Akuakultur

Bioteknologi genetik dalam akuakultur

Fokus bioteknologi genetic dalam akuakultur adalah meningkatkan laju pertumbuhan, tanpa mengabaikan peningkatan ketahanan terhadap penyakit dan toleransi terhadap kondisi lingkungan. Saat ini, telah banyak sumbangsih perkembangan bioteknologi dalam akuakultur yang dapat diaplikasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat pembudidaya.

Bioteknologi genetik dalam akuakultur

Penangkaran selektif atau yang dikenal dengan selective breeding, merupakan contoh bioteknologi yang telah sangat lama diterapkan. Karenanya, teknik ini dikenal pula dengan istilah a traditional animal breeding. Namun demikian, apakah se-tradisional itu? Kalau istilah tradional ini dimaknai sebagai sesuatu yang sederhana, maka saya sendiri tidaklah menanggapinya demikian. Hal ini karena, justru teknik inilah yang hingga kini masih tetap diterapkan; baik sebagai awal pelaksanaan sebuah breeding program, maupun sebagai tahap lanjutan dari bioteknologi-bioteknologi lain yang muncul belakangan. Mas, merupakan contoh ikan yang paling awal dikembangkan dengan teknik ini –ribuan tahun yang lalu— dan kemudian menyusul ikan dari golongan catfish, trout dan tilapia. Sebagai hasilnya, program-program penangkaran selektif telah mampu meningkatkan pertumbuhan ikan sebesar 5-20% per generasi pada Atlantic salmon, catfish dan tilapia. Bagaimana dengan di Indonesia? Banyak jenis ikan potensial yang dapat dikembangkan dengan teknik ini; mas, nila, lele, adalah contoh yang saat ini sedang menerapkan konsep ini. Agar hasilnya sesuai dengan harapan, maka penentuan genetic gain, trait, kelengkapan sarana-prasarana, tenaga pelaksana, dana dan jejaring kerja (termasuk penyusunan breeding program); saya pikir adalah suatu hal yang tidaklah nisbi. Dan pelaksanaanya pun seyogyanya dimulai saat ini dan terus konsisten. Sebab kalau tidak, maka ketergantungan terhadap produk luar pasti tidak terelakkan.

Manipulasi set kromosom atau chromosome-set manipulation merupakan teknik yang dapat digunakan untuk memproduksi ikan triploid. Ikan hasil modifikasi set kromosom ini memiliki banyak manfaat untuk tujuan produksi. Walaupun tidak berlaku untuk semua spesies ikan, namun ikan triploid telah diyakini mampu melakukan efisiensi energi pada beberapa ikan budidaya. Dari tinjauan perkembangan gonosom, beberapa produk perikanan yang triploid bahkan mengalami steril hingga mendekati 100%.

Dalam akuakultur, suatu jenis kelamin seringkali lebih dikehendaki dibandingkan dengan jenis kelamin yang lain. Sebagai contoh, betina sturgeon dapat dimanfaatkan untuk memproduksi caviar, nila jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan betina dan betina trout dan salmon secara umum tumbuh lebih cepat dibandingkan jantan. Adanya realita sexual dimorphism ini tentu saja karunia Allah yang dapat ditindak lanjuti dengan kegiatan manipulasi pada tahap perkembangan gamet dan embrio. Manipulasi yang saya maksudkan adalah dengan teknik denaturasi DNA dalam gamet melalui manipulasi set kromosom atau dengan teknik sex reversal yang kemudian diikuti dengan penangkaran/breeding. Penerapan teknik hormonal ini mampu mengubah phenotype kelamin (fisik) pada beberapa spesies akuatik. Sebagai contoh, jantan nila dapat diarahkan menjadi betina secara fisik melalui penggunaan estrogen. Maka ”lahirlah” ikan nila yang secara genetik jantan, namun secara fisik adalah betina. Dan ikan ini dapat dipijahkan dengan betina normal untuk menghasilkan populasi all-male yang tumbuh lebih cepat dan sangat memungkinkan untuk terhindar dari pemijahan ’liar’ (seperti yang sering terjadi pada populasi campuran. Bahkan jika telah memiliki populasi jantan yang memiliki dua kromosom jantan (misalnya YY), maka populasi ini dapat dimanfaatkan untuk memproduksi generasi all-male tanpa menggunakan hormon lagi. Dan saya pikir, populasi inilah yang sangat dibutuhkan oleh para pembudidaya di tanah air (walaupun tentu saja masih sangat perlu kajian lebih lanjut; terutama karena seringkali, para pembudidaya di negeri ini masih kurang taat azas dan suka bikin aturan main sendiri). Lebih detail tentang masalah ini pada ikan nila, telah saya bahas dalam tulisan tentang breeding program produksi nila jantan.

Hibridisasi adalah contoh teknologi genetic yang sederhana. Meningkatnya pemahaman bahwa sinyal lingkungan seperti panjang siang (bagi negara dengan empat musim), suhu atau arus air dapat memainkan peran dalam reproduksi ikan, maka semakin terasa penting untuk melakukan breeding program. Anda pasti masih ingat bahwa Bangkok adalah sebuah kota di Thailand. Namun bagaimana dengan jambu, nila, pepaya atau patin bangkok? Ini masalah opini… Boleh jadi, bahwa tidak semua dari empat komoditas yang saya sebutkan ini dihasilkan di Bangkok. Boleh jadi komoditas itu dihasilkan di kota lainnya kan? Lalu bagaimana dengan produk perikanan Indonesia? Tidak ada ke-khasan di tanah ini. Negeri yang sebenarnya memiliki 13 jenis patin local; jauh lebih banyak dibandingkan Thailand yang hanya punya 3 jenis atau Malaysia yang punya 10 jenis. Negeri ini kaya, namun seperti belum siap untuk mengelola semua potensi yang dimilikinya. Maka jadilah kita sebuah negeri yang penuh potensi, sehingga tak ayal bahwa yang memanfaatkannya adalah negara lain. Anda pasti sepaham, bahwa air yang tenang pasti mengandung energi potensial; maka energi potensial itu dapat menjelma menjadi energi mekanik kalau ia dimanfaatkan… Ia bergerak…, dan negeri ini pun harus bergerak!

Seiring dengan perjalanan sang waktu, maka rekayasa genetic pun berkembang. Kita kemudian mengenal istilah GMO (genetically modified organism), istilah yang lebih dekat dengan sinonim gene transfer (misalnya, produksi ikan transgenik). Teknologi ini berkembang dengan cepat, banyak negara telah ambil bagian untuk melakukan dan mengembangkan teknologi ini. Bagi Indonesia? Indonesia pun tidak luput dari andil ini. Beberapa peneliti telah dengan tekun mendalaminya. Namun demikian, perkembangan ilmu ini patut pula jika diimbangi dengan aturan main atau bagaimana bentuk regulasinya. Saya cuma ingin menuliskan beberapa kata, sebagai penutup “GMO: how to regulate it wisely?”

Ikan transgenik
Ikan transgenik
Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button