Akuakultur

Konsep Pengembangan Perikanan Budidaya

Konsep Pengembangan Perikanan Budidaya merupakan salah tulisan lama saya. Kalau tidak salah November 9, 2002 at 12:43pm. Tulisan sederhana ini atas permintaan kawan saya melalui pertanyaannya tentang apa konsep saya untuk pengembangan perikanan budidaya di Indonesia.

PENDAHULUAN

Salah satu tantangan bagi bangsa Indonesia dalam memasuki era pasar bebas adalah mencari alternatif sumber daya yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sumber daya perairan tawar, pesisir dan lautan merupakan alternatif yang menjanjikan mengingat Indonesia memiliki wilayah perairan yang cukup luas. Wilayah perairan pantai dan lautnya membentang seluas 5,8 juta km2 dan mencakup 2/3 dari luas Indonesia secara keseluruhan.

Hingga saat ini produksi ikan di Indonesia didominasi oleh hasil tangkapan. Namun dengan adanya perkembangan populasi penduduk dunia, era globalisasi dan adanya batasan Maximum Sustainable Yield (MSY), maka muara dari semua kemungkinan pemecahannya adalah budidaya.

Potensi Indonesia untuk mengembangkan budidaya ikan sangat besar tidak hanya karena ketersediaan lahan yang luas tetapi juga karena dukungan banyaknya jenis ikan, SDM dan peluang pasar yang besar baik di dalam negeri maupun luar negeri. Orientasi dalam pengembangannya dapat diarahkan secara aquabisnis, ramah lingkungan dan berhati nurani. Orientasi bisnis mutlak diterapkan karena dalam setiap kegiatan usaha produksi ada inputan “nilai” dalam setiap prosesnya. Ramah lingkungan karena lahan budidaya yang ada tidak hanya milik generasi sekarang tetapi juga generasi mendatang ibarat menurunnya genotipe dari tetua kepada turunannya. Dan berhati nurani, karena perikanan budidaya sepanjang proses produksi dari hilir ke hulu berada dalam suatu kawasan yang banyak sekali faktor lingkungan yang mempengaruhi dan terpengaruhi. Dengan demikian pengembangan perikanan budidaya mesti dilihat secara holistik baik dari segi kelembagaan, biologis, reproduksi, ekologi, alur proses produksi dan sosiokultural.

KONSEP

Kelembagaan

Saat ini banyak lembaga yang terkait dengan permasalahan perikanan, baik lembaga pemerintah maupun swasta. Lembaga pemerintah dengan segala tugas pokok dan fungsinya telah diatur menurut aturan kepemerintahan. Demikian juga dengan lembaga swasta (ada yang berupa perusahaan, ada juga yang berupa kelompok pembudidaya), pengaturannya biasanya secara manajerial perusahaan atau keputusan kelompok.

Secara kelembagaan pemerintah telah mengatur alur desiminasi induk dan benih mulai dari induk penjenis, induk dasar, induk pokok dan benih sebar. Pelaksanaan alur tersebut saat ini terkesan tidak taat azaz, terkotak-kotak dan tumpang tindih apatah lagi dengan pengawasan terhadap usaha para petani (UPR) yang disinyalir sebagai penyuplai 80% benih ikan di tanah air.

Secara kelembagaan, beberapa konsep yang dapat dikembangkan antara lain (1) reorganisasi secara kelembagaan yang mampu membaca, melihat, mendengar, mengantisipasi dan menjawab perubahan dalam era pasar bebas, (2) penyederhaan alur desiminasi induk dan benih yang secara langsung terkait pula dengan lembaga yang menghasilkan induk dan benih tersebut, (3) program peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), (4) mengembangkan dan melengkapi sarana laboratorium, (5) adanya lembaga khusus yang menangani lingkungan perairan pantai dan laut terutama dalam penanganan pencemaran dan keamanan biota dari penangkap liar (misalnya polisi air), (6) adanya lembaga yang berfungsi dalam kegiatan pengawasan pola produksi, kualitas inputan, kualitas produk (baik segar maupun olahan) dan pemasaran, (7) adanya jaringan informasi, dan (8) data base dari semua kegiatan dan hasil. Dan secara khusus lembaga pengawasan dapat pula difungsikan dalam mengawasi adanya kelainan di masyarakat baik yang berkaitan dengan genetik, penyakit, kualitas air dll. Sehingga dapat secara dini dan segera mendiagnosa, mengeliminir dan mengatasi permasalahan tersebut.

Biologis

Ikan merupakan salah satu faktor pembatas dalam budidaya. Keberadaannya baik secara kualitas, kuantitas dan kontinyuitas tidak saja menentukan dapat tidaknya usaha perikanan berjalan tetapi juga produktivitas, kualitas dan daya saing dalam pasar global.

Daya saing dapat ditingkatkan dengan menerapkan pola 7 tepat, yakni 1) jenis (spesies/varietas), 2) jumlah, 3) mutu, 4) ukuran, 5) waktu, 6) tempat dan 7) harga. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE) dan Kanada telah mensyaratkan agar negara-negara pengekspor menerapkan program manajemen mutu berdasarkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Points) sehingga ada jaminan mutu bahwa produk tersebut aman dikonsumsi (food safety), layak mutunya dalam arti keutuhan dan hygienis (wholesomenes) dan tidak merugikan konsumen (economic fraud).

Untuk tujuan peningkatan kualitas secara genetik, pengkayaan jenis, pelestarian biodeversiti dan domestikasi, maka beberapa lembaga terkait dapat dilibatkan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan. Beberapa spesies memang telah cukup maju dalam rekayasa genetika mulai dari seleksi, ginogenesis, androgenesis, hibridisasi, sex reversal dan poliploidisasi atau yang sedang hangat diperbincangkan di Indonesia adalah tranfer gen. Terlepas dari semua itu masih banyak lagi tugas yang menuntut kerja keras, keuletan, terprogram dan berkesinambungan. Dan disadari atau tidak untuk tugas ini kita masih berada dalam tahap sama-sama bekerja, belum bekerja sama.

Ekologis

Konsep budidaya ramah lingkungan telah banyak disampaikan melalui seminar, workshop dan antara lain oleh Direktorat Jenderal Perikanan sebelum menjadi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Lembaga Penelitian maupun Perguruan tinggi. Konsep tersebut bahkan telah menjamah sampai ke tangan para praktisi budidaya.

Secara ekologi ada beberapa parameter yang berpengaruh, yakni kualitas air, kualitas tanah, kualitas pakan dan daya dukung lingkungan. Kualitas air, tanah, pakan terpadu dengan teknologi akan merupakan lingkungan bagi ikan. Dukungan lingkungan tersebut dalam interaksinya dengan genotipe akan menentukan maksimasi ekspresi gen dalam bentuk fenotipe. Dan pada akhirnya menentukan produktifitas, kualitas dan daya saing.

Perkembangan kajian ilmiah secara ekologis memang tidak sepesat rekayasa biologis. Untuk manfaat jangka panjang, konsep secara ekologis yang dapat dikembangkan adalah adanya tata ruang untuk usaha perikanan yang jelas dan berkekuatan hukum sehingga memberikan iklim usaha yang kondusif dan secara kebijakan tidak terkesan marjinal.

Alur Proses Produksi

Secara sederhana alur produksi dalam budidaya ikan bermula dari seleksi induk, pemijahan, pendederan dan pembesaran. Sebagai kegiatan aquabisnis, alur tersebut berkembang hingga pada kegiatan pasca panen baik berupa produk hidup, segar maupun olahan.

Sebagai suatu siklus, maka adanya gangguan/masalah dalam suatu tahap produksi, akan berpengaruh pada tahapan produksi lainnya. Oleh karena itu penggunaan inputan yang berkualitas dan pemilihan lokasi produksi yang tepat dapat turut membantu suksesnya usaha di sector perikanan.

Permasalahan yang sering muncul kepermukaan dalam produksi adalah rendah/menurunnya kualitas produk secara fenotipe baik pertumbuhan, kelangsungan hidup, FCR atau karakter lainnya. Secara genetik penurunan kualitas tersebut dapat disebabkan oleh 1) rendahnya kualitas induk awal yang digunakan, 2) tekanan silang dalam (inbreeding), 3) kesalahan dalam seleksi induk atau calon induk, 4) penggunaan jumlah induk yang terbatas dalam kegiatan pemijahan dan atau 5) penggunaan induk hibrida.

Acuan/standar dalam produksi yang dibuat oleh pemerintah berupa SNI (Standar Nasional Indonesia), juknis dan leaflet telah banyak membantu petani untuk meningkatkan produktifitas usahanya. Namun pemberian bimbingan dan pembelajaran serta alih teknologi masih belum bekerja secara maksimal pada setiap daerah.

Sosiokultural

Kegiatan usaha dalam perikanan budidaya umumnya berada dalam kawasan/areal yang luas dan terbuka (kecuali laboratorium dan industri produk olahan). Permasalahan yang sering muncul adalah adanya gangguan keamanan dari penduduk sekitar, persaingan tidak sehat antar petani dan atau konflik beda kepentingan dalam penggunaan air antara kolam dengan sawah/tegalan. Melalui penataan ruang/wilayah perikanan, pengawasan dan kerjasama dengan lembaga lintas sektoral, diharapkan permasalahan tersebut dapat teratasi.

Konsep lainnya yang dapat diterapkan adalah pengembangan pola kemitraan. Bentuk-bentuk kemitraan dalam suatu wilayah dapat disesuaikan dengan daerah dan atau jenis komoditas. Dengan demikian, aquabisnis melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat cepat terlaksana.

KHOTIMAH

Secara holistik, konsep pengembangan perikanan budidaya diatas selaiknya dituangkan dan disederhanakan dalam bentuk gambar dan tentu saja mulai dari penyusunan tata ruang yang konsisten untuk perikanan hingga pelaksanaannya. Namun demikian yang lebih penting lagi adalah adanya kerja sama dan kometmen atas kerja sama, antara pihak terkait sangat berarti untuk suksesnya sebuah program.

PUSTAKA

Hardjito, L. 2000. Aplikasi bioteknologi dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan. Makalah dalam seminar sehari “strategi pemanfaatan potensi sumberdaya hayati pesisir dan kelautan” di APP Bogor, 10 Juni 2000

Kamiso, H.N. 1999. Konsep system pembenihan ikan nasional. Makalah dalam seminar hasil penelitian genetika ikan di Jakarta, 8 Februari 1999.

Direktorat Jenderal Perikanan. 1995. Pengembangan perbenihan dalam Repelita VI. Makalah dalam rapat kerja teknis Direktorat Jenderal Perikanan di Sukabumi, 14-15 Juli 1995.

Direktorat Usaha dan Pengolahan Hasil. 2001. Petunjuk teknis penerapan program manajemen mutu terpadu (PMMT) berdasarkan konsepsi HACCP pada budidaya tambak. 2001.

Ramelan, S.H. 1996. Peranan perbenihan perikanan dalam menunjang peningkatan mutu dan produksi perikanan yang berorientasi agribisnis dengan pola kemitraan. Makalah pada pertemuan perumusan penelaahan dan pemanfaatan rekayasa teknologi perbenihan. Jakarta.

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button