin uptake into oocytes (molecular aspects of fish and marine biology-vol. 4). P: 254-276. In: Hormones and their receptors in fish reproduction, Melamed, P., and Sherwood, N., (Eds.).  World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd.  Singapore.

Doroshov, S.I., and Van Eenennaam, J.P. 2000.  White sturgeon domestic broodstock management. Reporting Period No. 4/01/99-3/31/00.

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan: Dasar pengembangan teknik perikanan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. 179 hal.

Geffen, A.J., Fox, C.J., and Nash, R.D.M. 2006. Temperature-dependent development rates of cod, Gadus morhua eggs. Journal of Fish Biology: 69, 1060-1080. Available online at http://www.blackwell-synergy.com.

Hadadi, A., Mundayana, Y., Pogram, Supriatna, T., Ridwan, E., dan Setyorini.  2004.  Rekayasa formulasi pakan induk dan benih ikan mas (cyprinus carpio).  Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi

Holcomb, M., Cloud, J. G., Woolsey, J. and Ingermann, R. L.  2004.  Oxygen consumption in unfertilized salmonid eggs: an indicator of egg quality?  Comparative Biochemistry and Physiology – Part A: Molecular & Integrative Physiology Volume 138, Issue 3, July 2004, Pages 349-354

Kogera, C.S., Teha, S.J., and Hinton, D.E.  1999.  Biology of Reproduction, 61: 1287-1293.  Society for the Study of Reproduction, Inc.

Lahnsteiner, F., B. Urbanyi, A. Horvarth, and T. Weismann. 2001. Bio-markers for egg quality determination in cyprinid fish. Aquaculture, 195:331-352.

Mishra, 2006. Effects of gonadotrophin in vivo and 2-hydroxyoestradiol-17β in vitro on follicular steroid hormone profile associated with oocyte maturation in the catfish Heteropneustes fossilis. Journal of Endocrinology, 189:341-353.

Mukhopadhyay, T., Nandi, S., and Ghosh, S.  2004.  Lipid profile and fatty acid composition in eggs of Indian featherback fish Pholui (Notopterus notopterus Pallas) in comparison with body-tissue lipid.  Journal of Oleo Science: Vol. 53 (2004) , No. 7 323-328

Santos, R. N., Andrade, C. C., Santos, A. F. G. N., Santos, l. N. and Araújo, F. G.  2005.  Hystological analysis of ovarian development of the characiform Oligosarcus hepsetus (cuvier, 1829) in a brazilian reservoir.  Braz. J. Biol., 65(1): 169-177

Palacios, E., Racotta, I.S., Heras, H., Marty, Y., Moal, J., and Samain, J-F.  2002. Relation between lipid and fatty acid composition of eggs and larval survival in white pacific shrimp (Penaeus vannamei, Boone, 1931). Aquaculture International. November 2002; 9(6): 531-543.

http://dx.doi.org./10.1023/A:1020589924810.

Patino, 2003. Ovarian follicle maturation and ovulation: an integrated perspective. Fish Physiology and Biochemistry, 28:305-308.

Peter, 1997. Neuroendocrine regulation of ovulation in fishes: basic and applied aspects. Reviews in Fish Biology and Fisheries, 7:173-197.

Patino, 2002. Ovarian follicle growth, maturation and ovulation in teleost fish. Fish Physiology and Biochemistry, 26:57-70.

Tang, U. M. dan R. Affandi. 2000. Biologi reproduksi ikan. Bogor. 150 hal.

Thorsen, A., Trippel, E.A., and Lambert, Y.  2003.  Experimental methods to monitor the production and quality of eggs of captive marine fish.  J. Northw. Atl. Fish. Sci., Vol. 33: 55-70.

Utiah, A.  2006.  Penampilan Reproduksi Induk Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr) dengan Pemberian Pakan Buatan yang Ditambahkan Asam Lemak n-6 dan n-3 dan dengan Implantasi Estradiol-17β dan Tiroksin.  Disertasi. Institut Pertanian Bogor

Yaron, 1995. Endocrine control of gametogenesis and spawning induction in the carp. Aquaculture, 129:49-73.

Yaron, Z., and Sivan, B. 2006.  Reproduction. Page 343-386. In The physiology of fishes. Third edition. Evan, D.H. and Claiborne, J.B. (eds.) CRC Press. 601 pages.

Zairin, M., Jr.  2003.  Endokrinologi dan peranannya bagi masa depan perikanan Indonesia.  Orasi ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Fisiologi Reproduksi dan Endokrinologi Hewan Air.  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.  Institut Pertanian Bogor.  71 halaman

Penentuan kualitas telur ikan
Tagged on:         

2 thoughts on “Penentuan kualitas telur ikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.