Akuakultur

Produksi calon induk ikan mas Majalaya tahan penyakit F2

Produksi calon induk ikan mas Majalaya tahan penyakit F2 ini merupakan hasil kerja team perekaysaan dan produksi, yakni Adi Sucipto, Nurly Faridah, Devi Ilma Handayani, Joko Purwanto, Teguh Prayoga, Tatang Juanda, Rahmat Hidayat dan Ade Dimyati. Ini merupakan salah satu tahap kegiatan sebelum rilis pada tahun 2015 dengan nama ikan mas Mantap. Terima kasih juga kepada Dr. Alimuddin yang senantiasa memberikan support dalam kegiatan kami.

Pendahuluan

Ikan mas merupakan spesies budidaya yang penting di Indonesia.  Saat ini, pengembangan ikan mas di Indonesia dilakukan di kolam, karamba jaring apung (KJA), karamba dan minapadi (Kontara and Maswardi, 1999).  Produksi total pada tahun 2004 dilaporkan sebanyak 192.461 ton, yang terdiri dari 79.900 ton dari kolam, 59.876 ton dari KJA dan karamba, dan 53.685 ton dari minapadi (Aquaculture Statistic, 2005).  Dengan data ini, dapat pula diperkirakan bahwa total produksi ikan mas sebelum serangan Koi Herves Virus (KHV) adalah lebih tinggi lagi.  Hal ini karena pada saat serangan KHV di tahun 2002 dan beberapa tahun selanjutnya, sebagian besar daerah pengembangan ikan mas yang terserang mengalami penurunan produksi.  Jumlah induk dan produksi benih dari sentral ikan mas pun mengalami penurunan (Maskur and Sucipto, 2008).

Sejak 2007, BBPBAT Sukabumi telah menyusun breeding program untuk ikan mas dan membenahi beberapa sarana, khususnya laboratorium genetik.  Tujuan utama dari penyusunan breeding program ini adalah menghasilkan ikan mas unggul untuk karakter pertumbuhan dan ketahanan terhadap penyakit, khususnya KHV dan Aeromonas.

Kajian tentang ketahanan ikan mas terhadap penyakit dalam kerekayasaan ini, didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Krzystof L. Rakus seperti yang tertuang dalam buku “Major Histocompatibility (MH) Polymorpism Of Common Carp: Link With Disease Resistance”.  Melalui upaya ini, maka besar harapan untuk dapat segera menghasilkan ikan mas yang tahan penyakit.

Respon imun biasanya terkait dengan adanya molekul MHC class I dan MHC class II. Molekul MHC class I secara spesifik terlibat dalam mengelimininasi infeksi virus melalui mekanisme sitotoksik.  Sedangkan MHC class II akan mengaktifkan sel-sel fagosit untuk memproduksi antibodi dan mengaktivasi karakter-karakter immunologi yang terlibat dalam mengeliminasi parasit dan bakteri, dan menetralkan virus.

Beberapa penelitian telah memberi penjelasan bahwa ada hubungan antara polimorfisme MH dengan ketahanan terhadap penyakit pada beberapa spesies. Namun umumnya dilakukan pada ikan salmonid.  Pada ikan mas, gen MH yang ada adalah MH class I B dan MH class II B.  Polimorfisme dari MH class II B lebih besar dibandingkan dengan MH class I B.  Gen-gen yang termasuk ke dalam MH class I B adalah Cyca-DAB1-like genes, dan Cyca-DAB2-like genes.  Cyca-DAB1-like gene bersifat ubiquitous, artinya mampu aktif di semua jaringan.  Gen ini pun memiliki polimorfisme yang tinggi.  Sedangkan Cyca-DAB2-like: bersifat homozygous atau seringkali tidak ditemukan (karena tidak aktif). Mengingat bahwa KHV dikaitkan dengan virus CyHV-3, maka perlu dilakukan upaya untuk menentukan hubungan antara major histocompatibility complex (MH) class II B genes (Cyca-DAB1-like) dengan ketahanan ikan mas terhadap infeksi CyHV-3.

Kajian awal terhadap induk-induk ikan mas yang membawa alel Cyca-DAB I telah dilakukan pada tahun 2009.  Untuk selanjutnya, ikan mas yang membawa gen tersebut disebut sebagai MHC+. Pada tahun 2012, kegiatan telah mencapai perekayasaan untuk memproduksi ikan mas keturunan kedua (F2) MHC+.

Gen major hisocompatibility complex (MHC) merupakan gen marker (penanda) kandidat yang berkaitan kuat dengan resistensi terhadap penyakit. Molekul MHC mempunyai kemampuan mengeluarkan suatu peptida pada sel limfosit T dengan keefektifan berbeda-beda yang dapat mempengaruhi respon imun organisme sehingga mempengaruhi resistensi organisme tersebut terhadap organisme patogen (Rakus, 2008).  Dari hasil penelitian Rakus (2008), telah diketahui bahwa alel Cyca-DAB1*05 merupakan bagian dari gen Cyca-DAB1 yang memiliki hubungan yang sangat kuat dengan resistensi terhadap penyakit terutama pada CyHV-3 yang juga dikaitkan dengan Koi Herpes Virus (KHV) sehingga sangat sesuai jika digunakan sebagai marker genetik pada kegiatan seleksi ikan mas Cyprinus carpio.

Metodologi

Pelaksanaan kegiatan ini mengacu pada protokol pemuliaan ikan mas nomor 01 tentang Karakterisasi Alel Cyca-DAB1*05 pada Ikan Mas dan Protokol Perbanyakan dan Produksi Calon Induk Ikan Mas. Kegiatan ini meliputi kegiatan pemijahan untuk menghasilkan benih F2 MHC+, dengan cara pemijahan induk jantan dan betina F1MHC⁺, dengan pemijahan secara buatan melalui rangsangan hormonal; pendederan benih dan verifikasi benih untuk memperoleh benih yang membawa gene MHC class II, serta pembesaran benih calon induk F2 yang telah terverifikasi MHC+. Pemeliharaan benih calon induk F2-HC+ selanjutnya dilakukan pada kolam beton hingga mencapai ukuran induk yang akan dipersiapkan menjadi induk perbanyakan ikan mas MHC⁺ pada tahun berikutnya. Pakan diberikan secara satiasi dengan frekuensi pembelian yang sama, yaitu sebanyak tiga kali dalam sehari. Penggantian air dilakukan dengan frekuensi dua kali dalam setiap bulan.

Untuk mengetahui ketahanan tubuh ikan mas F2 MHC⁺ terhadap bakteri Aeromonas hydrophila dilakukan uji tantang mengacu pada protokol 02 Uji Tantang Ikan Mas (Cyprinus carpio) dengan Aeromonas hydrophila. Sementara ketahanan terhadap serangan virus dilakukan uji tantang mengacu pada Protokol 03 Uji Tantang Ikan Mas (Cyprinus carpio) dengan Koi Herper Virus. Ikan kontrol yang digunakan pada kegiatan uji tantang ini adalah ikan mas yang berstatus MHC⁻ dari keturunan yang sama. Berdasarkan kesepakatan dan saran pakar dalam kegiatan Broodstock Center, maka kegiatan verifikasi ikan-ikan MHC+ difokuskan pada pasangan basa 300 saja.

Hasil dan Pembahasan

Produksi calon induk F2 MHC⁺ dilakukan dengan memijahkan induk F1 MHC⁺ >< F1 MHC⁺. Benih yang diperoleh dipelihara hingga mencapai ukuran calon induk dengan mengacu pada Protokol perbanyakan dan produksi calon induk ikan mas.

Sementara hasil verifikasi alel Cyca-DAB1*05  terhadap benih F2 MHC⁺, menunjukkan hasil bahwa sebanyak 83,33% dari total populasi ikan F2 terverifikasi  membawa gen MHC. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih ada peluang ditemukannya individu negatif MHC dari persilangan induk MHC+ yang digunakan.  Persentase MHC⁺ tersebut menunjukkan bahwa pada keturunan F2 terdapat peningkatan jumlah individu teridentifikasi MHC⁺ dibandingkan dengan  keturunan pertamanya (41-52,3%). Ilustrasi hasil elektrofotogram analisa alel Cyca-DAB1*05 disajikan pada Gambar berikut.

Diagram elektrofotogram hasil analisa alel Cyca-DAB 105 populasi ikan mas Majalaya F2

Elektrofotogram hasil analisa alel Cyca-DAB1*05 pada populasi F2 Majalaya MHC⁺.

Pertumbuhan calon induk ikan mas F2 MHC+ yang dipelihara di dalam hapa dan akumulasi perolehan jumlah calon induk pada setiap bulannya sepanjang tahun 2012 teramati melalui kegiatan sampling bobot rataan dan analisa yang dilakukan setiap bulan dan diilustrasikan pada Gambar di bawah ini. Yang dimaksud dengan akumulasi, adalah bahwa calon induk tersebut mengalami penambahan setiap bulan sebagai hasil dari kegiatan verifikasi alel.

Pertumbuhan calon induk Majalaya F2 MHC tahun 2012

Akumulasi jumlah calon induk Majalaya F2 MHC tahun 2012

Kegiatan uji tantang terhadap bakteri Aeromonas hydrophila dan Koi herpes virus dilakukan untuk mengetahui daya tahan ikan mas F2 MHC⁺. Hasil uji tantang tersebut dapat dilihat pada Gambar 3. Uji tantang terhadap  bakteri Aeromonas hydrophila menunjukkan bahwa ikan F2 MHC⁺ secara signifikan lebih tahan (74.44%) terhadap serangan bakteri Aeromonas hydrophila dibandingkan ikan kontrolnya/non MHC (21.11%). Sementara uji tantang terhadap Koi herpes virus menunjukkan bahwa ikan F2 MHC⁺ (67.78%) relatif sedikit lebih tahan terhadap serangan Koi herpes virus dibandingkan ikan kontrolnya/non MHC (61.11%).

Kelangsungan hidup hasil uji tantang dengan Aeromonas hydrophila

Kelangsungan hidup hasil uji tantang dengan KHV

Kesimpulan

  1. Kegiatan produksi calon induk F2 MHC+ strain Majalaya memberikan informasi peningkatan persentase ikan yang teridentifikasi positif MHC (83,33%) dibandingkan pada tetuanya (F1).
  2. Pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, daya tahan terhadap bakteri Aeromonas hydrophila dan Koi herpes virus pada ikan mas F2 MHC⁺ juga relative lebih tinggi dibanding kontrolnya.

 

PUSTAKA

Bentsen, H.B., and Olesen, I.  2002.  Designing Aquaculture Mass Selection Programs to Avoid High Inbreeding Rates.  Aquaculture 204 (349-359).

Maskur, A. Sucipto. 2008. Present status of common Carp Genetics and Breeding at Main Center for Freshwater Aquaculture Development, Sukabumi. Presented in Consultation meeting on Establishment of a Consortium on common carp genetics and breeding, 3-4 December 2008, Ho Chi Minh City, Vietnam

Ødegård, J., I. Olesen, P. Dixon, Z. Jeney, H-M. Nielsen, K. Way, C. Joiner, G. Jeney, L. Ardó, A. Rónyai, and B. Gjerde. 2010. Genetic analysis of common carp (Cyprinus carpio) strains. II: Resistance to koi herpesvirus and Aeromonas hydrophila and their relationship with pond survival, Aquaculture (2010), doi:10.1016/j.aquaculture.2010.03.017

Rakus KL. 2008. Major histocompatibility (MH) polymorphism of common carp link with disease resistance. PhD Thesis. Cell Biology and Immunology Group, Wageningen Institute of Animal Sciences, Wageningen University. Netherlands.

Tave, D. 1995. Selection Breeding Programmes for Medium-Sized Fish Farms. FAO Fisheries Technical Paper. No. 352. Rome. 122 p.

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button