AkuakulturAplikasiTech
Trending

Akuakultur Indonesia memperkenalkan teknologi bioflok 651

PENDAHULUAN

Kawan-kawan sekalian, kini saatnya barangkali saya harus sampaikan tentang teknologi bioflok 651 dalam akuakultur. Dalam beberapa momen ke depan bioflok ini seyogyanya distandarkan penggunaannya di Indonesia sehingga dimasukkan menjadi Standar Nasional Indonesia. Apakah itu untuk ikan nila sehingga menjadi Standar Nasional Indonesia budidaya ikan nila atau pembesaran ikan nila sistem bioflok. Saya menggunakan kata sistem atau boleh juga Standar Nasional Indonesia budidaya ikan nila dengan teknologi bioflok. Saya menggunakan teknologi dalam nama bioflok ini. Jadi bioflok itu bisa kita kenal, kita masukkan, kita sebutkan sebagai sebuah bentuk teknologi. Tapi bioflok juga bisa kita masukkan, kita sebutkan sebagai sebuah bentuk sistem budidaya. Dua-duanya betul. Nah harapan saya ke depan juga, standarisasi yang digunakan nanti itu bisa digunakan secara luas oleh masyarakat.

Saya memandang perlu adanya pembahasan kembali tentang teknologi bioflok ini atau sistem budidaya dengan bioflok ini kepada masyarakat secara detil. Karena kalau paparan tentang teknologi bioflok ini disampaikan secara cepat itu setidaknya perlu waktu sekitar tiga jam. Jadi kebayang kalo temen-temen tatkala mungkin dalam beberapa acara pelatihan dikasih waktu cuman dua jam, ya kebayang bahwa materinya betul-betul padat. Sehingga saya tidak menyangsikan bahwa teman-teman penerima ujaran narasi yang saya sampaikan itu di 1 dan 2 jam pertama itu biasanya agak kebingungan. Karena justru di situlah saya memberikan kerangka, hal-hal mendasar tentang teknologi bioflok ini. Sehingga minimal setidaknya durasi untuk pelatihan itu kalau hanya sekedar teori itu sekitar 3 jam. Nah manakala ingin mendapatkan penjelasan detail rinci itu setidaknya perlu waktu 6-8 jam. Kalau sampai 8 jam biasanya itu ada diskusi. Nah manakala ingin mendapatkan sampai kepada praktek, ya tentu saja lebih dari delapan jam. Itulah makna kenapa dalam beberapa kali penyampaian saya bahwa kalau ingin hal-hal mendasar yang diharapkan diketahui oleh kawan-kawan pembudidaya ataupun pembelajar tentang teknologi ini seyogyanya waktunya minimal 3 jam. Itupun baru sebatas rangka-rangka atau filosofi hal-hal dasar berkenaan dengan teknologi ini.

PENJELASAN TENTANG JUDUL ARTIKEL

Berdasarkan judul ini, teknologi bioflok 651 dalam akuakultur, saya ingin menyampaikan item demi item, kata demi kata, karena setiap penggunaan kata itu pasti ada maknanya. Ada hal yang ingin disampaikan seperti itu. Secara umum teknologi ini didefinisikan beragam, beragam sekali. Karena setiap orang boleh jadi, boleh saja itu memiliki pandangan sendiri tentang apa yang disebut dengan teknologi. Di internet misalnya, kalau anda sempat Googling akan begitu banyak definisi yang disampaikan oleh orang yang berbeda untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan teknologi. Sebut saja sederhananya dalam pikiran saya karena pikiran saya itu sering saya sampaikan seorang laki-laki sederhana dengan pikiran sederhana. Intinya, dalam beberapa kali ujaran saya di Youtube channel Adi Sucipto ini (sekarang di muat di channel Akuakultur Indonesia), saya hanya ingin memberikan hal-hal substantif sebenarnya, hal-hal pokok tentang sebuah objek atau sebuah subjek. Kenapa objek dan subjek ini penting? Karena bagi sebagian besar kawan-kawan memandang ikan itu adalah objek, seakan-akan dialah penderita. Kalau buat Sucipto, ikan itu adalah subjek, kita malah yang jadi objek. Jadi manusia itu malah yang menjadi objek, kenapa? Ya bagaimana tidak, kalau kita mau memelihara ikan itu berarti kita sendiri sebagai manusia ini justru yang harus melayani si ikan. Sehingga subjeknya justru adalah ikan. Demikian juga dengan tatkala kita ingin membudidayakan cacing misalnya atau maggot; cacing dan maggot itulah subjeknya, kita adalah obyeknya karena kita yang memberi makan, melayani dia, kualitas airnya seperti apa, kemudian kalau sakit ciri-ciri sakit seperti apa, kemudian kita obati, berarti kita ini adalah objek. Sementara si ikan adalah subjek dimana diharapkan produktivitasnya dalam kegiatan produksi atau budidaya kita.

Nah berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, teknologi itu memiliki arti metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis, dikenal juga dengan ilmu pengetahuan terapan. Atau yang kedua, keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Itu menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia. Secara sederhananya kalau versi saya adalah bahwa teknologi itu adalah sebuah bentuk proses untuk meningkatkan nilai tambah, itu saja. Jadi kalau dalam sebuah proses budidaya misalnya, ada nilai tambah yang kita harapkan, ini nanti ada hubungannya dengan definisi akuakultur yang disampaikan oleh Sucipto pada tahun 2007, Sucipto itu saya sendiri pasti manusia melakukan kegiatan di setiap hari kegiatannya atau setiap aktivitasnya pasti berharap nilai tambah ada ungkitan atau leverage yang diharapkan atau daya ungkit level situ daya ungkit yang diharapkan terjadi di proses itu itu makna dari teknologi. Kemudian di judul ini pun selain teknologi saya juga menyampaikan bioflok 651, terus berikutnya kan dalam akuakultur. Jadi seperti apa sebenarnya bioflok 651 itu, karena saya di beberapa kali mengunjungi YouTube masih banyak yang menanyakan apa sih Pak bioflok 651 itu? Apakah itu nama kelompok pembudidaya katanya, begitu. Tidak salah, karena mungkin mereka atau kawan-kawan belum menemukan definisi dari 651 itu karena bioflok 651 itu dalam hal ini 651 itu adalah sebentuk angka enam lima dan satu. Mari kita jelaskan apa itu bioflok 651.

LATAR BELAKANG PENGGUNAAN NAMA BIOFLOK 651

Kalau saya coba flashback ke belakang, perjalanan teknologi bioflok di Indonesia khususnya, terlebih lagi perkembangannya di dunia maya, sosial media begitu, itu saya amati tahun 2015. Luar biasa Youtube eh Youtube masih agak sepi. Yang luar biasa itu justru di Facebook, itu grup-grup yang ada di Facebook itu begitu antusias membahas tentang bioflok ini sebagai sebuah bentuk teknologi ataupun sebagai sebuah bentuk sistem budidaya. 2016 demikian juga, masih lumayan pesat sehingga di lapangan saya juga mengamati bagaimana perkembangan budidaya khususnya lele. Jadi pada saat 2015-16 itu budidaya lele itu demikian pesatnya yang menggunakan istilah bioflok. Lambat laun saya juga mengamati, menyadari akhirnya, bahwa yang dimaksud dengan bioflok itu kesannya adalah bak bulat. Jadi semua bentuk pemeliharaan ikan yang dilakukan di bak bulat itu adalah bioflok, khususnya lele kan begitu ya. Dari kenyataan itu, saya sendiri kemudian menjadi miris, terus terang miris. Kenapa? Karena bak bulat atau kalau bahasa Inggrisnya circular tank itu hanya sebuah bentuk wadah, wadah pemeliharaan ikan atau wadah budidaya, tidak mencerminkan secara otomatis bahwa bak bulat itu adalah bioflok. Ini adalah pemahaman yang sesat atau menyesatkan. Terlebih lagi secara filosofi makna wadah itu pun salah. Apa yang salah? Mari kita telusuri.

Menurut Sucipto 2009, sebuah wadah yang dibangun, wadah air ya, sebuah wadah air yang dibangun di atas tanah menurut Sucipto itu adalah bak, terlepas dari apakah bahan penyusun dari wadah tersebut atau bak tersebut. Apakah mau dari terpal, mau dari semen, mau dari susunan bata, mau dari fiberglass, mau dari kaca. Pokoknya dia dibangun di atas tanah, itu adalah bak. Sehingga dalam keseharian barangkali kawan-kawan eh di rumah masing-masing ada tandon air, dipompa dari sumur, dipakai untuk menampung air kemudian dialirkan ke rumah masing-masing sehingga kita sebut sebagai tandon atau bak tandon. Demikian juga dengan bak yang ada di kamar kecil kita. Kenapa disebut bak, enggak disebut kolam, karena dibangun di atas tanah, di atas pondasi tanah. Dalam ilmu pond engineering atau rekayasa wadah berupa kolam, alhamdulillah saya sempat menjadi asisten juga di mata kuliah pond engineering sehingga saya hobi untuk bidang ini, secara umum yang dibangun di atas tanah itu kita sebut bak termasuk bak bulat yang sehari-hari kita lihat ,di keseharian ya oleh kawan-kawan sekalian dan mungkin sudah banyak itu dirumah masing-masing Nah kalau wadah air itu dibangun di tanah dengan cara menggalinya apakah bak bulat itu digali dulu kemudian dimasukkan ke sana sehingga sebagian besar dari wiremesh atau besi yang dibuat melingkar itu digali dimasukkan ke sana itu akan menjadi kolam. Apakah mau kolam tembok, apakah mau kolam terpal, kalau terpalnya dibangun dimasukkan ke dalam tanah dan harus digali dulu prosesnya itu disebut kolam. Tapi kalau bak terpal itu dibangun di atas tanah, wadah terpal itu maka itu adalah bak. Itu secara definisi saja banyak yang salah, secara filosofi. Kemudian kalau tambak bagaimana pak? Tambak itu sebenarnya bentuk lain dari kolam, karena tambak itu kan harus digali. begitu ya. Cuman wadahnya spesifik kepada pemeliharaan di payau biasanya. itu disebut tambak. Itu filosofi dari wadah sehingga penjelasan ini saya harapkan detil dan memberikan ruang informasi baru, memberikan informasi baru seputar filosofi tentang wadah untuk ikan, baik itu budidaya maupun di pembenihan.

Nah sekarang kita kembali kepada apa itu bioflok 651. Kalau saya coba lanjutkan tentang perkembangan teknologi bioflok di Indonesia sejak 2015, saya mengamati adanya penurunan eh penurunan geliatnya pada 2017. Basic saya secara umum dikenal orang itu sebagai seseorang yang menggeluti genetika, genetika ikan termasuk breedingnya atau breeding and genetics ya gitu ya. Karena sejak awal saya bekerja, pendalaman saya adalah ke bidang reproduksi dan genetika. Di beberapa kesempatan saya barangkali sudah sampaikan genetika ikan itu seperti apa ruang lingkupnya, mungkin sudah ada video khusus yang saya sampaikan. Dan barangkali teman-teman masih sempet kebingungan disana karena memang itu adalah bagi sebagian orang dianggap disebut sebagai ilmu sederhana, tapi bagi sebagian orang yang lain sebagian besar barang kali itu dianggap disebut sebagai wah ilmu rumit itu Pak, saya jadi pening katannya. Padahal kalau pikiran atau otak kita disiapkan untuk menerima saja dulu, pasti kepentingan itu sebenarnya tidak akan terlalu terasa gitu ya. Nah 2017 itu saya melihat kegiatan budidaya dengan bioflok dengan segala permasalahannya, ya termasuk permasalahan bahwa bak bulat itu bioflok sehingga pemahaman bak bulat itulah bioflok, itu bukan hanya sekedar menjalar menjangkiti teman-teman di bawah, teman-teman di lapangan definisi bahwa bak bulat itu bioflok itu sebenarnya terasa sampai kepada anggota dewan, DPR barangkali ya. Sehingga tatkala itu menjadi sebuah program nasional, pemahamannya pun sampai salah sampai di level itu. Sehingga pokoknya kalau sudah bak bulat, bantuan pemerintah berupa bak bulat, itulah bioflok. Lah kan kacau kalau sudah begini. Lah kan kacau kalau sudah begini. Nah di 2017 itu, seiring dengan merosotnya kegiatan bioflok kawan-kawan di lapangan tentu saja saya menanggapinya, loh kok bisa begini? Apakah bioflok saat itu dipandang sebagai sebuah teknologi itu belum establish, establish secara teknik budidaya atau pemeliharaannya atau establish secara teknologinya. Kalau dia belum establish dipaksakan tentu saja di lapangan pasti ya akan terjadi ya seperti itu gitu ya. Jadi saya memperkenalkan istilah bioflok 651 itu didasari kepada karena kemudian di 2017 itu saya diminta oleh pimpinan untuk melakukan riset dalam konteks luasnya atau perekayasaan dalam konteks sempit, karena saya adalah engineer atau perekayasa. Alhamdulillah, saya adalah senior di kegiatan perekayasaan. Jadi saya terus terang menggunakan waktu sekitar dua minggu dan ini sudah pernah saya juga beberapa kali bahas. Dua minggu untuk apa? Dua minggu hanya sekedar, apa sebenarnya bioflok itu, mempertanyakan Apa itu bioflok.

Untuk mendapatkan jawabannya, saya kan harus juga cari informasi seperti apa sebenarnya bioflok itu atau teknologi budidaya dengan bioflok ini sampai kepada sebuah barangkali disebut dengan klimaks saya teringat dengan sebuah konsepsi yang saya bukan buat karena yang membuat itu gusti Allah. Saya teringat adanya sebuah pemikiran saya tahun 2011 tentang makna maa huwal Iman, maa huwal Islam dan maa huwal Ihsan.

Kenapa saya tertarik? Tertariknya seperti ini. Di satu momentum atau kesempatan malaikat mempertanyakan tiga pertanyaan maa huwal Iman, maa huwal Islam dan maa huwal Ihsan itu kepada Rasulullah dan kemudian membenarkannya setelah Rasulullah menjawabnya. Kenapa menarik? Karena tiga pertanyaan dilontarkan pada satu kesempatan yang sama dan dijawab tuntas saat itu. Itu yang menggelitik pikiran saya saat itu. Kemudian saya perdalam menjadi 651, dari pertanyaan maa huwal Iman, maa huwal Islam dan maa huwal Ihsan, wah luar biasa saya bilang. Kalau enam itu menjadi pondasi artinya keyakinan itu menjadi pondasi dalam semua aktivitas kemudian aktivitasnya pun ada tuntunannya, kemudian berharap apa sebenarnya ihsan itu. Ihsan itu kan dalam beberapa kesempatan sering dinyatakan bahwa Allah itu sebenarnya mewajibkan Ihsan atas segala sesuatu sesuai dengan misalnya Innallaha katabal Ihsan ‘ala kulli syai-in. Kan begitu ya. Jadi rupaya Allah mewajibkan Ihsan atas segala sesuatu. Kalau dimaknai ihsan itu sendiri, makna saya saat itu adalah wah ini bentuk profesional berarti karena makna dari Ihsan itu sendirian begini al-ihsanu huwa anta’budallah ka annaka tarahu fa illam takun tarahu fainahu yaraka. Kan begitu ya. Saya memaknai itu justru inilah bentuk profesionalisme sebagai seorang yang telah melakukan Islamnya. Atas dasar apa Islamnya? Atas dasar iman tadi, sehingga saya memasukkan angka 651 itu ke dalam bioflok 651. Gitu, itu awal ceritanya seperti itu dalam kehidupan sehari-hari wabil khusus, khususnya pada bioflok.

Jadi bioflok 651 itu adalah suatu istilah cara budidaya ikan menggunakan teknologi bioflok atau dipelihara dengan sistem bioflok yang didasarkan kepada keyakinan kemudian praktek dan menjadi profesional dia di sana. Keyakinan itu atas dasar enam tadi kan, kemudian praktek yang lima tadi, kemudian profesional yang satu tadi itu. Jadi keyakinan, praktek dan profesionalisme ini kemudian saya adaptasikan dari mana dari rukun Iman dari rukun Islam dan ihsan. Itu makna dari apa itu bioflok 651.

PENJELASAN KONSEP 651 DALAM TEKNOLOGI BIOFLOK

Pertanyaan berikutnya barangkali mengapa 651 pak katanya. Kan begitu. Jadi begini kawan-kawan, munculnya berbagai kegagalan dalam bioflok khususnya lele dalam perjalanan waktunya tentu saja kan tadi sudah saya sampaikan, itu menyisakan sebuah pertanyaan besar ke saya kenapa kok bisa gagal seperti itu. Apakah pondasi dari keilmuannya belum mumpuni, belum establish secara teknologi atau seperti apa. Saya sangat yakin bahwa metode apapun untuk bisa dia establish dilakukan, diterapkan tentu saja banyak hal informasi yang diperlukan untuk membangun pondasi dari sebuah metode itu. Ini bisa jadi berasal dari literatur atau dari analisis. Jadi kalau literatur itu tersaji, literatur itu bisa juga dianalisis, entah dianalisis dari siapa yang mengeluarkan literatur itu, dimana dia dilakukan, ada kesamaan enggak dengan lingkungan kita dan seterusnya, banyak pertanyaan. Jadi mengapa 651, tentu saja saya ingin memberikan pondasi juga kepada kawan-kawan yang ingin menerapkan bioflok ini, itu bahwa sebelum menerapkan bioflok diharapkan teman-teman itu yakin dulu. Yakin atas dasar apa? Atas dasar ilmu. Jadi kalau teman-teman ingin menerapkan bioflok, menerapkan teknologi bioflok hendaknya teman-teman itu punya dasar ilmunya dulu, begitu ya. Karena itu adalah hakekat dari keimanan, keyakinan. Jadi kalau melakukan shalat 5 waktu saja misalnya ya, tapi dia tidak beriman kepada Tuhan misalnya, terus shalatnya ada nilainya enggak? Kan begitu sederhananya. Jadi lima itu atau praktek itu sebenarnya adalah pembuktian atas atas keyakinannya. Jadi praktek keseharian kita dalam bioflok pun adalah pembuktian atas dasar keyakinan atas sesaat ilmu tadi, ilmu yang diperoleh untuk memunculkan keyakinan tentang bioflok ini, itu dipraktekkan. Begitu keyakinan atas dasar ilmu sudah terbentuk, maka berikutnya pasti kawan-kawan ingin mempraktekkannya dalam keseharian, bioflok ini. Dan kawan-kawan kan pasti tahu bahwa iman itu ada rukun-rukunnya; Islam itupun ada rukun-rukunnya. Ada hal-hal khusus yang mendasari atau membentuk rukun Iman itu dan membentuk rukun Islam itu; begitu kan ya. Ah terus Ihsan itu makna selain profesional apa sebenarnya? Jadi kalau Allah saja inallaha katabal ihsana ‘la kulli syai-in, maka bentuk profesional seseorang dalam bioflok, dalam akuakultur atau dalam hal apapun adalah baik maknanya. Ihsan itukan baik. Baik dalam hal apa? Baik dalam hal memperlakukan ikannya.

Dapat mananya? Mudah-mudahan dapet. Jadi tatkala seseorang itu beriman, yakin kemudian praktek budidaya kan bukan hanya sekedar gugur kewajiban. Pokoknya sudah kasih makan ikannya kan begitu. Jangan sampai begitu kan. Apakah ikannya kemudian merespon seperti apa, mungkin tingkah lakunya ada kelainan, ah biarin saja jangan seperti itu harapannya dalam keseharian itu dalam keseharian itu kawan-kawan pembudidaya ini dalam menjalankan lima rukun tadi, rukun dari yang lima tadi ini tentu saja diharapkan kan dia menyelami apa yang dia perbuat di dalam konteks ibadah misalnya dia seseorang itu menjadi tenggelam dalam lautan mukasyafah, gitu kan ya. Jadi teman-teman yang memelihara ikan misalnya sedang asyik memberi makan ikan seperti dia tenggelam bagaimana dirinya seperti layaknya ikan, begitu mananya. Luar biasanya hati antar hati, memangnya ikan nggak punya hati, punya kan. Dia juga punya insting, dia juga punya animal instinc, hal-hal dasar yang diberikan Tuhan kepadanya. Sehingga kalau perlakuan kawan-kawan itu baik tentu saja ikan akan berespon baik, kan begitu. Nah seperti itu. Kemudian siapa yang menerapkan 651 itu dan dimana. Nah, jadi 651 itu adalah konsep umum dalam semua kehidupan, jadi tidak khusus secara serta-merta bahwa gara-gara 651 itu saya pakai dalam bioflok, nama bioflok dibagian akhir jadi bioflok 651 tidak serta-merta bahwa 651 itu hanya cocok untuk bioflok, tidak tidak seperti itu. Jadi 651 itu sebenarnya cocok untuk semua sistem kehidupan begitu ya. Semua praktek yang nanti akan teman-teman lakukan begitu ya. Apakah teman-teman sebagai pengusaha, teman-teman sebagai praktisi, teman-teman sebagai peneliti itu dipakai. Dan kenapa harus angka yang Pak Adi sampaikan? Haha ini menarik. Teman-teman tertarik teknologi bioflok itu alasannya apa sebenarnya? Secara jujur bisa kawan-kawan jawab di comment barangkali ya. Hampir semua manusia mengejar tehnologi baru diharapkan apa, diharapkan adanya peningkatan angka produksinya. Nah, jadi saya sederhanakan yang dikejar manusia dalam kegiatan sehari-hari itu hampir semuanya hampir semuanya tidak berarti semuanya hampir semuanya itu adalah angka. Jadi kalau saya telusuri seakan-akan manusia itu diperbudak oleh angka. Seakan-akan ya maksudnya. Dalam konteks keseharian barangkali kita boleh mempertanyakan kepada siapa saja dalam sehari semalam berapa kali Anda beribadah kepada Tuhan? Dua kali pak. Yang Muslim bilang 5 kali Pak karena ada lima waktu. Dua kali pak, ya pagi dan malam, misalnya sebagian menjawab begitu. Dua enam lima kali itu apa? Angka.

Berapa rokaat siang-malam minimal seorang muslim itu melakukan shalatnya? Berapa rokaat? 17 Pak, karena dari dhuhur, ashar, maghrib, isya, subuh jumlah rokaatnya 17. 17 pun angka. Nah, terus kalau Anda misalnya di kegiatan sehari-hari punya penghasilan 2 juta, kemudian muncul informasi adanya teknologi baru dengan nilai produktivitas yang lebih tinggi; Anda pasti akan kejar itu. Harapannya apa? Salah satu hal yang ada kejar adalah mudah-mudahan dari penghasilan Anda awalnya 2 juta meningkat menjadi 5 juta menjadi 10 juta dan itu semua adalah angka. Jadi seakan-akan angka itulah akhir dari perjalanan target dia. Jadi seakan-akan sebagai final destiny. Kan begitu bos. Ah padahal itu hanya angka saja, begitu ya. Jadi kembali lagi kepada siapa yang diharapkan untuk menerapkan konsep 651 ini, wabil khusus atau khususnya di bioflok ini; ya semua manusia yang mau menerapkan bioflok, semua manusia yang mau menerapkan akuakultur, semua manusia yang mau beraktivitas di kehidupan ini. Jadi kalau aktivitasnya tidak didasari oleh keyakinan maka semua aktivitasnya itu sudah dekat dengan kegagalan. Karena dia melakukan aktivitasnya nggak yakin. Begitu aktivitasnya dilakukan atas dasar keyakinan kemudian dia menjadi profesional, utuh dia sebagai manusia. Nah khusus untuk bioflok 651 ini, kan tadi sudah saya sampaikan bahwa Iman itu ada rukunnya, Islam itu berada rukunnya kan, termasuk Ihsan itu. Nah kalau saya coba rinci rukun dari bioflok 651, makna 6 nya itu apa Pak Adi?

6 PILAR ILMU DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI BIOFLOK 651

Loh Pak Adi dulu menyatakan bahwa bioflok itu dibangun atas dasar 8 disiplin ilmu? Betul. Jadi teknologi bioflok yang kawan-kawan terima umumnya di YouTube itu, khususnya juga ada di GoNila itu, termasuk di GoTilapia yang versi bahasa Inggrisnya itu memang dari delapan disiplin ilmu. Tapi itu kalau agak detil (walaupun belum belum super detil) ya. Tapi hal-hal dasar yang bisa kawan-kawan terapkan itu setidaknya enam enam rukun. Apa itu? Satu, ilmu biologi. Biologi apa maksudnya? Biologi ikan. Jadi kalau teman-teman ingin menerapkan bioflok 651 pada ikan nila, maka setidaknya kawan-kawan harus mengenal apa itu nila, sifat biologinya seperti apa itu ikan nila, karakter biologisnya juga seperti apa itu ikan nila, begitu ya. Itulah ilmu biologi.

Kemudian untuk menerapkan bioflok 651 itu, kawan-kawan kan ada yang pakai juga misalnya dolomit, ada juga garam yang kalau itu bereaksi di air, kemudian airnya pun kemudian memberikan data berupa data kualitas air secara kimia, maka setidaknya kawan-kawan paham kemudian, oh itulah ilmu kimia air sebenarnya, yang sudah kawan-kawan terapkan meskipun ilmu yang masuk ke teman-teman itu, ke kawan-kawan itu mungkin tidak detil. Tapi pada dasarnya teman-teman sudah menerapkan konsep atau ilmu kimia, khususnya kimia air. Jadi pilar kedua adalah ilmu kimia.

Kemudian apalagi Pak Adi? Oke, yang ketiga adalah mikrobiologi. Kenapa dulu bioflok itu kok bau ya, katanya bioflok itu diterapkan untuk mengeliminir limbah atau mengolah limbah dalam sebuah sistem? Jadi kalau bau artinya berarti sistemnya tidak jalan kan begitu prinsipnya. Begitu teman-teman menggunakan bakteri yang notabene adalah organisme mikro, diterapkan di bioflok, maka sebenarnya teman-teman menerapkan apa, ilmu mikrobiologi. Itu maksudnya.

Terus, ilmu apalagi Pak Adi sebagai rukun dari enam ini? Matematika. Naaah, banyak teman-teman yang awalnya nanya, Pak saya punya bak diameter tiga berapa ya pak volume airnya? Pak, saya punya bak bulat diameter 4 berapa ya pak volume airnya? Nah, padahal mengukur volume air silinder seperti itu, bentuknya silinder, melingkar atau circular begitu ya, kan ada rumusnya. Rumus apa? Phi*R2*T. Phi adalah 3,14 dikali dengan jari-jari pangkat dua, jadi kalau diameter 3 berarti jari-jarinya kan satu setengah meter dipangkatkan saja. Kalau diameternya 4 berarti jari-jarinya 2. Berarti 2 pangkat 2. Kemudian T, T itu adalah makna dari tinggi air. Jadi kalau tinggi airnya hanya 80 cm maka diameter 4 itu 3,14 kali dua pangkat dua kali T atau 0,8. Jadi volume total dari bak diameter 4 itu kalau diisi setinggi 80 cm adalah 10 koma sekian. Anggap 10 ton. 10 ton itu sama dengan 10.000 liter, karena satu ton setara dengan satu meter kubik, setara dengan 1000 liter. Jadi kalau 10 ton = 10 m3 = 10.000 liter, begitu maknanya. Itu adalah penerapan dari ilmu matematika, karena ilmu hitungan.

Aaaah, kemudian apalagi Pak Adi yang kelima? Ilmu fisika.

Saya kira ilmu fisika kalau ditingkat SD itu dikenal dengan IPA, begitu masuk ke SMP juga masih IPA, begitu sudah masuk ke SMA atau sederajat dikenallah ilmu fisika. Begitu ya kawan-kawan. Dalam hal ini ilmu fisika itu diterapkan dalam bentuk apa Pak Adi? Coba mari kita mulai berhitung. Di ilmu fisika kita kenal ada disebut dengan daya, ada dikenal dengan tekanan, banyak sekali. Dalam konteks ini saya memasukkan ilmu fisika itu dalam perhitungan apa, perhitungan misalnya berapa tekanan udara minimal per m3. Dulu kan sempat saya masukkan 30liter 30 liter per m3, gitu ya. Kemudian diadaptasikan kembali, disederhanakan menjadi 8-10 watt per meter kubik, begitu ya maknanya, masih ingat mudah-mudahan. Itu adalah ilmu fisika, karena begitu batu aerasi kena tekanan udara dari pompa udara apakah itu hiBlow, apakah itu supercharge, apakah itu root blower dimasukkan melalui pipa, itu adalah ilmu fluida, kemudian menekan pori-pori dari aerasinya, kemudian dia mengeluarkan gelembung udara, kemudian jarak antar titik erasi satu dengan titik aerasi yang lain sehingga diharapkan tidak ada titik mati atau dead area, maka itu adalah penerapan ilmu fisika.

Terus apalagi pak Adi? Nah yang terakhir barangkali dalam konteks rukun 6 ini adalah ilmu perniagaan. Karena tidak sedikit teman-teman yang mengeluh, pak Adi saya sudah berbudaya ikan ini dengan sistem bioflok tapi saya bingung gimana menjualnya, kan begitu. Atau teman-teman yang sejak awal sudah ragu, Pak Adi gimana ya pemasarannya karena saya lihat temen-temen yang lain katanya kesulitan menjualnya. Itu adalah ilmu perniagaan. Jadi kalau teman-teman ingin berbudaya setidaknya pelajari dulu disekitar itu seperti apa kegiatan budidayanya, terus pemasarannya, jangan sampai sudah menerapkan ilmu bioflok; apakah itu dari kajian biologi, kimia, mikrobiologi, matematika, fisika kemudian tata niaganya jelek jangan; sampai terjadi, sehingga sampeyan tidak bisa menguasai ilmu penjualan, perniagaan, perdagangan.

5 PILAR PRAKTEK DALAM TEKNOLOGI BIOFLOK 651

Rukun yang lima, rukun praktek sebutnya. Rukun praktek itu kira-kira satu begini kawan-kawan. Itulah ilmu pengelolaan ikan, jadi cara ngasih makan, kemudian grading, terus tingkah laku ikannya, itu ilmu tentang pengelolaan ikan, berapa kali sehari ngasih makan, itu ilmu pengelolaan ikan. Terkait apa lima itu? Manajemen.

Kemudian yang kedua adalah ilmu pengelolaan pakan, jadi pakannya apakah mau dibibis pakannya, dosis berapa, apakah ad libitum atau apakah satiasi atau sampai kenyang dan seterusnya, itu adalah ilmu pengelolaan pakan, termasuk nutrisinya seperti apa yang bagus buat nila, nutrisinya yang bagus seperti apa untuk lele, nutrisi yang bagus seperti apa untuk ikan mas, gurame dan lain-lain. Itu adalah ilmu pengolahan pakan.

Kemudian pengelolaan air, itu adalah rukun ketiga; pengelolaan air. Jadi kalau teman-teman menggunakan atau menerapkan bioflok 651 ini maka air juga dikelola. Kapan harus ditambah sumber C, kapan ditambah sumber c dan probiotik dan seterusnya itu adalah ilmu pengeluaran air.

Yang gak kalah penting adalah rukun keempat itu adalah pengelolaan listrik. Nah kalau temen-temen punya 4 bak diameter 4 atau punya 4 bak diameter 3, pasti keduanya berbeda dalam hal kebutuhan listriknya. Jadi termasuk kalau di suatu daerah listriknya misalnya tidak stabil berarti apa yang temen-temen butuhkan disitu, mungkin trafo sehingga tegangannya tegangannya menjadi stabil dan seterusnya segala telah dengan menjadi awet tidak cepat rusak. Atau ilmu perhitungan, bagaimana mengefisiensikan dari daya listrik yang diterima masuk ke sebuah lokasi teman-teman sekalian, agar tidak banyak lost energi dari listrik itu seperti apa cara mengefisiensikannya, atau misalnya teman-teman di daerah itu masih memiliki aliran air yang debitnya besar. Kemudian bisa disetting sehingga aliran itu memiliki tekanan, dinaikkan tekanannya, dengan cara apa, ya memberikan jarak tinggi antara air di atas dan air di bawah sehingga bisa menggerakkan turbin, sehingga turbin itu bisa menggerakkan supercharge dan seterusnya sehingga inilah teknologi hydropower. Saya juga sudah sempat itu sampaikan di beberapa atau satu atau dua video terkait dengan hydropower kan. Itu adalah pemanfaatan dari energi listrik, jadi begini kawan-kawan kalau energi itu tidak dimanfaatkan boleh jadi kita menyebutnya sebagai energi potensial. Kalau hanya energi potensial yang dibanggakan tidak bergerak, statis untuk apa. Dia harus bergerak sehingga menjadi energi mekanik, energi yang menggerakkan. Apakah menggerakkan turbin. Apakah menggerakkan supercharge atau menggerakkan rootblower gitu ya. Jadi sayang kalo teman-teman di daerah memiliki potensi itu tidak dimanfaatkan bergantung kepada listrik PLN, ya sayang lah Bos.

Kemudian yang tidak adalah penting dari praktek ini adalah rukun kelima, pengelolaan panen. Begitu banyak teman-teman yang begitu selesai budidaya, pemeliharaannya tiga bulan, gagal oleh karena satu kesalahan, panennya jelek. Jadi cara panennya jelek. Sudahlah tiga bulan memelihara, siang malam sampeyan tongkrongin disitu, gagal gara-gara panen 1 jam. Ikannya rusak. Atau cara packingnya jelek, biasanya begitu ya. Ya jangan sampai begitulah. Tiga bulan gagal oleh kesalahan sekali selama satu jam kan kacau.

PILAR PROFESIONAL DALAM TEKNOLOGI BIOFLOK 651

Nah yang terakhir profesional itu, ya profesional. Makna profesional kan tahu, profesional itu artinya menguasai bidang-bidang yang enam tadi, terus menerapkan dengan konsep yang lima tadi. Itulah profesional. Kalau profesional seorang muslim tadi sudah saya sampaikan. Apa itu?

Ya dari makna ma huwal ihsan.

Al ihsanu huwa anta’budallah kaannaka tarahu fa illam takun tarahu fainnahu yaraka.

Profesionalisme seorang pekerja bisa saya sebutkan sederhananya beginilah kira-kira, mau ada pimpinan ada Bos tidak ada Bos pokoknya bekerja sesuai prosedur, sudah. Itulah profesional. Jangan sampai kita bekerja misalnya kita sebagai anak buah bekerja kalau ada bosnya, wah kenceng bekerjanya. Kalau nggak disatronin enggak dilihat bosnya ah leha-leha, santai-santai. Ya jangan begitulah, jangan sampai begitu; artinya dia bekerja tidak profesional.

PERTANYAAN SEPUTAR PENERAPAN TEKNOLOGI BIOFLOK 651

Nah kemudian beberapa pertanyaan singkat sering saya dengar. Jadi kalau sebelumnya kan ada pertanyaan siapa yang menerapkan 651? Ya siapa saja. Terus di mana menerapkannya? Ya di mana saja kalau mau menggunakan prinsip 651.

Bagaimana cara menerapkan bioflok 651? Nah gini kawan-kawan; cara menerapkan bioflok 651 itu saya terus terang sudah memberikan prosedurnya. Jadi, seyogyanya memang setiap metode itu ada prosedur dan setiap prosedur seyogyanya juga memiliki aturan tertulis berupa panduan, yang panduan itu apakah berupa angka, ada dosis dan terusnya sehingga dikenal sebagai aturan kuantitatif terukur terhitung atau hanya sekedar aturan kualitatif. Jadi sifatnya hanya sifat atau kualitas saja.

Nah kembali lagi kenapa harus kuantitatif Pak Adi dalam bioflok 651? Begini; kalau akuakultur sampai detik ini dipandang sebagai kegiatan tradisional method, cenderung pendekatannya adalah pendekatan tradisional atau tradisional approach, kacau kalau begini. Mau sampai kapan akuakultur negara kita atau di dunia ini akan maju kalau aturannya hanya sekedar kualitatif saja, tidak ada kuantitatif. Kuantitatif itu maknanya terukur. Jadi kalau teman-teman menambahkan dolomit sekian dampaknya apa, menambahkan CaCO3 atau kapur tohor misalnya dampaknya seperti apa terhadap pH, kalau menambahkan pakan sekian maka loading N yang masuk ke air itu berapa itu harus terukur. Karena sebagian besar bak, entah itu bak bulat atau bak kotak bak persegi atau kolam itu adalah closed system, tertutup. Kenapa tertutup? Karena diharapkan, apalagi dia ada atap maka sebenarnya cara budidaya yang kawan-kawan lakukan itu adalah cara budidaya di lahan tertutup, sistemnya tertutup. Begitu air masuk pada ketinggian tertentu tercapai air itu sudah dikelola, ikan yang masuk kemudian dikelola juga dengan pandangan atau pendekatan CN rasio dan seterusnya, tidak ada air yang keluar maka sistem itu tertutup disitu sehingga diharapkan bakteri yang membentuk konsorsium akan mengelola limbah limbah yang ada di dalam wadah sehingga tidak ada energi yang lepas dari sistem. Apakah energinya (berupa) seiring dengan wah buang air dasar misalnya; begitu buang air dasar maka ada sebagian lepas dari sistem. Betul amonia-N nya berkurang, ya karna dilepaskan. Tapi yang lain juga akan lepas berupa apa, konsorsiumnya juga lepas dari situ, keluar dari sistem dan seterusnya. Nah begitu maknanya.

Nah kalau akuakultur sudah diterapkan melalui pendekatan kuantitatif, terukur, jadi hasilnya pun pasti seharusnya terukur dapat berapa kita ini. FCRnya dapat berapa, SR atau kelangsungan hidup yang kita harapkan dapat berapa dan seterusnya. Itu harapannya. Kenapa saya terapkan dengan metode angka seperti ini. Sehingga akuakultur itu tidak dipandang sebagai kegiatan biasa, ini adalah kegiatan bisnis sebenarnya. Terus kapan menerapkan 651 ini? Ya kalau dalam bioflok diterapkan ya sejak sampeyan semua atau kawan-kawan semua ingin menerapkan bioflok 651. Jadi sejak awal, pra maupun selama proses produksi itu diterapkan. Pra itu termasuk persiapannya ya, ikannya harus bagus dan seterusnya. Makna sederhananya inilah pendekatan kaffah kalau menurut saya. Jadi kapan menerapkannya Pak Adi, ya semua di semua waktu. Jadi kalau sampeyan muslim misalnya ada disebut dengan muslim Kaffah.

Kalau Anda berkecimpung di bioflok maka bioflok 651 diterapkan secara Kaffah, begitu. Tidak eh misalnya di persiapan pakai metode si A, metode bioflok 651 misalnya, begitu proses menerapkan metode yang lain kan tidak kaffah namanya, mencla-mencle namanya. Terus begitu sudah trouble lari lagi ke channel Adi Sucipto. Pak Adi kok kenapa seperti ini. Padahal mencla-mencle, tidak konsisten, tidak Istiqamah. Nah begitu kawan-kawan, penjelasan dari saya berkenaan dengan satu teknologi tadi, yang kedua dengan bioflok 651. Terus masih di slide ini jadi akuakultur itu apa Pak Adi. Iya nanti ada pembahasan khusus tentang bioflok dan akuakultur ya. Eh secara sederhana memang siapapun bisa mendefinisikan atau memberikan makna tentang akuakultur, termasuk Sucipto. Jadi pada tahun 2007, Pak Sucipto itu pernah membuat definisi bahwa:

Akuakultur atau budidaya ikan adalah perwujudan cita, rasa dan karsa untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan kontinuitas organisme akuatik hasil interaksi dengan lingkungannya yang berbatas.

Itu makna dari Pak Adi Sucipto. Semoga bermanfaat sebagai awalan atau pembuka dari penyampaian saya tentang teknologi bioflok 651 atau teknologi bioflok secara khusus ini mudah-mudahan bermanfaat. Mudah-mudahan ini bernilai sebagai ibadah, walaupun barangkali sebagian kita menganggap ini adalah perbuatan atau amalan duniawi tapi saya berharap Tuhan ridha atas apa yang saya lakukan ini.

Semoga penjelasan singkat ini dapat memenuhi keingintahuan Anda tentang bioflok 651. Saya memang sudah beberapa kali menyebutkannya di chanel Youtube tentang hal ini. Tentu bahwa saya juga belajar bagaimana berbudidaya ikan, bagaimana teknologi bioflok tersebut sebelumnya dilakukan oleh orang lain sebagaimana telah saya muat tulisannya di sini, termasuk bagaimana saya mempraktekkannya dengan metode yang lama sampai akhirnya saya harus memperbaiki dan membenahi beberapa hal yang kurang pas baik secara metode maupun proseduralnya. Saya akhiri semoga teman-teman sehat di era Covid ini, jangan lupa memakai masker, cuci tangan kemudian social distancing, tetap jaga kesehatan. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Show More

Adi Sucipto

Owner of this ordinary site, author, fish engineer, founder of Global Indoaqua, and developer of android app

Related Articles

Back to top button